Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
Bergabung sejak: 24 Mar 2020

Penulis adalah pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan.

Kemelut Pro-Kontra Vaksin Nusantara

Baca di App
Lihat Foto
ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI
Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.
Editor: Heru Margianto

VAKSIN Nusantara memicu kehebohan polemik yang bahkan dari ranah kesehatan merambah masuk ke ranah politik sehingga muncul kubu pro melawan kubu kontra Vaksin Nusantara.

Baca juga: Menkes Minta Perdebatan soal Vaksin Nusantara Berjalan secara Ilmiah, Tidak Politis

Pro-kontra

Saya masih bisa menulis naskah ini karena masih hidup berkat Anugrah Perkenan dan Kehendak Yang Maha Kuasa menggunakan Dr Terawan Adiputro bersama tim dokter RSAD Gatot Subroto melakukan tindakan “cuci otak” terhadap diri saya.

Tindakan “cuci otak” gagasan Dr Terawan bukan hanya dianggap kontroversial namun dihujat sebagai sama sekali tidak ilmiah oleh berbagai pihak.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Memang tampaknya sudah menjadi suratan takdir Dr Terawan untuk senantiasa berkarya kontroversional mengobarkan kemelut pro kontra.

Setelah menghebohkan jagad raya kedokteran Nusantara dengan pro-kontra mahakarya “cuci otak” yang meski tentu saja tidak sempurna namun berhasil menyelamatkan berbagai pihak dari serangan stroke maka pada tahun 2021 Dr Terawan kembali memicu polemik pro-kontra terhadap apa yang disebut sebagai Vaksin Nusantara.

Baca juga: Polemik Vaksin Nusantara, Lebih dari 100 Tokoh Nyatakan Dukung BPOM

Masyarakat Nusantara masa kini terbelah dua menjadi yang pro dan yang kontra terhadap gagasan Vaksin Nusantara sama halnya dengan dunia sains terbelah dua menjadi yang pro dan yang kontra terhadap gagasan relativitas Albert Einstein, mashab “survival of the fittest”nya Charles Darwin, gagasan heliosrentrismenya Galileo Galilei mau pun berbagai teori kosmologi yang mayoritas masih merupakan asumsi di jalur andaikatamologi belaka.

Hak asasi konsumen

Wajar bahwa setiap gagasan Iptek bersifat baru senantiasa diwarnai dengan kontroversi pemicu kemelut pro dan kontra.

Masing-masih pihak yang pro mau pun yang kontra merasa memiliki alasan keimanan ilmiah sebagai landasan dogmatis keyakinan diri masing-masing.

Diri masing-masing merasa dirinya sendiri pasti benar sementara orang lain pasti keliru.

Baca juga: LBM Eijkman: Ada Inkonsistensi Protokol Penelitian Terkait Vaksin Nusantara

Sebagai rakyat jelata serba awam sambil tidak memiliki kekuasaan akademis mau pun politik maka saya wajib tahu diri untuk tidak berani melibatkan diri ke dalam polemik pro-kontra vaksin Nusantara atau vaksin apapun.

Namun sebagai konsumen pelayanan kesehatan termasuk vaksin, saya berhak mengharap agar segenap pihak yang sedang sengit berpolemik berkenan jangan melalaikan apalagi melupakan atas hak asasi konsumen memperoleh produk yang terjamin aman serta berhak tanpa paksaan apalagi ancaman untuk memilih produk kesehatan yang tepat dan benar bagi diri masing-masing.

Fastabiqul Khoriot

Maka silakan siapa pun termasuk Dr Terawan juga kreatif dan inovatif berkarya demi fastabiqul khoirot melawan angkara murka virus Corona.

Namun selaras etika masyarakat beradab seyoganya jangan sampai ada yang arogan memaksakan keyakinan karyanya sebagai yang terbaik mau pun jangan sampai ada yang menyemooh karya orang lain sebagai yang terburuk.

Sebab pada kenyataan mustahil ada manusia yang sempurna maka dengan sendirinya sertamerta juga mustahil ada manusia yang sempurna dalam hal berkarsa dan berkarya melawan angkara murka pagebluk Corona. Manusia berupaya namun Allah Maha Kuasa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tag
Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi