Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Perang Dingin bagi Indonesia

Baca di App
Lihat Foto
Shutterstock
Ilustrasi Perang Dingin
|
Editor: Nibras Nada Nailufar

KOMPAS.com - Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet berlangsung setelah Perang Dunia II.

Perang itu berlangsung hingga Uni Soviet bubar di akhir 1980-an.

Selama puluhan tahun, persaingan ideologi antara kedua negara membawa dampak yang besar bagi dunia.

Ada dampak buruk, namun ada juga dampak positif.

Apa saja dampak Perang Dingin bagi Indonesia? Berikut seperti dirangkum dari pemberitaan Kompas.com:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Baca juga: Perang Dingin: Faktor, Persaingan, dan Dampaknya

Pertentangan ideologi di Indonesia

Di Indonesia, AS berusaha menghalau ideologi komunisme yang disebarkan Uni Soviet. Berbagai cara dilakukan AS lewat badan intelijennya, CIA.

Salah satunya pemberontakan terhadap pemerintahan Presiden Soekarno yakni Pemberontakan PRRI/Permestta.

Dikutip dari Kegagalan Politik Luar Negeri Amerika Serikat di Vietnam (2015), AS termakan hasutan Belanda.

Keterlibatan AS dalam Pemberontakan PRRI/Permesta terbukti dengan tertangkapnya Allan Pope, penerbang AS yang jatuh setelah pesawatnya ditembak di Ambon pada 1958.

Tak hanya pengaruh AS, pengaruh Uni Soviet juga mendorong pemberontakan. Tokoh komunis Indonesia, Musso, menggerakkan Pemberontakan di Madiun pada 1948.

Baca juga: Seputar G30S/ PKI (2): Apa Sih Bedanya PKI, Sosialisme, Komunisme, Marxisme, dan Leninisme?

Musso bercita-cita memjadikan Indonesia republik Soviet.

Bantuan untuk pembangunan

Sebagai negara yang belum lama merdeka, Indonesia kesulitan membangun dan mensejahterakan rakyatnya.

Namun berkat Perang Dingin, bantuan untuk Indonesia mengucur baik dari Amerika Serikat maupun Uni Soviet.

Salah satunya terlihat ketika Soekarno berambisi menunjukkan kehebatan Indonesia lewat Asian Games ke-IV yang diselenggarakan pada 1962.

Uni Soviet memberikan pinjaman lunak senilai 12,5 juta dollar AS. Soviet juga mengirimkan insinyur dan teknisinyna untuk merancang Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Perdana Menteri Uni Soviet, Nikita Kruschev turut hadir dalam pencanangan tiang pancang pertama pada 8 Februari 1960.

Di sisi lain, Soekarno juga meminta bantuan pada Amerika Serikat. Pelaksanaan Asian Games ke-IV di Senayan dikhawatirkan akan membuat macet.

Baca juga: Riwayat Stadion Utama GBK dan Ambisi Soekarno

Untuk mencegah hal itu terjadi, dibangunlah Jembatan Semanggi yang kini kita kenal dengan nama Simpang Susun Semanggi.

Jembatan Semanggi dibangun lewat uang AS. Ceritanya, Soekarno mengutus Perdana Menteri Djuanda untuk menemui Howard Jones.

"Tanyakan, apakah Amerika tidak ingin mempunyai peninggalan jejak di Indonesia? Kalau tidak, ya sudah. Oleh karena jejak Jepang sudah ada, Rusia juga telah punya jejak. Tetapi sebenarnya, saya ingin pinjaman dari sana untuk bisa melengkapi pembangunan Jembatan Semanggi..." ujar Soekarno kepada Djuanda.

Rayuan itu berhasil. Tak cuma dibantu membangun Jembatan Semanggi, Indonesia juga mendapat bantuan membangun jalan baru dari Cawang sampai ke Tanjung Priok yang disebut sebagai Jakarya By Pass (kini Jalan Jenderal A Yani dan Mayjen DI Panjaitan).

Lihat Foto
Associated Press
Pada 16 Januari 1965, Sukarno meresmikan Pusat Penelitian Nuklir dengan menggunakan reaktor IRI-2000 dari Uni Soviet di Serpong, Tangerang.
Kemajuan IPTEK

Uni Soviet dengan Amerika Serikat sama-sama mengembangkan nuklir. Tak sampai di situ, kedua negara juga membantu negara lain mengembangkan teknologi nuklir untuk kepentingan damai.

Pada 21 September 1960, Amerika Serikat membantu Indonesia mengembangkan energi atom dengan menjanjikan dana hibah senilai 350.000 dollar AS.

Dana ini digunakan untuk operasional reaktor nuklir yang dibangun di Bandung. AS juga berjanji memberi tambahan 141.000 dollar AS untuk mendanai risetnya.

Baca juga: Ambisi Nuklir Sukarno di Serpong

Kemudian pada pada 16 Januari 1965, Soekarno meresmikan Pusat Penelitian Nuklir dengan menggunakan reaktor IRI-2000 dari Uni Soviet di Serpong, Tangerang.

Pergolakan politik

Berbagai pergolakan politik Indonesia yang terjadi di pemerintahan Soekarno erat kaitannya dengan Perang Dingin.

Salah satunya keberhasilan Soekarno membentuk solidaritas di antara negara-negara bekas jajahan menghalau Perang Dingin.

Soekarno menggelar Konferensi Asia-Afrika pada 1955 yang kelak menjadi Gerakan Non-Blok

Namun Perang Dingin pula yang mengakhiri Soekarno.

Tim Weiner dalam bukunya Legacy of Ashes: The History of the CIA (2011) menuturkan, CIA diberi tugas untuk menyingkirkan Soekarno.

Baca juga: Seputar G30S/ PKI (3): Benarkah CIA Terlibat di Balik Peristiwa 1965?

Sejak dekade 1950-an, CIA mencoba berbagai operasi rahasia mulai dari membuat film porno dengan Soekarno palsu hingga menyuplai senjata untuk pemberontakan.

Amerika mencoba mendekati militer. AS terlibat dalam peristiwa G30S dan pemberangusan terhadap komunis setelahnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Baca tentang
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi