KOMPAS.com - Ceres adalah objek terbesar di sabuk asteroid yang terletak antara Mars dan Jupiter. Dengan diameter sekitar 940 kilometer, Ceres masuk dalam kategori planet katai.
Saat ini, Ceres tampak sebagai dunia beku dengan permukaan dipenuhi es, garam, dan sedikit air. Suhu di sana sangat rendah sehingga hampir semua air membeku menjadi es, sementara sisa cairannya hanyalah air garam pekat.
Namun, kondisi ini ternyata berbeda jauh dengan masa lalunya. Ilmuwan menemukan bahwa miliaran tahun lalu, Ceres pernah layak huni dan memiliki lautan bawah tanah yang hangat.
Yuk, kita simak fakta unik tentang planet kerdil ini!
Baca juga: Fakta Menarik Ceres, Asteroid Terbesar dan Planet Katai yang Kaya Air
Ilmuwan menemukan bukti kehidupan di masa lalu Ceres
Penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Science Advances pada 20 Agustus, berjudul "Core metamorphism controls the dynamic habitability of mid-sized ocean worlds—The case of Ceres", mengungkapkan temuan menarik.
Studi yang dipimpin oleh Samuel W. Courville, ilmuwan planet dan bumi dari Arizona State University (ASU) yang bekerja sama dengan Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, mensimulasikan kondisi interior Ceres menggunakan model komputer.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa antara 2,5 hingga 4 miliar tahun lalu, inti berbatu Ceres mencapai suhu puncaknya akibat peluruhan radioaktif.
Panas ini cukup kuat untuk mencairkan es di bawah permukaan dan menciptakan samudra bawah tanah dengan aliran hidrotermal.
Kondisi tersebut berpotensi menciptakan ekosistem mikroba, mirip dengan ventilasi hidrotermal di dasar laut Bumi yang menjadi "pesta energi kimia" bagi mikroorganisme.
Baca juga: Planet Kerdil Baru Ditemukan, Orbitnya Lebih Ekstrem dari Pluto
Jejak kehidupan dari Misi Dawn NASA
Dilansir dari NASA, Misi Dawn NASA yang mempelajari Ceres juga memberikan bukti fisik tambahan. Data yang dikumpulkan menunjukkan adanya:
- Bercak terang di permukaan → ternyata merupakan endapan garam dari cairan asin yang dulu meresap ke permukaan.
- Molekul organik di tanah Ceres → menandakan bahwa bahan dasar kehidupan memang pernah ada di sana.
Meski begitu, ada satu kekurangan penting: Ceres tidak memiliki mekanisme pemanasan internal berkelanjutan seperti bulan Europa (Jupiter) atau Enceladus (Saturnus), yang tetap hangat berkat tarikan gravitasi planet induknya.
Karena itulah, lautan Ceres akhirnya membeku dan dunia ini kehilangan potensi kelayakhunian.
Mengapa Ceres pernah layak huni?
Berbeda dengan bulan es di sekitar planet raksasa, Ceres hanya mengandalkan panas dari peluruhan radioaktif di intinya.
Selama beberapa miliar tahun pertama setelah terbentuk, panas ini cukup untuk menjaga air tetap cair dan memungkinkan reaksi kimia dengan batuan di inti.
Reaksi tersebut menghasilkan gas terlarut dan mineral yang naik ke samudra bawah tanah, menyediakan “makanan” kimia bagi kemungkinan mikroba.
Sayangnya, saat sumber panas berkurang, lautan ini membeku menjadi dunia es seperti sekarang.
Baca juga: Kabut di Pluto, Misteri Iklim Planet Kerdil Akhirnya Terungkap
Implikasi untuk dunia es lain di Tata Surya
Temuan tentang Ceres pernah layak huni membawa implikasi besar. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa:
- Banyak planet katai dan bulan es kecil di tata surya kemungkinan juga pernah memiliki lautan sementara.
- Dunia es yang mirip Ceres, seperti beberapa bulan Uranus dan Saturnus, mungkin juga pernah memiliki kondisi serupa.
- Ceres menjadi studi kasus unik karena tidak dipengaruhi oleh pemanasan pasang surut dari planet besar, sehingga lebih murni untuk dipelajari.
Dengan kata lain, penelitian ini memperluas cakrawala pencarian kehidupan: bukan hanya di planet besar atau bulan aktif, tapi juga di dunia kecil yang sederhana seperti Ceres.
Meski kini Ceres hanyalah planet kerdil beku di sabuk asteroid, ilmuwan menemukan bahwa miliaran tahun lalu, Ceres pernah layak huni.
Baca juga: Apa itu Asteroid? Benda Langit di Antara Mars dan Jupiter
Penemuan ini menunjukkan bahwa tata surya penuh dengan dunia-dunia kecil yang mungkin pernah memiliki lautan hangat dan ramah kehidupan.
Siapa tahu, di antara planet katai dan bulan es yang tampak sunyi, ada jejak sejarah kehidupan yang belum terungkap sepenuhnya.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.