KOMPAS.com - Indonesia dikenal dengan kekayaan budayanya, salah satunya adalah Tradisi Ma’Nene dari masyarakat Toraja, Sulawesi Selatan. Ritual ini begitu unik karena berkaitan dengan cara masyarakat menghormati leluhur.
Alih-alih sekadar ziarah, keluarga justru mengeluarkan jenazah dari makam, membersihkannya, lalu mengenakan pakaian baru.
Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan menjadi simbol kasih sayang yang tidak pernah putus antara yang hidup dan yang sudah tiada.
Baca juga: Tongkonan, Rumah Adat Toraja
Mengapa Ma’Nene dilakukan 3 tahun sekali?
Banyak orang bertanya, “mengapa Ma’Nene dilakukan 3 tahun sekali?” Jawabannya terkait erat dengan filosofi, kondisi sosial, hingga pertimbangan biaya.
Menurut Arina Eliana Fitria, dkk dalam Pemaknaan Simbol dalam Tradisi Ma’nene di Daerah Toraja (2024), Ma’Nene biasanya dilaksanakan setelah panen, sehingga menjadi simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan dan leluhur.
Selain itu, musyawarah adatlah yang menentukan kapan ritual ini dilakukan. Umumnya tiga tahun sekali dipilih karena tradisi ini membutuhkan biaya besar, terutama untuk persiapan pakaian baru, kurban, hingga jamuan bagi tamu.
Faktor lain, tidak semua keluarga Toraja tinggal di kampung halaman, sehingga perlu menunggu waktu tepat agar semua anggota keluarga dapat hadir bersama.
Apa tujuan Ritual Ma’Nene?
Jika ditanya apa tujuan ritual Ma’Nene, maka jawabannya lebih dari sekadar mengganti pakaian jenazah.
Tujuan utamanya adalah menghormati leluhur, menjaga hubungan spiritual antara yang hidup dengan yang sudah meninggal, serta memohon perlindungan dari roh nenek moyang.
Masyarakat Toraja percaya bahwa leluhur yang dihormati akan memberikan berkah, baik dalam bentuk hasil panen yang melimpah maupun perlindungan dari musibah.
Dengan demikian, Ma’Nene tidak hanya bernuansa spiritual, tetapi juga menjadi pengingat bahwa jasa leluhur selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Pacu Jalur, Tradisi Kuantan Singingi yang Viral dan Go Internasional
Makna Tradisi Ma’Nene
Di balik prosesi unik ini, makna Tradisi Ma’Nene sangat dalam. Tradisi ini menegaskan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan kelanjutan dari ikatan kekeluargaan.
Jenazah yang sudah puluhan tahun dimakamkan tetap dianggap sebagai bagian dari keluarga yang harus dihormati.
Menurut Ahmad Suthami Putra dalam Ritual Ma'nene' di Toraja: Satu Studi Enografi (2024), istilah “Ma’Nene” sendiri berarti “membungkus kembali”.
Dengan mengenakan pakaian baru, masyarakat Toraja menunjukkan kasih sayang, penghormatan, serta harapan bahwa arwah leluhur tetap menjaga mereka.
Ritual ini juga menjadi simbol solidaritas, karena keluarga besar, tetangga, bahkan masyarakat luas ikut serta dalam prosesi tersebut.
Baca juga: 7 Tradisi Perayaan Maulid Nabi 2025
Tradisi Ma’Nene berasal dari mana?
Bagi yang belum mengenalnya, mungkin bertanya, “Tradisi Ma’Nene berasal dari mana?” Jawabannya tentu dari masyarakat adat Toraja, yang sejak dahulu memiliki tradisi pemakaman unik.
Di perbukitan Toraja banyak ditemukan makam kuno dalam gua batu, sehingga jenazah yang dikebumikan tidak cepat membusuk.
Kondisi inilah yang membuat masyarakat bisa melakukan ritual Ma’Nene berulang kali, bahkan setelah bertahun-tahun.
Bagaimana proses Tradisi Ma’Nene Dilakukan?
Menurut Nadia Luutfun Nisa dan Eko Ribawati dalam Ritual Ma'nene Toraja: Kearifan Lokal dalam Menghormati Leluhur (2025), prosesi ini memiliki dua versi berbeda, yaitu Ma’Nene Aluk Todolo dan Ma’Nene versi Kristen.
1. Ma’Nene Aluk Todolo- Persiapan: keluarga besar berkumpul, membicarakan waktu ritual serta hewan kurban yang akan dipersembahkan. Mereka menyiapkan pakaian baru, kapur sirih, daun pinang, bunga, hingga rokok untuk prosesi.
- Pengawetan jenazah: dahulu jenazah diawetkan dengan ramuan tradisional dari daun pinus, tille, dan daun teh dicampur minyak tanah dan sabun, yang ternyata lebih tahan lama daripada formalin. Saat ini, formalin lebih umum digunakan.
- Penggantian pakaian: jenazah dikeluarkan dari makam, dibersihkan, lalu dibungkus dengan kain baru. Proses ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat.
- Persembahan dan makan bersama: makanan khas seperti pa’piong bai (babi dimasak daun mayana) dan daging kerbau yang dikurbankan dibagikan kepada keluarga serta tamu. Ritual ini melambangkan berbagi makanan dengan leluhur, seolah mereka masih ikut makan bersama.
- Doa dalam Bahasa Toraja: dipimpin oleh tominaa (pemuka adat), doa dilantunkan untuk memanggil roh leluhur agar hadir dan memberikan berkah.
Baca juga: Apa Saja yang Dilakukan Saat Rabu Wekasan 2025? Berikut Tradisi Uniknya
2. Ma’Nene Versi Kristen- Persiapan: keluarga yang berada dalam satu tongkonan berkumpul dan menentukan waktu pelaksanaan, biasanya setelah musim panen.
- Doa bersama: pendeta memimpin doa sebelum prosesi dimulai. Keluarga menyiapkan kain baru, bunga, serta makanan khas seperti kopi dan kue tori untuk para tamu.
- Proses di patane: jenazah yang disimpan di patane (rumah makam keluarga) dikeluarkan satu per satu. Jenazah dibersihkan, dibungkus kembali dengan kain baru, lalu didoakan.
- Makan bersama: setelah prosesi selesai, keluarga dan masyarakat makan bersama sebagai simbol syukur dan kebersamaan.
Selain unik, ritual ini kaya akan nilai-nilai kehidupan.
Menurut Novia Bella Alifvia, dkk dalam Ma'nene Tradition in the Land of Toraja as Indonesian Local Wisdom (2024), nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam ritual Ma’Nene meliputi:
- Nilai sosial: mempererat hubungan kekeluargaan, menciptakan solidaritas, serta mempertemukan sanak keluarga yang jarang berkumpul.
- Nilai religius: menumbuhkan rasa syukur kepada Tuhan, memelihara hubungan spiritual dengan leluhur, serta memperkuat iman melalui doa.
- Nilai budaya: menjaga warisan leluhur agar tetap lestari, diwariskan kepada generasi berikutnya, dan mempertegas identitas budaya Toraja.
- Nilai musyawarah: setiap keputusan, mulai dari waktu hingga perlengkapan ritual, ditentukan melalui musyawarah keluarga.
- Nilai tanggung jawab: semua anggota keluarga memiliki peran penting, keberhasilan ritual sangat bergantung pada kerja sama mereka.
Baca juga: Tradisi Unik Perayaan Kemerdekaan di Berbagai Daerah
Selain itu, ritual ini juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar mereka mengenal leluhur dan menghargai jasa orang terdahulu.
Meski kini tidak semua desa Toraja melaksanakan Ma’Nene, tradisi ini masih bisa ditemui di beberapa daerah seperti Lembang Bulu Langkan, Panggala, dan Baruppu.
Sehingga, Tradisi Ma’Nene adalah wujud kasih sayang, penghormatan, dan rasa syukur masyarakat Toraja kepada leluhur.
Ritual ini sarat makna, baik sosial, religius, budaya, hingga tanggung jawab. Tak heran jika Ma’Nene disebut sebagai salah satu tradisi unik dunia yang hanya ada di Toraja, dan hingga kini tetap menjadi warisan berharga yang dijaga dengan penuh hormat.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.