Tangkal Hoaks, Masyarakat Adat Gumantar Belajar Melek Media

kompas.com/fitri Lombok Utara, Kompas.com-Masyarakat Adat Desa Gumantar, mengikuti pelatihan media untuk menangkal hoax .


LOMBOK UTARA, KOMPAS.com - Puluhan masyarakat adat Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, mulai melatih diri mengambil beberapa foto dan video.

Di antara mereka bahkan belajar mewawancari sejumlah orang di Desa Adat.

“Ini adalah pelatihan yang akan membuat mereka melek media, kita ingin anak anak muda ini siap menghadapi arus berita bohong, termasuk berita yang keliru mempersepsikan mereka selaku masyarakat adat, ” kata Dwi Sudarsono, Direktur Samanta, Lembaga yang eksis mengadvokasi masyarakat Adat Dan Lingkungan, Minggu (21/1).

Sepanjang Sabtu lalu, puluhan anak anak muda di Desa Adat Gumantar ini, dilatih mengenal jurnalistik, mengenal fotografi dan video jurnalistik, mereka juga diberikan pemahaman soal kode etik jurnalistik.

Selain agar siap menjadi jurnalis warga, mereka juga melek media dan anti menyebar hoaks serta tak mudah terjebak berita berita hoaks.

“Hari ini saatnya mereka praktek sederhana, dari teori yang diberikan kawan kawan AJI Mataram, dan kami masih akan memberikan pemahaman soal media dan UU ITE pada mereka, apalagi Mentri Kominfo sudah menebar sosialisasi soal anti hoaks, masyarakat adat juga punya hak untuk itu” katanya.

(Baca juga: Generasi Muda Semarang Diingatkan agar Tak Ikut Menyebar Hoaks)

Menariknya peserta mengikuti pelatihan di sekenem, sejenis gazebo khas lombok yang ukuran lebih besar dari gazebo biasa, berukuran 3x5 meter. Sekenem biasanya digunakan untuk gundem atau rapat adat.

Mardiawan, salah seorang peserta mengaku ingin tahu banyak soal media, karena ingin menuliskan soal Wetu Telu yang selama ini salah dipersepsikan oleh masyarakat di luar masyarakat adat.

“Kami terus terang sedih ketika media media yang ada selama ini, banyak yang salah membahasakan soal Wetu Telu, nah kami ingin menuliskan sendiri dengan cara yang benar” Kata Murdiawan.

Sebagian pemuda mengaku selama ini harus menghadapi anggapan orang yang salah menghadapi kesalahfahaman soal Wete Telu.

“Mereka selalu menganggap Wetu Telu sebagai agama. Wetu Telu adalah budaya leluhur kami, kami diajarkan cara hidup dan menjaga alam,” katanya.

Sebagian peserta adalah anak anak masyarakat adat Desa Gumantar, mereka berharap melalui pelatihan media, akan dapat menuliskan berita berita baik dan meluruskan kesalahan persepsi tentang budaya wetu telu di sejumlah desa adat di Lombok Utara.

Pelatihan media di Desa Adat Gumantar akan dilanjutkan 3 bulan kedepan, dengan praktek membuat gagasan liputan jurnalis warga yang memberikan informasi dan pelajaran penting, agar masyatakat melek media dan menghindari hoaks atau berita berita bohong.

Jelang Pilkada pada tahun 2018 mendatang polisi akan melakukan patroli cyber mencegah penyebaran konten berbau sara dan kabar bohong atau hoaks. (Kompas TV)



Penulis: Kontributor Kompas TV Mataram, Fitri Rachmawati
Editor: Diamanty Meiliana