MUI Samarinda: Pengemis Tidak Haram

Lihat Foto
Ilustrasi

SAMARINDA, KOMPAS.com — MUI Kota Samarinda tetap tidak mengharamkan pengemis yang beroperasi di tempat-tempat strategis atau dari rumah ke rumah.

Pasalnya, orang yang mengemis karena kondisinya yang miskin, kata Ketua MUI Samarinda KH Zaini Naim di Samarinda, Jumat (28/9).

"Saya tidak mau ikut-ikutan daerah lain dengan mengeluarkan fatwa haram bagi pengemis. Kalau daerah lain berfatwa haram, itu karena kondisinya yang mengharuskan demikian," katanya.

Menurutnya, Kondisi di Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, sangat berbeda dengan yang terjadi di Samarinda. Pasalnya, di Sumenep ada sejumlah daerah yang masyarakatnya kaya-kaya, tetapi tetap berprofesi sebagai pengemis sehingga wajar MUI setempat mengeluarkan fatwa haram.

Sementara itu, yang terjadi di Samarinda tidak demikian. Pengemis di Samarinda karena berasal dari warga miskin yang justru memerlukan uluran tangan dari banyak pihak, termasuk perhatian dari pemerintah.

"Di Samarinda banyak orang cacat, anak yatim, dan orang miskin yang meminta-minta di simpang lampu merah. Kalau saya mengeluarkan fatwa haram kan justru bertentangan dengan kondisi sosial masyarakat," katanya.

Dikatakan, para pengemis di Samarinda yang benar-benar dari warga miskin harus mendapat perhatian pemerintah karena berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945, fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.

"Seharusnya berdasarkan isi UUD 1945 Pasal 34 Ayat I tersebut, pemerintah melakukan pendataan terhadap para pengemis kemudian memelihara karena mereka tergolong fakir miskin dan terlantar," katanya.

Berdasarkan kondisi di Samarinda itulah, ia tidak akan mengeluarkan fatwa haram bagi pengemis. Namun, yang diharamkan Zaini adalah kelompok tertentu yang mengoordinasi pengemis dan mengambil keuntungan dari kegiatan pengemisan.

Di Samarinda, ada kelompok-kelompok tertentu yang memanfaatkan kemiskinan orang dengan cara mengumpulkan mereka untuk dijadikan pengemis. Lalu, para pengemis ditempatkan di lokasi strategis, seperti pompa bensin dan lampu merah. Pagi hari diantar, sore dijemput.

"Kelompok-kelompok inilah yang saya haramkan. Pemerintah juga harus menangkap orang-orang yang mengkoordinir para pengemis yang hasil dari meminta-minta itu justru diambil koordinatornya," kata KH. Zaini Naim.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Terpopuler
Komentar

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi