Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Unsur Radioaktif: Bom Nuklir, Bahan Bakar dan Alat Medis

Baca di App
Lihat Foto
hiroshima.australiandoctor.com.au
Salah seorang korban bom nuklir di Hiroshima mengalami dampak dari bom nuklir.
|
Editor: Rigel Raimarda

KOMPAS.com - Selain memiliki banyak manfaat, penggunaan unsur radioaktif juga memiliki dampak negatif. Seperti yang diketahui unsur radioaktif memancarkan radiasi berupa sinar alfa, beta, ataupun gamma.

Matahari menggunakan reaksi fusi untuk dapat menghasilkan helium dan berpijar. Pada sinar matahari terdapat banyak radiasi sehingga kita tidak boleh berlama-lama terpapar sinar tersebut karna dapat menyebabkan kanker kulit.

Dampak Radiasi Alat Medis

Unsur radioaktif digunakan dalam peralatan medis untuk dapat memindai penyakit yang berada dalam tubuh manusia seperti CT-scan, x-ray, dan positron emission tomography (PET).

Zat radioaktif yang digunakan memiliki energi tinggi sehingga dapat menembus jaringan tubuh manusia. Dilansir dari Harvard Health Publishing, penggunaan radioaktif dalam jangka waktu yang lama dan sering dapat menimbulkan mutasi DNA pada jaringan.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Baca juga: Abaikan Protes Nelayan, Jepang Akan Buang Limbah Radioaktif Fukushima ke Laut

 

Mutasi DNA ini dapat menyebabkan penyakit kanker seiring dengan berjalannya waktu.

Radiasi dari penggunaan alat medis relative kecil pada orang dewasa. Namun jika dilakukan pada usia muda, dengan frekuensi yang sering, ini dapat membahayakan.

Inilah mengapa penggunaan CT-scan, X-ray, dan PET tidak bisa dilakukan sembarangan dan juga tidak boleh dilakukan pada wanita yang sedang mengandung karena dapat membahayakan janin.

Dokter tidak akan menganjurkan kamu untuk melakukan CT-scan jika kamu hanya mengalami pegal-pegal ataupun tidak memiliki gejala yang relevan dengan suatu penyakit berbahaya.

Baca juga: Otoritas Fukushima Pastikan Pawai Obor Olimpiade Aman dari Ancaman Radiasi

 

Dampak Radiasi Bahan Bakar Radioaktif

Pada materi kegunaan unsur radioaktif dijelaskan bahwa plutonium-238 digunakan NASA sebagai bahan bakar pesawat luar angkasa dan roket.

Walau plutonium memiliki radiasi yang lebih rendah dibandingkan dengan uranium, namun kebocoran bahan bakar ini masih dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh manusia.

Dilansir dari NASA Radioisotope Power Systems, untuk menghindari dampak buruk dari kebocoran bahan bakar, nasa membuat plutonium menjadi bentuk keramik.

Mengapa bentuk keramik? Saat kamu memecahkan cangkir atau piring dari keramik, pecahannya akan cenderung besar-besar. Tidak seperti cangkir atau piring kaca yang akan pecah berkeping-keping dalam ukuran yang sangat kecil.

Pecahan plutonium ukuran besar, apabila tersebar ke lingkungan tidak akan mudah masuk kedalam tubuh manusia dibandingkan dengan pecahan yang kecil.

Baca juga: Jepang Akui Paparan Bencana Nuklir Fukushima Tewaskan Satu Pekerja

Dampak Radiasi Bom Nuklir

Pada zaman modern, reaksi fisi digunakan untuk membangkitkan energi listrik yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Tapi mari kembali ke masa lalu, tepatnya tahun 1952 saat bom atom hidrogen pertama kali diuji coba.

Bom atom terbuat dari inti atom uranium-235 yang ditembak oleh neutron dan menghasilkan reaksi fisi berantai. Reaksi fisi berantai melepaskan energi berupa panas dan radiasi dalam jumlah besar.

Pelepasan energi tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat singkat menyebabkan kerusakan yang parah juga membayakan nyawa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag
Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi