Koordinasi Bidan dengan Layanan Pesan Singkat

Lihat Foto
KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO
Dokter jaga Instalasi Gawat Darurat RSUD Majalaya, Bandung, Asep Suhandi, memperhatikan layar komputer berisi laporan rujukan dari bidan di delapan puskesmas sekitar rumah sakit untuk ditindaklanjuti, Selasa (18/12). Sistem Jaringan Rujukan Expanding Maternal and Neonatal Survival (SiJariEmas) merupakan SMS Gateway yang diujicobakan di enam provinsi di Indonesia, salah satunya di RSUD Majalaya.

BANDUNG, KOMPAS - Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya di Kabupaten Bandung bersama RSUD Waled di Kabupaten Cirebon menjadi dua rumah sakit di Jawa Barat yang menggunakan layanan pesan singkat atau SMS untuk koordinasi bidan dengan rumah sakit. Pemanfaatan teknologi itu diharapkan bisa menekan angka kematian ibu dan bayi.

Teknologi yang digunakan adalah SMS Gateway Sistem Jaringan Rujukan Expanding Maternal and Neonatal Survival (SiJariEmas) yang dilaksanakan serentak di enam provinsi di Indonesia, termasuk Jabar. Program lima tahun ini merupakan kerja sama Kementerian Kesehatan bersama USAID untuk mengembangkan model penguatan sistem rujukan gawat darurat kesehatan ibu dan bayi.

Dengan SiJariEmas, bidan yang menangani ibu melahirkan bisa mengirimkan pesan singkat ke rumah sakit dan diterima oleh sentral data. Bidan akan menerima rekomendasi dari dokter seperti penanganan sementara hingga keputusan merujuk ke rumah sakit.

”Sebelumnya, bidan merujuk begitu saja ke rumah sakit. Jika tempat perawatan kami penuh ibu melahirkan harus dirujuk ke tempat lain. Akibatnya muncul anggapan kami menolak pasien,” kata Direktur Utama RSUD Majalaya Kusmawan Dardja, Selasa (18/12), di Bandung.

Sistem komunikasi ini, kata Kusmawan, bisa dipadukan dengan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) yang diujicobakan di lima wilayah Provinsi Jabar, yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, dan Kabupaten Sumedang. Dengan SPGDT, pasien bisa mendapatkan rekomendasi rujukan antar-rumah sakit itu.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jabar, 804 ibu meninggal saat melahirkan tahun 2010, meningkat menjadi 850 ibu tahun 2011. Kematian bayi ada 4.982 bayi pada 2010 menjadi 5.070 bayi tahun 2011. Kabupaten Bandung menyumbang dua pertiga kasus kematian ibu di Jabar.

Cegah keterlambatan

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Achmad Kustijadi, keterlambatan penanganan sewaktu dirujuk ke rumah sakit menjadi salah satu penyebab kematian ibu. Dengan sistem komunikasi ini, diharapkan ibu melahirkan mendapatkan penanganan secepatnya. Pemkab Bandung mendukung pendanaan dengan mengajukan Rp 140 miliar untuk program kesehatan tahun anggaran 2013.

”Kami harus menambah kapasitas perinatologi (perawatan bayi baru lahir) yang hanya 20 unit, serta menambah ambulans untuk menjemput ibu melahirkan bila diperlukan,” ujarnya.

Tahun ini, SiJariEmas dioperasikan untuk RSUD Majalaya bersama delapan puskesmas di sekitarnya. Pada tahun mendatang, rumah sakit lain, yakni Al Ihsan di Baleendah, akan menerapkan metode serupa.

Dokter jaga Instalasi Gawat Darurat RSUD Majalaya, Asep Suhandi, mengemukakan, pengoperasian sistem selama sebulan terakhir belum banyak dimanfaatkan oleh para bidan. Setiap hari pihaknya hanya menerima dua laporan rujukan. (ELD)


Video Pilihan

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi