Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

UPDATE Kebakaran Hutan Jambi: dari Penambahan Personel hingga Kesulitan Air

Baca di App
Lihat Foto
ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
Petugas SAR Direktorat Sabhara Polda Jambi memadamkan kebakaran lahan gambut milik salah satu perusahaan di Puding, Kumpeh Ilir, Muarojambi, Jambi, Rabu (11/9/2019). Asap kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi telah mengakibatkan aktivitas belajar mengajar di beberapa kota/kabupaten setempat terganggu dan terpaksa diliburkan, sementara upaya pemadaman masih terus dilakukan sejumlah pihak. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/foc.
|
Editor: Sari Hardiyanto

KOMPAS.com - Kebakaran hutan di Jambi masih berlangsung hingga Minggu (22/9/2019) sekitar pukul 11.00 WIB.

Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Djati Witjaksono mengatakan luasan lahan yang terbakar di Jambi mencapai 11.022 hektare.

Data tersebut, imbuhnya merupakan data citra satelit sejak Januari hingga Agustus 2019.

Perinciannya, luas tanah mineral sejumlah 5.218 hektare dan lahan gambut seluas 5.804 hektare.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Data kebakaran tidak bisa dikira-kira pakai pandangan mata, harus diukur di lapangna dan dipadukan engan analisis foto citra landsat," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Minggu (22/9/2019).

Sementara itu, Kapenrem 042/Garuda Putih (Gapu) Mayor Inf Firdaus mengatakan pihaknya bersama seluruh instansi, mulai dari TNI, Polri, BPBD, stakeholder dan Manggala Agni terus berupaya maksimal melakukan upaya pemadaman api di Jambi utamanya.

"Upaya darat sudah kita lakukan. Namun kendala banyak, seperti angin, kita juga sudah bombing, tapi asap tebal sehingga susah," ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (22/9/2019).

Kendala pemadaman, imbuhnya kian sulit lantaran terjadi di musim kemarau. Sehingga keberadaan atau pasokan air yang bisa dimanfaatkan untuk pembuatan kanal-kanal dan parit-parit cacing yang bisa dimanfaatkan untuk memadamkan api berkurang.

"Ini kan musim kemarau sehingga air kering. Kita buat kanal parit-parit cacing untuk menyekar, kalau ada air kita ambil dari situ," katanya lagi.

Kondisi lahan berupa gambut menurutnya juga menjadi alasan api susah padam.

“Titik api yang ada sekarang ini kan dia padam tapi kemudian hidup lagi. Gambut itu atas padam tapi bawah hidup, kalau enggak ada tuangan air atau hujan akan nyala,” ujarnya.

Baca juga: Mengenal Kalsium Oksida untuk Modifikasi Cuaca Penanganan Karhutla

Hujan Buatan

Pihaknya juga menyampaikan sudah ada upaya untuk meminta adanya hujan buatan. Namun kondisi hujan buatan menurutnya belum memungkinkan karena syarat jumlah awan saat ini  belum mencukupi.

“Mudah-mudahan 2-3 hari ini hujan turun, awan ada sehingga bisa membantu memadamkan api tersebut,” ujarnya.

Saat disinggung terkait personel, Sabtu (21/9/2019) tim satgas gabungan penanganan karhutla Jambi telah mendapatkan tambahan 100 personel dari anggota PPRC (Pasukan Pemadam Reaksi Cepat) dari Yonif 144/JY.

Adapun 100 orang tersebut di tempatkan ke 3 SST (Satuan Setingkat Peleton) sebanyak 75 orang dipimpin Kapten Inf Ade Risnandar yang akan memperkuat pasukan yang sudah ada di Desa Sipin Teluk Duren Kec.Kumpeh Ulu, Kab Muara Jambi.

Selanjutnya 1 SST dengan kekuatan 25 orang dipimpin Letda Inf Hidayat akan ditempatkan di Wilayah Subsatgas III Kodim 0419/Tanjab. Adapun pembagian ini 8 orang untuk membantu memperkuat pasukan yang ada di Koramil 419-04/ Nipah Panjang Tanjab Timur, 8 orang di Koramil 419-01/Sabak Tanjab Timur dan 9 orang di Makodim 0419/Tanjab Kuala Tungkal.

Saat ini, pasukan darat baik dari TNI, polri, BPBD, Manggala Agni maupun masyarakat sudah tergelar di wilayah terdampak karhutla sejumlah sekitar 1600 personel.

 

Dihubungi secara terpisah, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) BPPT, Tri Handoko Seto  mengatakan upaya pelaksanaan hujan buatan akan segera dilaksanakan.

"Hari ini kami pantau potensi awannya. Kalau ada awan akan disemai dari posko Pekanbaru. Besok akan kami aktifkan posko Palembang. Untuk melakukan TMC di sumsel sekaligus meng-cover wilayah jambi," ujarnya Minggu (22/9/2019)

Baca juga: Soal Karhutla, Pemerintah Diminta Evaluasi Perizinan Sawit

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi