Tumbuh bersama kekuatan mimpi perempuan Indonesia

Guru Besar Unair: Orang Hidup Miskin Bukan karena Malas Kerja

Lihat Foto
erllre
Ilustrasi miskin dan kaya
Penulis: Dian Ihsan
|
Editor: Dian Ihsan

KOMPAS.com - Siapa yang ingin hidup miskin? Tentu tak satu pun dari kita ingin hidup dalam kemiskinan.

Konon, jika kita malas bekerja, hidup akan jadi lebih sulit. Lantas bagaimana kemiskinan dan kemalasan saling berkaitan?

Baca juga: Dosen UGM Ungkap Cara Meningkatkan Produksi Ayam Kampung

Dari kacamata Ilmu Sosiologi, ada dua pandangan mengenai sebab kemiskinan.

Pertama, kemiskinan dianggap bersumber dari hal-hal yang berkaitan dengan karakteristik psikologis kultural individu. Contohnya malas atau tidak punya etos wirausaha.

Kedua, kemiskinan muncul dari faktor-faktor struktural. Seperti kurangnya kesempatan dan kompetisi yang terlalu ketat atau tidak memiliki modal usaha.

Atas dasar hal itu, Guru Besar FISIP Unair, Bagong Suyanto angkat bicara.

Menurut dia, miskin dan malas tidak berhubungan. Sebab, kemiskinan terjadi karena faktor-faktor yang sifatnya struktural daripada kultural.

"Kita terbiasa menghakimi orang yang miskin sebagai orang yang malas atau tidak mau bekerja keras. Padahal, jika kita lihat pengemis di pinggir jalan, panas-panas, pakai pakaian badut menari-nari. Itu kan pekerjaan yang berat sebetulnya," ucap dia melansir laman Unair, Minggu (24/10/2021).

Jika dibandingkan, kata Bagong, pekerjaan di sektor informal bahkan lebih keras dari pada pekerjaan kelas menengah.

Namun, karena ketidakmampuan pendidikan ditambah minimnya akses jaringan memaksa kaum miskin untuk bertahan.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Artikel Terkait


Video Pilihan
TAG:

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Tulis komentar Anda...
Lihat Semua
Jelajahi