“Baru Ditinggal Ibu Kandung, Sekarang Calon Suami..."

Lihat Foto
KOMPAS.com/ Muhamad Syahri Romdhon
Ita Warna Asih (22) calon istri korban meninggal dunia berusaha tegar dan sabar, saat ditemui di rumah Riyan di Desa Kasugenang Kidul, Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon, Jumat (21/72017). Ita juga harus menahan kesedihan lantaran ibu kandungnya yang juga telah meninggal dunia dua minggu lalu, karena sakit.
|
Editor: Erlangga Djumena

CIREBON, KOMPAS.com – Kematian Riyan Hardiyansyah korban penganiayaan awak bus di Cirebon, membawa duka dalam bagi kedua orang tua dan juga Ita Warna Asih, calon istri korban. Pernikahan yang sudah mereka siapkan pun urung dilakukan.

Ita yang baru saja kehilangan ibu kandungnya, harus mengikhlaskan kepergian calon pendampingnya.

Duka itu tampak pada wajah Ita saat ditemui sejumlah awak media di rumah Riyan, Desa Kasugengan Kidul, Kecamatan Depok, Cirebon, Jumat (21/7/2017).

Dia terlihat sedih dan murung meski sejumlah saudara, teman, dan rekan sejawatnya datang untuk menemani dan menenangkannya. Mereka juga menyampaikan rasa turut prihatin dan bela sungkawa.

“Baru ditinggal ibu kandung sendiri, sekarang calon suami. Perasaan saya sangat terpukul, tapi ya mau berbuat apalagi, cuman bisa belajar ikhlas, menerima lapang dada,” kata Ita.

Video Rekomendasi

Riyan sendiri tewas setelah dianiaya sejumlah awak bus Bhineka sebagai buntut adu salip di jalur pantura. (Baca: Buntut Adu Salip, Seorang Pemuda Tewas Dianiaya Awak Bus)

Ita mengaku sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh orangtua dan keluarga korban. Kabar kematian Riyan pun didengarnya dari adik korban, Selasa siang.

Saat itu, Ita langsung ke ruman sakit, dan dokter menyampaikan, agar berusaha mengikhlaskan calon suaminya karena mengalami luka parah di bagian leher dan kepala.

Ita bercerita, dia bersama Riyan sudah menjalin hubungan selama tujuh tahun, sejak duduk di bangku kelas tiga Sekolah Menengah Atas di tahun 2010.

Riyan dikenal sebagai pemuda baik, rajin, mandiri, tak pernah cari masalah, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik.

“Saya sama Riyan sejak duduk di kelas tiga. Dia rajin, baik, dan mandiri. Setiap sore sampai malam dia berdagang ketoprak sejak 2010 masih berdagang sampai sebelum meninggal. Seluruh kebutuhan hidupnya, dia penuhi dari jerih payah sendiri, termasuk beli motor, dan juga biaya kebutuhan pernikahan,” kenang Ita.

Ita dan Riyan sudah siap menikah yang akan digelar pada 28 Agustus di rumah Riyan, dan 3 September mendatang di rumah Ita.

Keduanya sudah mempersiapkan seluruh kebutuhan pernikahan sejak mahar, seserahan, hingga sudah mencetak sekitar 1.500 lembar undangan.

Namun, seluruh upaya untuk momen bahagia di hidup keduanya batal.

Baca juga: Kisah Bocah Selfi Sendirian Urus Kakeknya yang Lumpuh

Kepergian Riyan seolah pukulan kesedihan kedua setelah, Nasiah, ibu kandungnya meninggal dunia karena sakit dua minggu sebelumnya.

Dia terus merasa sangat terpukul dan tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan tugas akhir kuliahnya, skripsi dan lain sebagainya, terpaksa dilupakannya sementara ini.

“Pastinya (pengerjaan skripsi) terganggu mas. Ibu saya meninggal, sekarang calon suami,” ucap Ita yang merupakan mahasiswi Fakultas Keguruan, Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati).

Meski Riyan sudah tidak ada, Ita masih tetap dan terus menjadlin hubungan dengan keluarganya. Dia membantu seluruh kebutuhan di rumah termasuk tahlilan, dan lainnya.

Sementara itu, Zakaria, bapak kandung Riyan juga merasa sangat kehilangan anak pertamanya. Dia membandingkan foto Riyan yang masih segar bugar, sehat, dengan foto yang baru saja pulang pasca penganiayaan. Dia merasa sangat tidak terima dengan perlakuan yang dialami Riyan.

“Dia mau menikah, sudah siap semua, dan ternyata begini nasibnya. Saya sangat terpukul sekali, bahkan kalau dibilang ga terima, ya enggak terima, cuman ya …,” ucap Zakaria.

Dia mengaku tak kuasa melihat anaknya sampai rumah dalam kondisi luka parah, ibunya pun sejak meninggal hingga skarang masih terus menangis,katanya saat ditemui Kamis, (20/7/2017).

Zakaria menuntut keadilan untuk Riyan Hardiyansyah, meski berusaha telah mengihklaskan kepergian Riyan. “Kalau urusan dunia harus dijalankan sesuai hukum dunia. Kalau kematian itu urusan akhirat,” kata Zakaria.

Baca juga: Kisah Widiyanti Penjaja Sayur Temukan Segepok Uang di Bawah Lampu Merah

Kompas TV
Saat disambangi, nenek yang bernama Suparni ternyata masih produktif dalam bekerja.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag

Artikel Terkait



Video Pilihan

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi