Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

37 Tahun Terpisah, Hernik Bertemu Sang Ibu: Sungguh Ini Mama Saya?

Baca di App
Lihat Foto
Eko Widianto/ BBC Indonesia
Sang ibu, Suminah, dan Hernik (kanan) di rumah mereka, setelah terpisah selama 37 tahun.
Editor: Rachmawati

KOMPAS.com - Pertengahan Maret lalu, ibu dan anak perempuannya dipertemukan kembali setelah nyaris empat dekade saling terpisah. Tangis haru mewarnai perjumpaan di kantor polisi.

Suminah, 82 tahun, jatuh pingsan. Pandangannya gelap saat melihat sosok Hernik Martika, 54 tahun, berjalan memasuki markas Kepolisian Resor Kota Malang Kota pada Rabu (15/03).

Selama 37 tahun, keduanya terpisah. Hernik hilang, tanpa kabar.

“Saya seperti tidak ada otot, dada sakit. Kaget. Mau menjerit tidak bisa,” kata Suminah kepada wartawan di Malang, Eko Widianto, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Baca juga: Kisah Perempuan Asal Kota Malang Kembali Bertemu Ibunya Setelah 37 Tahun Menghilang

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ia tak menyangka bisa bertemu kembali dengan putrinya itu. Tangis haru mewarnai pertemuan Hernik bersama ibu dan adik-adiknya. Berangkulan, mereka saling melepas rindu.

“Nandi ae? Ono opo nang Malaysia, opo sing digoleki? [Kemana saja? Ada apa di Malaysia, apa yang dicari?],” tanya Suminah sembari mengelus kepala Hernik.

Hernik ditemukan relawan dan anggota Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtimas) Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Aipda Catur Indra Iriawan.

Di kota itu, Hernik hidup sebatang kara. Hanya membawa satu setel pakaian, Hernik kerap tidur di halte atau emperan toko.

“Bekerja mencuci baju untuk bertahan hidup,” kata Ketua Relawan Anak Bangsa, Yuning Kartikasari alias Yuyun, yang kemudian membantu kepulangan Hernik ke Malang.

Baca juga: Kisah Zainal Bertemu Kembali dengan Keluarganya di Tasikmalaya Setelah 10 Tahun Berpisah

Hernik, kata Yuyun, ditipu seorang lelaki dari Kupang setelah bekerja di Malaysia. Seluruh uangnya dihabiskan, hingga hidup terlantar.

Berbekal foto diri dan keterangan jika Hernik berasal dari Kelurahan Mergosono, Kota Malang, Yuyun menyebarkan informasi ke media sosial dan Whatsapp Group relawan pada 21 Februari 2023.

“Nama Sudarni (erni hamid). Mergosono gang 1b. Bapak Dulpai (tukang becak) Mak Mina Ita (saudara nomor 2) Korbani (saudara nomor 1) Suci (saudara nomor 3) Pernah kerja di Pabrik gudang garam,” tulis Yuyun di media sosial, dilengkapi foto Hernik yang terbaru.

Informasi ini sampai ke gawai Nurul Ibtida’iyah, adik bungsu Hernik. Yuyun kemudian mengajak Nurul beserta keluarganya untuk melakukan panggilan video bersama Hernik.

Mula-mula, sebut Yuyun, panggilan video terkesan dingin. Hernik mengaku tak yakin sosok perempuan tua di layar gawai merupakan ibunya.

Baca juga: Momen Haru Bayi yang Diculik Pembunuh Pengusaha Ayam Goreng Kembali Bertemu Keluarga: Tangis Si Anak Pecah

“Wajar [kalau dia] tidak percaya. Sudah banyak yang memberikan harapan, tapi tidak terbukti,” kata Yuyun.

Lantas, di panggilan video ketiga Nurul menanyakan sejumlah tanda lahir Hernik berupa kutil di bawah mata kiri dan kulit kaki belang putih.

Tanda-tanda ini yang meyakinkan Nurul dan keluarga, jika perempuan di layar gawai merupakan kakaknya yang hilang.

Tangis haru tak bisa dihindari, mereka berharap Hernik segera pulang dan berkumpul bersama keluarga.

“Mana bapak? Mana Tole?” tanya Hernik seperti ditirukan Yuyun.

Baca juga: Cerita Buchori, Kembali Bertemu Ibu Kandung Setelah 40 Tahun Berpisah

Tidak berhenti mencari

Nurul Ibtida’iyah mengaku tidak memiliki kenangan bersama kakaknya Hernik. Maklum, saat Hernik meninggalkan rumah, ia masih berusia tujuh tahun.

Berbagai usaha dilakukan oleh keluarganya untuk mencari Hernik, kata Nurul. Sejak 1990-an, keluarganya telah melaporkan hilangnya Hernik ke polisi.

“Tapi ditolak karena dokumen tidak lengkap. Tidak ada KTP dan foto,” ujarnya.

Tak putus asa, mereka terus mencari dan menyebarkan informasi mengenai diri Hernik. Setiap tahun terus mencari, meski perekonomian keluarga mereka tak stabil.

Bapaknya, Dulpai, bekerja sebagai tukang becak sementara ibunya buruh cuci.

Baca juga: Terpisah 20 Tahun, Kembar Trena Treni Kembali Bertemu karena TikTok

 

Sekitar tahun 2000-an, Nurul mulai memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan informasi tentang Hernik.

“Mencari dengan cara apapun. Berbekal dorongan kakak, saya sebar ke Twitter dan Facebook,” ujarnya. Mereka yakin jika Hernik masih hidup.

Hati Nurul teriris, lantaran bapaknya yang terserang stroke di akhir hidupnya selalu menyebut nama Hernik. Dulpai meninggal dunia sebelum sempat bertemu kembali dengan Hernik.

Hernik pergi tanpa pamit dari rumahnya di Kota Malang pada 1986-an.

Saat berusia 17 tahun, bersama teman-temannya ia mengadu nasib sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Malaysia.

Baca juga: Berkat Tiktok, Pria yang Hilang sejak 2010 Kembali Bertemu Keluarganya

Selama 22 tahun kemudian, Hernik bekerja di Malaysia dan memutuskan mengikuti seorang lelaki yang berjanji menikahinya ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Saat ia pergi itu, tak ada pesan yang ditinggalkan. Hanya secarik kertas di tumpukan pakaian bertulis, “menuju ke Ampel Gading.”

Awalnya Suminah menduga Hernik berangkat ke rumah mertua kakaknya yang berada di Ampel Gading, Kabupaten Malang. Namun, setelah berhari-hari Hernik tak kembali dan tidak pula ditemukan di Ampelgading.

“Mungkin Hernik kasihan dengan perekonomian keluarga, sehingga mengadu nasib ke Malaysia,” ujar Suminah.

Hernik sendiri mengaku hidupnya penuh dengan lika-liku. Mengadu nasib sebagai TKW di Malaysia tak seindah bayangannya.

Baca juga: 18 Tahun Terpisah, Saudara Kembar Bertemu Kembali berkat Facebook

Ia berangkat bersama lima orang temannya dari Malang, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Setiap bulan ia mendapat gaji sebesar 250 ringgit Malaysia.

“Namun, kami terpisah. Ada yang bekerja di supermarket dan pabrik,” ujarnya.

Setelah 22 tahun bekerja di Malaysia, pada 2013 ia bersama seorang lelaki yang enggan diceritakan identitasnya, memutuskan pulang ke Kupang.

Selama di Kupang, ia bekerja serabutan mulai mencuci baju hingga memijat. Belakangan, kondisi kesehatannya menurun.

“Kondisi tidak kuat, kaki sakit. Penghasilan habis untuk membeli obat,” ujarnya.

Beberapa kali, ia meminta pertolongan melalui aparatur setempat agar bisa kembali ke Malang. Namun, tak kunjung ada kabar baik. Sehingga kehidupannya semakin tidak menentu.

“Saya tak mau di panti jompo, saya sehat. Saya mau bertemu dengan keluarga, kalau masih ada,” katanya.

Baca juga: Terpisah 78 Tahun Akibat Perang, Kakak dan Adik Ini Bertemu Kembali

Beruntung, ia bertemu dengan relawan dan Bhabinsa Kota Soe, TTS. Lantas, Hernik ditampung sementara selama sebulan di sana.

Akhirnya, setelah perjalanan panjang, Hernik bisa kembali ke pelukan keluarganya di Malang.

“Saya menangis, terlalu gembira. Sayang, tidak bisa bertemu bapak. Saya sudah ziarah ke makamnya,” kata Hernik.

Seolah tak percaya telah bertemu ibu dan adiknya, Hernik saban malam masih sering bertanya, “Sungguh ini Mama saya? Saya tidak percaya. Seperti mimpi.”

Wartawan di Malang, Eko Widianto, berkontribusi untuk laporan ini.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Lihat Semua
Jelajahi