Kemendikbud Gulirkan 229 Miliar Rehabilitasi Sekolah Gempa Lombok

Dok. Kemendikbud Mendikbud Muhadjir Effendy mengunjungi beberapa sekolah terdampak gempa di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (13/8/2018).


KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengunjungi beberapa sekolah terdampak gempa di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (13/8/2018).

Menurut data Sekretariat Nasional Pendidikan Aman Bencana (SPAB) per 12 Agustus 2018, 606 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan, 977 ruang kelas dinyatakan rusak berat. Sebanyak 17 siswa meninggal dunia, 56 luka-luka, dan 19 orang harus dirawat inap.

1. Gulirkan dana bantuan

Kemendikbud telah memberikan dana bantuan senilai lebih dari 229 miliar rupiah untuk rehabilitasi sekolah dan pemulihan kegiatan belajar mengajar. 

Dalam memulihkan kegiatan belajar mengajar pascagempa, Mendikbud menyatakan pemerintah pusat bersama pemerintah daerah bergotong royong memperbaiki kondisi ruang kelas dan bangunan sekolah yang rusak.

"Fokusnya di sekolah. Kita prioritaskan bagaimana supaya proses kegiatan belajar mengajar kembali lancar," ujar Mendikbud Muhadjir Effendy usai memotivasi siswa di lapangan Sekolah Dasar (SD) Negeri Obel-obel 2, Sambelia, Kabupaten Lombok Timur.

Baca juga: Kemendikbud Dirikan Kelas Darurat Pascagempa Lombok

Saat ini Kemendikbud telah memasang tenda ruang kelas sementara. Tenda-tenda tersebut akan digunakan untuk proses belajar mengajar, sambil menunggu bangunan semi permanen untuk kelas sementara selesai dibangun.

2. Akan bangun sekolah semi permanen

"Nanti akan dibangun kelas dengan tenda darurat, setelah itu bangun sekolah semi permanen. Karena untuk membangun yang semi permanen butuh waktu sekitar dua atau tiga bulan, jadi menggunakan tenda dulu," ujar Mendikbud seperti dikutip dari laman Kemendikbud.

Untuk rehabilitasi bangunan, sesuai hasil rapat kabinet terbatas, akan dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Menurut Muhadjir, karena perbaikan akan membutuhkan waktu yang cukup lama, maka diperlukan kelas sementara agar kegiatan belajar mengajar kembali berjalan dengan baik.

Bangunan rusak parah akan dirobohkan dulu, kemudian dibangun kembali dengan perkiraan pembangunan sekitar 6-10 bulan.

Jumlah bangunan semi permanen yang akan dibangun, menurut Mendikbud, disesuaikan dengan sekolah-sekolah rusak akibat gempa. Bangunan semi permanen digunakan untuk menjalankan proses belajar mengajar sambil menunggu bangunan sekolah rusak selesai diperbaiki.

3. Murid dan guru diminta bersabar

Mendikbud juga meminta siswa dan guru bersabar karena sementara waktu harus belajar di bawah tenda. Ia berharap siswa tetap semangat belajar di ruang kelas sementara. "Dengan pembelajaran yang baik, itu akan membantu mereka mengatasi traumanya, dan menguatkan mentalnya," kata Muhadjir.

Selain itu, Kemendikbud juga telah menyalurkan bantuan berupa perlengkapan sekolah dan penanganan psikososial bagi siswa dan guru yang menjadi korban gempa. 

"Sebelumnya kita menerjunkan tim dari unit pelaksana teknis Kemendikbud di NTB. Ada LPMP, BP PAUD Dikmas, dan Kantor Bahasa. Saya mengecek saja, apakah dilaksanakan sesuai rencana kita. Dan apa yang dikerjakan sudah cukup baik," kata Muhadjir.

Muhadjir menyampaikan apresiasinya kepada berbagai lembaga, khususnya sekolah-sekolah yang turut membantu sekolah terdampak gempa di Lombok. "Saya rasa ini baik sekali, dalam rangka membangun solidaritas, gotong royong. Itu bagian dari pendidikan karakter," katanya.

Penulis: Yohanes Enggar Harususilo
Editor: Yohanes Enggar Harususilo