JELAJAHI

TGPF: Serangan Tidak untuk Membunuh Novel, tetapi Membuatnya Menderita

Lihat Foto
MUHAMMAD ADIMAJA
Pengunjuk rasa yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi menggelar aksi di kawasan Mabes Polri, Jakarta, Senin (15/7/2019). Dalam aksi tersebut mereka menyampaikan bahwa kinerja Tim Satgas kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan, cenderung hanya melakukan tindakan yang bersifat formalitas dan tidak transparan. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.
Penulis: Devina Halim
|
Editor: Bayu Galih

KOMPAS.com — Tim Gabungan Pencari Fakta kasus penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan mengungkapkan hasil investigasi setelah enam bulan bekerja.

Hasil kerja TGPF Novel Baswedan diungkap di Mabes Polri hari ini, Rabu (17/7/2019).

TGPF menyebutkan bahwa penyerangan terhadap Novel Baswedan dilakukan tidak dengan maksud membunuh, tapi membuat Novel menderita.

"Ada probabilitas bahwa serangan terhadap wajah korban bukan dimaksudkan untuk membunuh, tapi membuat korban menderita," kata anggota TGPF Novel Baswedan, Nurkholis.

Dia menambahkan, serangan bisa dilakukan sendiri atau menyuruh orang lain. Menurut TGPF, Novel memang menjadi target atas alasan tertentu.

"Serangan bisa dimaksudkan untuk membalas sakit hati," ucap Nurkholis.

Meski demikian, TGPF membantah bahwa serangan ditujukan karena pekerjaan Novel sebagai penyidik KPK.

"Tidak terkait masalah pribadi, tetapi pekerjaan," ucap Nurkholis.

Baca berikutnya
Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku

Video Pilihan
TAG:


Terpopuler
Komentar
Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi