Budaya Indonesia Berakar di Cape Town

Lihat Foto
KOMPAS.com/HERY PRASETYO
Sebuah kedai kopi di Kampung Macassar, Cape Town, Afrika Selatan, tetap menulis namanya dalam bahasa Indonesia.
Editor: Hery Prasetyo

KOMPAS.com — Orang coloured (berwarna) yang dominan di Cape Town sangat mengagungkan kebudayaan mereka yang sering disebut ghoema, coen, atau klopse. Bahkan, setiap tahun di akhir Desember sampai Januari, ada festival besar kebudayaan klopse. Dan, salah satu akar kebudayaan itu sebenarnya dari Indonesia.

Semua berawal pada abad ke-17. VOC membangun benteng di Cape Town sebagai tempat transit antara Belanda dan Indonesia. Maklum, saat itu penjajahan VOC di Indonesia memasuki tahap awal dan dibutuhkan transportasi yang sering di antara kedua negara.

Namun, di Cape Town sendiri butuh banyak tenaga untuk membangun permukiman baru dan fasilitasnya. Maka dari itu, didatangkanlah budak-budak dari berbagai daerah, terutama dari India dan Indonesia.

Jumlah budak India paing banyak. Namun, mereka kemudian tinggal di Natal. Sementara itu, budak Indonesia terbanyak kedua dan tetap tinggal di Cape Town. Dulu, orang Indonesia disebut Malay karena belum ada negara Indonesia. Maka dari itu, warga Cape Town yang sebagian besar keturunan Melayu pun akhirnya disebut Cape Malay. Mereka termasuk coloured people dalam kategori sistem apartheid.

Budak Indonesia yang dibawa ke Afsel rata-rata punya keahlian, misalnya bertani, mencukur, menjahit, dan jago bermusik atau bersyair. Mereka tetap mempraktikkan sebagian kebudayaan di daerahnya.

Sebuah opera berjudul Ghoema produksi David Baxter dengan penampil Baxter Theatre Center tahun 2006 mengambil set cerita awal perbudakan di Afsel. Dan, di sini lebih banyak diceritakan tentang kehadiran, kebudayaan, dan kehidupan budak dari Indonesia.

Lagu-lagu mereka pun dibuat bernuansa Melayu, dalam hal ini Indonesia. Jenis musiknya juga sama seperti musik Melayu atau dangdut, mirip lagu-lagu Indonesia era 1950-an.

Dalam sebuah lagu disebutkan banyak kata Indonesia, seperti "belajar", "piring", "pisang", "berkelahi", dan "rokok". Pakaian mereka juga khas Indonesia, kadang memakai caping, kadang memakai peci.

Seperti catatan di buku Indonesians in South Africa: Historical Links Spanning Three Centuries, orang asing pertama yang dibawa VOC ke Afsel (Cape Town) adalah orang Indonesia. Africanhistory.about.com juga menyebutkan, budak pertama yang dibawa ke Cape Town berasal dari Indonesia pada tahun 1653. Namanya Abraham van Batavia.

"Batavia.... Batavia... Batavia..." begitu salah satu cukilan lagu dalam opera berjudul Ghoema, dinyanyikan dengan nada sedih. Ini mengisahkan para budak dari Batavia (Jakarta) yang rindu kampung halamannya.

Selain budak, banyak pula tahanan politik di Indonesia yang dibuang VOC ke Cape Town. Salah satunya Syeikh Yusuf dan pengikutnya. Mereka bahkan sangat berpengaruh serta menyebarkan agama Islam dan menularkan budaya Indonesia.

Selama bertahun-tahun, orang Indonesia beranak-pinak dan terjadi kawin silang sehingga di Cape Malay sekarang seharusnya banyak pula yang keturunan Indonesia. Karena itu, mereka disebut Cape Malay.

Kebudayaan Indonesia pun banyak yang mewarnai kebudayaan coloured atau Cape Malay. Dalam Indonesians in South Africa: Historical Links Spanning Three Centuries, ada beberapa catatan. Sebagai contoh, tari Lingo Ayoen, tari Kusin, dan tari Beras.

Bahkan, debus pun terbawa ke Cape Town. Tapi, di Cape Town, debus disebut "ratieb". Budaya ini dimungkinkan dibawa oleh pengikut Syeikh Yusuf. Sebagai catatan, Syeikh Yusuf punya banyak pengikut dari Banten, tempat debus berkembang. Dia bahkan mengawini anak Ki Ageng Tirtayasa (raja Banten).

Kosa kata bahasa Indonesia pun masih banyak dipakai orang Cape Malay. Achmad Davids dalam bukunya, Words the Cape Slaves Made, mencatat bahwa ada 40 kosakata Indonesia yang sering dipakai di Cape Town. Kosakata itu antara lain taramakasie (terima kasih), katja, boeka, toelis, batja, kitab, soempah, syambole (cambuk), manieng-al (meninggal), granaa (gerhana), maskawi (mas kawin), agama, ghoenthoem (guntur), gielap (kilat), dan kamar mandie.

Pengaruh musik Indonesia pun juga kuat. Ghoema sebenarnya sejenis genderang yang berasal dari Indonesia. Musik ini dipakai untuk merayakan pembebasan budak pada 1883. Instrumen yang dipakai dalam musik ghoema, coen, atau klopse adalah campuran dari alat musik Melayu dan Afrika.

Salah satu lagu mereka adalah "Ou Lamadie". Lagu itu menceritakan budak wanita yang diperkosa di suatu peternakan Belanda. Wanita itu hamil. Ketika anaknya lahir, semua orang menanyakan, "Ini anak siapa?".

Adat Indonesia juga ikut berpengaruh. Contohnya tjoekoer. Ini adat mencukur anak yang baru berumur seminggu. Sedikit rambutnya dicukur, seperti yang dilakukan sebagian orang Indonesia.

Adapun Rampie sny adalah kebiasaan wanita berkumpul di masjid dan mengiris daun jeruk kecil-kecil sebagai pewangi untuk perayaan Maulud. Ini sama dengan di Indonesia yang mengiris daun pandan kecil-kecil. Karena di Cape Town tak ada pandan, gantinya daun jeruk.

Ada juga pengaruh masakan Indonesia. Bubur, misalnya, di Cape town disebut boeber. Selain itu, ada sago pudding mirip bubur sagu di Maluku. Hanya, di Cape Town resepnya memakai air mawar, kapulaga, susu (pengganti santan), dan tak memakai kenari.

Pengaruh makanan lain adalah kolwadjib (waji), sambal, blatjang, dan bobotie.

Jadi, sebenarnya kebudayaan Indonesia ada yang berakar di Cape Town.

Baca tentang

Video Pilihan

Terpopuler
Komentar

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi