Asal-usul Kata Betawi, Strategi Tahi Pasukan Belanda yang Heroik

Lihat Foto
SHUTTERSTOCK
Ondel ondel, salah satu bentuk pertunjukan budaya masyarakat Betawi.
|
Editor: Heru Margianto


KOMPAS.com — Masyarakat asli Jakarta dikenal dengan sebutan masyarakat Betawi. Mafhum diketahui, suku Betawi bukan “genuine” masyarakat asli.

Identitas masyarakat Betawi dengan segala kebudayaannya yang kita kenal saat ini adalah sebuah proses akulturasi panjang berabad-abad dari sejumlah suku bangsa yang mendiami wilayah pesisir Jakarta.

Daerah pantai di ujung utara Jakarta ini memang dikenal sebagai kota pelabuhan tempat pertemuan manusia dari bebagai suku bangsa bahkan sebelum kedatangan bangsa kolonial di abad ke-16.

Maka, bisa dimengerti, secara biologis, masyarakat Betawi adalah hasil silang perkawinan antar-etnis di masa lalu: campuran Sunda, Melayu, Bali, Bugis, Makassar, Ambon, Arab, Tionghoa, dan India.

Video Rekomendasi

Proses perubahan dan silang budaya di tanah Betawi terus berlangsung sampai sekarang. Jakarta yang kini menjadi ibu kota Indonesia adalah tempat tinggal masyarakat yang datang dari berbagai penjuru Indonesia bahkan dunia.

Identitas Betawi bahkan kini mulai tergusur, digantikan budaya metropolitan yang perlahan mengekal menjadi sebuah identitas kultural baru. Entah, nanti akan disebut apa silang budaya masyarakat baru ini.

Anyway busway, sebenarnya sejak kapankah nama Betawi populer digunakan untuk menyebut kelompok masyarakat di pesisir Jakarta?  Dari manakah asal-usul kata Betawi?

Setidaknya ada lima pendapat yang beredar. Yang paling unik adalah soal kisah strategi tahi pasukan Belanda. Iya tahi, kotoran manusia. Belanda pernah menggunakannya sebagai strategi perang. 

Apa hubungannya dengan kata Betawi? Baca sampai tuntas lima pendapat berikut ini.

 

1. Nama tanaman

Dalam buku Jakarta 2045, Smart City for Millenilas (2019), kata Betawi di Jakarta mulanya adalah sebutan untuk nama tanaman Cassia glauca.

Masyarakat biasa menyebutnya pohon guling betawi. Ini adalah sejenis tanaman perdu yang kayunya bulat seperti guling dan mudah diraut serta kokoh.

Dulu, batang pohon betawi banyak digunakan untuk pembuatan gagang senjata keris atau gagang pisau.

Tanaman guling betawi banyak tumbuh di Nusa Kelapa dan beberapa daerah di pulau Jawa dan Kalimantan. Sementara di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, guling betawi disebut kayu bekawi.

Ada perbedaan pengucapan kata "Betawi" dan "Bekawi" pada penggunaan huruf "k" dan "t" antara Kapuas Hulu dan Betawi Melayu. Pergeseran huruf tersebut biasa terjadi dalam bahasa Melayu.

2. Pitawi

Buku yang sama juga menyebut, versi lain asal-usul Betawi berasal dari kata "Pitawi" yang artinya larangan.

Kata ini mengacu pada kompleks bangunan yang dihormati di Candi Batu Jaya. Kompleks percandian Batujaya adalah sebuah kompleks sisa-sisa percandian Buddha kuno yang terletak di tatar Pasundan Karawang, Jawa Barat.

3. Giwang

Masih menurut buku yang sama, ada dugaan kata Betawi berasal dari bahasa Melayu Brunei yang digunakan untuk menyebut giwang. Itu lho, subang kecil berupa perhiasan yang dipasang di telinga. Perhiasan ini biasa digunakan perempuan.

Nama ini mengacu pada ekskavasi di Babelan, Kabupaten Bekasi, yang banyak menemukan giwang dari abad ke-11. 

4. Batavia

Pendapat lain mengatakan, Betawi adalah lafal penduduk pribumi untuk menyebut kata Batavia. 

Jika pendapat ini benar, kata Betawi mulai populer sejak abad ke-17 sejak Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Batavia pada 1619.

Lidah masyarakat Nusantara memang sulit menyebut kata-kata dalam bahasa Belanda. Kompeni, misalnya, adalah lafal pribumi untuk menyebut Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), persekutuan dagang Belanda yang menguasai Nusantara selama tiga abad.

Dalam buku Betawi Queen of the East karya Alwi Shahab (2004) juga ada kisah soal lafal pribumi. Jalan Tanah Abang IV dulu disebut Gang Brengkok. Ini adalah lafal masyarakat setempat untuk menyebut Laan de Briejnkops (Jalan de Briejnkops).

5. Tahi

Iya betul tahi, kotoran manusia yang keluar lewat “pintu belakang” anatomi kita. Ini pendapat yang paling unik soal asal-usul kata Betawi.

Baca juga: Benarkah Kata Betawi Bermula dari Perang Tahi?

Ceritanya tertulis di buku Kisah-kisah Edan Seputar Djakarta Tempo Doeloe karangan Zaenuddin HM (2016).

Alkisah, pada 1629 pasukan VOC berdiam di Benteng Maagdelijn di sudut tenggara Batavia. Lokasinya sekarang berada di seberang jembatan Glodok di sudut Jalan Pinangsia dan Hayam Wuruk.

Benteng itu juga pernah disebut Benteng Hollandia dan Battengburg sebelum akhirnya diratakan dengan tanah pada 1766.

Seyger van Rechteren, seorang pegawai VOC, mencatat serangan hebat yang dihadapi Benteng Maagdelijn pada 1629.

Seperti diketahui, tentara Mataram berusaha merebut Batavia dari tangan Belanda pada 1628 dan 1629. Serangan pada 1628 gagal. Tak menyerah, Mataram kembali melakukan serangan kedua pada 1629 dan membuat repot tentara Belanda.

Dalam serangan kedua, Benteng Maagdelijn dikepung, dihujani meriam dan api. Pasukan Mataram juga menyeberangi parit dan menaiki tembok benteng dengan menggunakan tangga dan tali rotan.

Di benteng tersebut, tersisa 15 serdadu Belanda tanpa sebutir peluru. Mereka gemetaran dan sangat takut. Di situasi terjepit itu, salah seorang tentara Belanda tiba-tiba mendapat ide.

Ia berlari mengambil tahi dengan sebuah panci dan menumpahkannya ke bawah ke arah tentara Mataram. Kotoran manusia itu menimpa kepala, muka, dan bahkan menempel ke sebagian tubuh para penyerang.

Langkah itu segera ditiru tentara Belanda lain. Mereka mengambil tahi entah dari mana, lalu melemparnya ke pihak musuh.

Lantaran tidak tahan dengan baunya, bala tentara Mataram berusaha menghindar dan lari kocar-kacir.   

"Mambet (bau) tahi! Mambet tahi!," teriak mereka sambil berlari. Serangan terhadap Benteng Maagdelijn bisa digagalkan.

Konon, dari teriakan itulah kemudian muncul istilah sekaligus lahirnya kata "Betawi".

Cerita yang sama

Kesaksian yang sama juga diceritakan Johan Neuhof (1618-1672), seorang Jerman, yang menerjemahkan sebuah buku berbahasa Belanda yang berkisah tentang pasukan VOC yang terjepit menghadapi serangan pasukan Mataram.

Dalam bukunya yang berjudul Die Gesantschaft der Ost-Indischen Geselschaft in den Vereinigten Niederlaendern an Tartarischen Cham, (1669), Neuhof berkisah tentang serangan prajurit Mataram pertama kali ke Benteng Hollandia di Batavia pada 1628.

Prajurit Mataram melancarkan kecamuk serangan hebat ke kubu Hollandia pada paruh kedua September 1628.

Di dalam benteng, Sersan Hans Madelijn bersama 24 serdadunya, yang kabarnya hanya didukung dua artileri tempur, mencoba bertahan dari serangan pengepung.

Garnisun Kota Batavia itu dikepung selama sebulan penuh sejak Agustus. Komandan pasukan Mataram merasa yakin dapat merebut benteng. Pada malam 21 dan 22 September, kedua belah pihak bertempur habis-habisan.

Sengitnya pertempuran membuat pasukan VOC kewalahan dan kehabisan amunisi. Madelijn, pemuda berusia 23 tahun yang asal Jerman, mencatatkan kisah heroik. Ia menyelinap ke ruang serdadu kemudian menyuruh anak buahnya untuk membawa sekeranjang penuh tinja.

“O, seytang orang Hollanda de bakkalay samma tay!” — O, setan orang Belanda berkelahi sama tahi— demikian teriak prajurit Mataram yang dikisahkan ulang oleh Neuhof.

Peristiwa itu juga membuat Batavia pernah mendapat julukan "Kota Tahi" karena kotoran manusia berserakan di berbagai sudut kota.

F de Haan yang menyusun buku Oud-Batavia menyebut, pada tahun 1899,  jalan di sebelah barat bekas Benteng Hollandia yang bernama "Buiten Kaaimans Straat" oleh penduduk setempat disebut Gang Tahi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag


Video Pilihan

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi