BUNG KARNO Duduk di Situ..

Rumah itu menjadi saksi mata pernikahan anak-anak Bung Karno, mulai Guntur, Megawati, Rahmawati, Sukmawati, sampai Guruh yang menikah dengan putri Uzbekistan, Sabina Guseynova, pada tahun 2002.

Bu Fat

Rumah Sriwijaya itu juga menjadi saksi keteguhan hati seorang perempuan, seorang ibu, Ibu Negara pula, bernama Fatmawati (1923-1980), istri Bung Karno.

Guruh membahasakan nama itu sebagai Bu Fat. Bung Karno,

belakangan menikah dengan Hartini, tepatnya tak lama setelah kelahiran Guruh pada tahun 1953. Seiring suasana batin, Bu Fat kemudian memutuskan keluar dari Istana.

 

Bu Fat dalam biografi Catatan Kecil Bersama Bung Karno penerbit Sinar Harapan, 1978, menulis:

”Dengan kepandaianku dan usahaku sendirilah hingga rumah sudah kumiliki. Pada suatu hari kira-kira tengah hari aku menghadap Bung Karno untuk pamit pulang ke rumahku di Sriwijaya. Bapak tidak mengizinkan dan berkata: ’Di sini rumahmu.’ (Istana Negara, red). Aku menjawab: ”Di sini bukan rumahku ...” kata Bu Fat yang gigih menentang poligami itu.

Bung Karno tetap tidak mengizinkan Bu Fat meninggalkan Istana. ”Tapi, pada waktu bapak sedang ke daerah-daerah, ibu boyong-boyong ke sini. Sriwijaya jadi tempat ibu menyepi, menenangkan diri. Ibu tidur di Sriwijaya, tapi setiap Sabtu dan Minggu (ketika Bung Karno tidak ada di Istana) ibu ke Istana nemenin kami anak-anaknya. Ibu masih menjalankan fungsi sebagai Ibu Negara.”

Guruh kemudian mengajak kami masuk ke kamar Bu Fat. Ruang itu terkunci. Guruh menghela napas sebentar sebelum membuka pintu. Di ruang itu ada tempat tidur kayu yang pernah digunakan Bu Fat lengkap dengan balutan kain dan kelambu pada tiang-tiang tempat tidur. Nuansa merah-putih sangat kental terasa. Perabotan di dalam kamar juga tidak banyak. Selain piano tua, ada tiga lemari kayu antik ukuran sedang yang berisi aneka aksesori.

Di kamar itu Guruh sering bermeditasi. Bertafakur. Kamar Bu Fat itu juga dijadikan kamar pengantin bagi anak-anak Fatmawati, termasuk Guruh tentu. Untuk menghormati sang ibunda, Guruh menamakan kompleks rumahnya sebagai Hing Puri Fatmawati.

Kompleks terdiri dari dua unit rumah, masing-masing bernama Puri Fatmawati yang dibangun Bu Fat tadi. Adapun rumah kedua terletak persis di belakang rumah pertama bernama Puri Indra Kusuma. Rumah itu dibeli Guruh tahun 1970-an dari seorang pengacara, Mr Indra Kusuma. Guruh tinggal di rumah kedua yang bergaya art deco berikut perabotnya yang semua bergaya art deco, arsitektur yang berkembang sekitar era 1925-1940-an itu.

Ketika Bung Karno meninggal dunia pada 21 Juni 1970, Bu Fat sudah menyiapkan rumah Sriwijaya untuk menyemayamkan jenazah. ”Tapi pemerintah menentukan bapak disemayamkan di Wisma Yaso dan dikuburkan di Blitar. Kalau Bung Karno inginnya dimakamkan di bawah pohon rindang di bumi Priangan...,” tutur Guruh tentang Bung Karno yang lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901.

Halaman

Video Pilihan

Terpopuler
Komentar
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi