Tumbuh bersama kekuatan mimpi perempuan Indonesia

Rany Moran, "Lapar" Mengejar Target

Lihat Foto
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Bagi Rany Moran, Amazonia menjadi titik awal memulai bisnis baru yang benar-benar lepas dari bisnis keluarga yang selama ini dilakoninya di bidang pertelevisian dan properti.

KOMPAS.com - ”Bermimpilah setinggi mungkin dan jangan menyerah. Hidup harus punya gereget. Saya menyebutnya ’hunger’, lapar mengejar target. Itu penting,” kata Rany Moran (32) untuk anak-anaknya.

Rany sedang berada di rumahnya yang nyaman di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan. Ia sehari-hari tinggal di Singapura sejak 2005 mengikutinya suaminya, Colin Moran.

Sepatu hak tinggi, setinggi sepuluh sentimeter, segera digeletakkan di ujung karpet. Rany duduk dan berbincang. Pandangannya yang lekat menatap lawan bicara hanya teralihkan ketika dua anaknya, Nicholas (5) dan Christopher (2,5), berlarian turun dari lantai dua.

Nicholas dan Christopher segera bergelayut manja memeluk tubuh ramping ibundanya. Celotehan anak-anak itu menghilang setelah pengasuh membawa mereka pergi untuk mendaftar kelas sebulan belajar matematika dan sains di Darmawangsa Square.

Meskipun sehari-hari tinggal di Singapura dan bersuamikan warga Inggris, Rany bertekad memegang teguh nilai budaya Indonesia dalam keluarga. ”Budaya Indonesia dan Barat harus bisa seiring bersama. Budaya Indonesia yang praktikal dan budaya Barat yang fungsional. Bukan berarti budaya Indonesia-nya luntur,” kata Rany.

Jalan tengah untuk mempertemukan dua budaya itulah yang juga ingin dihadirkan Rany lewat taman bermain Amazonia yang akan segera didirikan di Jakarta. Berawal dari keinginan menghadirkan lokasi bermain premium bagi anak-anaknya, Rany telah lebih dulu membangun Amazonia yang ternyata diminati anak-anak di Singapura.

Di Amazonia, Rany tidak sekadar memasukkan permainan ala Barat, tetapi juga mengangkat tradisi Indonesia. Ia antara lain menghadirkan kelas tari Bali dan tari Jawa. Dongeng anak seperti Bawang Merah dan Bawang Putih juga akan diangkat menjadi materi di kelas balet atau drama.

”Tinggal di luar negeri justru membuka mata lebar-lebar untuk menghargai nilai budaya Indonesia. Saat di Jakarta karena terlalu di depan mata jadi enggak bisa menghargai. Kenapa kita kurang mendalami kekayaan budaya? Orang Barat justru sangat mengagumi budaya kita,” ujar Rany.

Bisnis keluarga
Amazonia bagi Rany menjadi titik awal memulai bisnis baru yang benar-benar lepas dari bisnis keluarga yang selama ini dilakoninya di bidang pertelevisian dan properti. Lewat taman bermain yang juga akan dibuka di India dan Malaysia, Rany tetap memiliki waktu berkualitas bersama anak.

Rany mengatur jadwal kerjanya agar disesuaikan dengan kegiatan anak. Sambil memimpin rapat pun Rany tetap mengawasi anak-anaknya menyelesaikan tugas sekolah. ”Anak saya geret ke mana-mana. Belum pernah traveling tanpa anak-anak,” tambahnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Artikel Terkait

Editor: Dini


Video Pilihan
Terpopuler
Komentar

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi