Matahari Dilepas ke Asing

Lihat Foto
SHUTTERSTOCK
ilustrasi
Editor: Edj

JAKARTA, KOMPAS.com — Mulai kini, gerai Matahari Department Store tak lagi identik dengan Grup Lippo. Akhir pekan lalu, melalui PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), Lippo melego 2,65 miliar saham atau setara dengan 90,76 persen saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) kepada Meadow Asia Co Ltd.

Harga penjualannya sebesar Rp 2.705,33 per saham atau 100 persen lebih tinggi dari harga saham LPPF di lantai bursa sehari sebelum transaksi itu diteken. MPPA meraup Rp 7,2 triliun dari penjualan ini.

Meadow adalah perusahaan patungan MPPA dan CVC Capital Partners. Tetapi, MPPA hanya punya 20 persen dan CVC mengempit 80 persen saham LPPF. CVC merupakan perusahaan pengelola dana internasional yang masuk jajaran Top Five. Dana kelolaannya mencapai 46 miliar dollar AS.

Sejatinya, indikasi rencana penjualan Matahari Department Store muncul sejak September 2009. Kala itu, MPPA menjual aset unit usaha department store-nya itu kepada PT Pacific Utama Tbk. Nilai penjualan persediaan, peralatan dan perlengkapan usaha, serta hak sewa atas ruangan usaha peritel kelas menengah bawah ini sebesar Rp 430,06 miliar.

Pacific membeli unit usaha itu dengan duit hasil penerbitan saham baru yang nilainya sama dengan nilai akuisisi itu. Belakangan, Pacific bersalin nama menjadi Matahari Department Store. Tetapi, perusahaan ini tetap perusahaan afiliasi Grup Lippo dan kepanjangan tangan MPPA.

Benjamin J Mailool, Presiden Direktur MPPA, menjelaskan, penjualan saham LPPF bertujuan memperkuat struktur bisnisnya. "Sebab, bisnis ritel butuh dana besar," katanya, kemarin. Namun, dia belum bisa memastikan rencana penggunaan dana hasil penjualan itu.

Margin tipis

Direktur Financorpindo Nusa Edwin Sinaga menduga, Grup Lippo melihat perkembangan LPPF sudah tak signifikan lagi lantaran kalah bersaing dengan pemain lain. "Mereka melihat hal berbeda dari Hypermart sehingga berencana terus menambah gerainya," imbuhnya.

Analis Asia Kapitalindo Securities Arga, Paradita Sutiono, menimpali, sektor ritel hanya memberikan margin yang tipis. Dalam hitungannya, marginnya hanya 2 persen-6 persen. "Kemungkinan, dana hasil penjualan itu akan digunakan untuk penambahan gerai Hypermart," katanya. Maklum, bisnis pasar modern mempunyai prospek lebih cerah.

Edwin menambahkan, ada kemungkinan Grup Lippo ingin kembali fokus pada bisnis properti. Sekadar informasi, selain mempunyai gerai Hypermart melalui MPPA, raksasa bisnis ini masih memiliki sayap bisnis properti melalui PT Lippo Karawaci Tbk dan PT Lippo Cikarang Tbk. Mereka juga mempunyai megaproyek milik PT Kemang Village.

Adapun Kepala Riset Bhakti Securities Edwin Sebayang melihat, kini bisnis Lippo lebih fokus di sektor kesehatan dan keuangan nonperbankan. (Yuwono Triatmodjo, Yura Syahrul, Irma Yani/Kontan)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel Terkait


Video Pilihan

Terpopuler
Komentar

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi