Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jurnalis
Bergabung sejak: 11 Apr 2017

Jurnalis

Pasar Dinar Dirham dan Ancaman Inflasi

Baca di App
Lihat Foto
ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA
Seorang wartawan memfoto ruko pasar muamalah yang disegel polisi, di Tanah Baru, Depok, Jawa Barat, Rabu (3/2/2021). Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menangkap pendiri Pasar Mualamah Zaim Saidi dan menyegel ruko yang digunakan sebagai tempat transaksi pembayaran menggunakan koin dinar, dirham, dan emas. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/hp.
Editor: Heru Margianto

PROGRAM Aiman, Senin (8/2/2021), pukul20.00 di Kompas TV, tertarik untuk mengangkat tentang sebuah pasar di Tanah Baru, Beji, Depok, Jawa Barat, yang kemarin sempat viral. Ada aktivitas perdagangan menggunakan dirham dan dinar di pasar itu.

Baca juga: Viral Transaksi Pakai Dinar-Dirham di Pasar Muamalah Depok dan Tanggapan Otoritas. . .

Saya mencoba berkeliling di lokasi pasar. Pasar itu kecil. Aktivitas jual beli menggunakan dirham dan dinar tidak setiap hari ada. Hanya akhir pekan. Pedagangnya dadakan dan tak banyak. Tak sampai 20 lapak. Yang dijual adalah kebutuhan sehari-hari dan herbal untuk kesehatan.

Mata uang dirham dan dinar disebarkan secara gratis dan punya potensi inflasi yang meluas, jika pergerakannya masif.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dibagikan gratis

Aktivitas dagang dengan dirham dan dinar sekarang sudah tidak ada di pasar itu. Polisi menahan penggagas pasar yang bernama Zaim Saidi. Baca juga: Profil Zaim Saidi, Pendiri Pasar Muamalah Depok yang Tempuh Pendidikan hingga ke Luar Negeri. Ia dikenakan dua pasal.

Pertama, bertransaksi tidak menggunakan Rupiah. Ancaman hukumannya satu tahun penjara. Yang kedua, ini yang terberat, menciptakan mata uang sendiri, yakni Dinar-Dirham Amirat Nusantara yang tertulis pada koin dinar emas dan dirham perak tersebut.

Saya berkeliling ke sejumlah warga, termasuk pedagang di sana. Tapi rupanya pedagang yang saya temui di sana berbeda dengan pedagang yang biasanya menggunakan dirham-dinar di akhir pekan.

Mereka mengaku tidak mengikuti pasar yang dikelola Zaim Saidi. Tetapi sebagian dari warga dan pedagang di sana mengaku mendapatkan koin dirham perak untuk berbelanja yang diberikan secara cuma-cuma oleh pihak Zaim Saidi.

Sebagian pedagang mengaku koin diberikan gratis dan dikoordinir oleh sejumlah RT untuk dibagikan ke warga.

Awalnya dikatakan diberikan kepada warga tidak mampu, tapi setelah saya berkeliling, banyak warga yang tampak tergolong mampu, seperti memiliki toko sembako lengkap dan paling besar di lingkungannya, juga diberikan koin-koin dinar-dirham ini.

Mencari keping dinar-dirham

Saya mencari ke sana dan sini untuk mendapatkan kepingan koin dirham-dinar. Akhirnya, saya berhasil mendapatkannya secara eksklusif.

Menurut informasi, koin dinar yang saya dapatkan terbuat dari emas 22 karat seberat 4,25 gram. Nilainya Rp 4 juta per keping.

Sementara, keping koin dirham terbuat dari perak murni dengan berat sekitar 3 gram. Satu dirham setara dengan Rp 75 ribu rupiah.

Yang menarik adalah harga barang-barang di pasar itu. Telur ayam curah tak sampai 2 kilogram yang biasanya di pasar-pasar tradisional dijual tak sampai Rp 50 ribu, di pasar mata uang baru ini dijual seharga 1 dirham alias Rp 75 ribu.

