Kebakaran Masih Sulit Dihindari

Jakarta, Kompas - Kebakaran lahan gambut selama ini masih sulit dihindari. Ini seperti terjadi di lahan gambut seluas sekitar 1.100 hektar yang menjadi hak konsesi perkebunan sawit PT Surya Panen Subur pada 19 Maret 2012 lalu di Rawa Tripa, Aceh.

”Kebakaran itu tidak mungkin kami sengaja. Ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebabnya,” tutur Direktur PT Surya Panen Subur Eddy Sutjahyo Busiri ketika mengunjungi Redaksi Kompas, Selasa (8/5) di Jakarta.

Tiga faktor penyebab kebakaran gambut, disebutkan Eddy, meliputi kemungkinan akibat kelalaian pekerja kebun yang membuang puntung rokok yang masih menyala secara sembarangan. Kemudian pengaruh fenomena alam berupa gesekan serasah, ranting, atau kayu kering, yang menimbulkan api tatkala cuaca panas.

”Loncatan api dari kebakaran di wilayah lain juga bisa menjadi faktor penyebab,” kata Eddy.

Eddy didampingi Chief Operating Officer PT Agro Maju Raya Bambang Susetyono dan Direktur PT Strategi Aliansi Komunika Ali Nurdin. Menurut Ali Nurdin, klarifikasi ingin disampaikan terhadap peristiwa kebakaran yang melanda lokasi kebun sawit PT Surya Panen Subur beberapa waktu lalu tidak ada unsur kesengajaan.

Bambang mengatakan, perusahaannya selama ini tertib secara administratif. Hak guna usaha diperoleh sejak tahun 1997 untuk lahan seluas 12.957 hektar.

”Penanaman sawit sejak tahun 1998. Saat ini areal yang tertanami mencapai sekitar 4.000 hektar,” kata Bambang.

Lahan terbakar pada 19 Maret 2012 mencakup 517 hektar sudah ditanami. Sisanya sekitar 600 hektar belum ditanami.

Pengaturan air

Eddy mengatakan, kebakaran gambut bisa memakan waktu berbulan-bulan. Namun, pemadaman kebakaran di lokasi perkebunannya bisa berlangsung cepat, sesuai kronologis yang disusun, yaitu selama lima hari.

”Pemadaman juga dengan menaikkan ketinggian permukaan air yang dialirkan dari gambut melalui parit-parit,” kata Eddy.

Rawa Tripa berada di Kabupaten Nagan Raya, sebelumnya sebagai hutan gambut seluas lebih dari 61.000 hektar. Sekarang lebih dari separuhnya, sekitar 35.000 hektar, beralih fungsi menjadi perkebunan sawit milik beberapa perusahaan.

Bambang mengakui, izin hak guna usaha yang diperolehnya belum mencantumkan data kedalaman gambut. Direncanakan, topografi gambut akan diteliti bersama ahli dari Institut Teknologi Bandung. (NAW)


Baca berikutnya

Video Pilihan

Terpopuler
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi