Belum Stabil, Pemerintah Masih Cari Asumsi Kurs Rupiah yang Tepat untuk RAPBN 2019

KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Suasana Rapat Paripurna RAPBN 2019 di gedung DPR RI, Selasa (4/9/2018). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat ini menyampaikan tanggapan pemerintah atas pandangan umum fraksi-fraksi terhadap RAPBN 2019.


JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah memasang nilai tukar rupiah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2019 sebesar Rp 14.400. Angka tersebut lebih tinggi ketimbang asumsi makro APBN 2018 sebesar Rp 13.500.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, sebenarnya dalam pembahasan dengan anggota Komisi XI soal asumsi nilai tukar rupiah sebelumnya, disepakati angka Rp 14.000. Namun, ternyata dalam beberapa bulan terahir tekanan tehadap rupiah cenderung tinggi, melebihi prediksi.

"Soal nilai tukar rupiah kami koreksi Rp 14.400. Sebab sampai 7 September, rupiah tercatat Rp 14.884 per dollar AS," kata Sri Mulyani di kompleks DPR RI, Jakarta, Senin (10/9/2018).

Jika dihitung rata-ratanya, sejak 1 Januari 2018 hingga 7 September 2018 rata-rata kurs rupiah Rp 13.977 per dollar AS. Oleh karena itu, pemerintah memasukkan nilai kurs di atas rentang yang disepakati sebelumnya dalam nota keuangan.

"Ini menggambarkan betapa dinamika yang kita hadapi bersama. Ini yang perlu dibahas untuk mendapatkan angka yang paling kredibel yang mencerminkan dinamika yang terjadi, namun bisa memberikan confidence bagi dasar perhitungan 2019 bagi APBN kita," kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengatakan, ada beberapa kondisi perekonomian global yang masih akan mempengaruhi kurs rupiah ke depannya. Pertama, normalisasi kebijakan moneter AS di mana bank sentral terus menaikkan suku bunga acuan. Kemudian, ada pula perangan dagang AS dengan sejumlah negara mitra yang mempengaruhi perekonomian negara-negara emerging.

"Maka negara berkembang mengalami kondisi capital inflow-nya sangat menurun. Indonesia tidak terkecuali," kata Sri Mulyani.

Pada 2016-2017, current account defisit Indonesia berada di kisaran 17 mliar dollar AS. Sementara capital inflow-nya sebesar 29 miliar dollar sehingga CAD masih bisa ditutupi. Berbeda dengan kondisi 2018 di mana capital inflow tak bisa menutupi CAD karena tidak sekuar sebelumnya.

"Inilah yang kita harus mewaspadai terkait sentimen psikologi, soal faktual policy perdagangan di AS versus mitra dagang, dan mengenai kebijakan moneter AS yang cenderung suku bunganya meningkat. Itu yang akan mnentukan sentimen terhadap rupiah," kata Sri Mulyani.

Penulis: Ambaranie Nadia Kemala Movanita
Editor: Bambang Priyo Jatmiko