Dinar dan dirham memang alat pembayaran yang pernah digunakan di zaman Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam, tapi bukan satu-satunya.

Saya menemui Ketua PBNU yang juga Sekretaris Dewan Penggerak Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Marsudi Syuhud. Ia menjelaskan, sebelum uang sebagai alat tukar ditemukan, masyarakat menggunakan sistem barter atau tukar menukar barang untuk mendapatkan barang yang diinginkan.

"Setelah itu lalu digunakan garam sebagai alat pembayaran, hingga akhirnya keping emas dan perak yang dinamakan dinar dan dirham," tutur dia.

Sistem pembayaran ini terus berkembang dari waktu ke waktu hingga akhirnya terciptalah uang kertas dan elektronik yang kita gunakan saat ini. Stabilitas nilai tukar mata uang resmi sebuah negara dijamin oleh negara.

Menciptakan uang baru sangat berbahaya bagi sebuah negara. Kenapa?

Mari kita gunakan dinar dan dirham ini sebagai contoh. Ada dua hal yang bisa terjadi. Pertama, jika digunakan masif maka harga-harga dipastikan naik drastis. Inflasi bisa tak terkendali. Hal ini terjadi sebagai efek dari pembulatan harga untuk disesuaikan dengan pecahan dinar-dirham tersebut.

Kedua, harga emas dan perak akan naik tajam karena permintaan yang tinggi untuk membuat keping logam ini. Lagi-lagi ujungnya adalah inflasi tak terkendali.

Jika inflasi tak terkendali, harga uang jadi turun dan tergerus jika tak mau dikatakan tak ada nilainya. Hal ini menyebabkan potensi angka kemiskinan naik drastis.

Angka kemiskinan yang tinggi secara tiba-tiba, jika tak dikelola dengan hati-hati, bisa memunculkan huru-hara.

Saya juga meminta pandangan ke pakar ekonomi syariah Banu Muhammad. Ia mengatakan,
dalam khasanah fiqh Islam dinar-dirham itu adalah uang pada masa itu.

“Hari ini, dinar-dirham (di pasar muamalah) itu komoditas, bukan alat tukar. Ya harusnya dia jangan sebut jual-beli. Harusnya sebut barter antara emas dan pecahan sekian, dengan bahan pokok, misalnya," terang Banu.

"Kebayang enggak sih, kalo ada kondisi di mana semuanya begitu, yang ada harga emas akan naik karena demand yang sangat tinggi. Jadi, enggak terkontrol lagi. Sementara harusnya kontrol moneter di satu pihak, yaitu bank sentral,” jelas Banu.

Masih lekat dalam ingatan, bagaimana Venezuela berjuang menghadapi inflasi tak terkendali yang titik tertingginya mencapai 8.000.000 persen pada 2019.

Sebelum ditahan polisi, Zaim Saidi membuat video klarifikasi yang disebar di media sosial. Ia membantah bahwa dinar-dirham yang dibuatnya adalah mata uang baru.

“Mereka menanyakan apakah Dinar dan Dirham ini alat pembayaran. Saya jelaskan bahwa dinar dan dirham ini namanya pun bukan. Itu mengenai satuan berat, seperti kalo kita menyebut gram. Secara modern, berat itu diukur dalam gram, makanya dalam koin itu ada tulisan koin emas dan koin perak," kata Zaim.

Terlepas dari perdebatan yang ada, konsekuensi hukuman dalam kasus ini luar biasa. Hukuman maksimalnya 15 tahun. Di sisi lain, hampir sama sekali tak pernah terdengar kasus serupa sebelumnya. 

Layak dipikirkan soal edukasi sehingga penegakan hukum bisa dipertimbangkan menjadi upaya paling akhir.

Siapa yang melakukan edukasi?

Para ahli dan lembaga resmi yang punya kapasitas terbaik atasnya.

Saya Aiman Witjaksono...
Salam!

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag
Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi