Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kartini dan Sekolah Kartini, Impian Wanita Pribumi dan Utang Rasa Pemerintah Belanda

Baca di App
Lihat Foto
WIKIMEDIA COMMONS/GPL FDL
RA Kartini
|
Editor: Inten Esti Pratiwi

KOMPAS.com - Pola pikir RA Kartini tak seperti anak gadis pada zamannya. Mungkin karena Kartini sempat mengenyam pendidikan di Europese Lagere Scholl (ELS) meski hanya sampai usia 12 tahun.

Setelah itu, fase hidup Kartini tak jauh berbeda dari anak-anak wanita seusianya, yaitu menjalani pingitan ketat, berada di dalam rumah. 

Namun, meski tubuhnya tersekat dinding dan pintu kayu, ruang geraknya terkotak di sebuah bangunan bernama rumah, otak Kartini melanglang buana hingga ke Eropa. 

Pikirannya berjalan-jalan menyeberangi benua. Belajar tentang kehidupan bangsa Eropa, tentang pendidikan yang bisa dicicipi wanita-wanita muda seusianya, tentang kesempatan-kesempatan untuk setara yang ia sendiri belum bisa mendapatkannya.

Lewat pengetahuan berbahasa Belanda yang ia dapatkan ketika bersekolah di ELS, Kartini menjalin banyak tautan korespondensi dengan teman-teman wanitanya yang bermukim di Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon dan Estelle Zeehandelaar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Baca juga: 21 April, Selamat Ulang Tahun, Ibu Kartini...

Keluhan-keluhan Kartini

Surat-surat Kartini kepada sahabatnya lebih banyak berisi keluhan. Tentang mengapa wanita pribumi harus menjalani pingitan dan tak bisa setara dalam hal menempuh ilmu seperti anak laki-laki, atau tentang mengapa harus ada poligami yang menempatkan wanita dalam ketidakadilan.

Keresahan Kartini makin membuncah tatkala ia menemukan lembar-lembar karya sastra yang semakin mematangkan otak dan gagasan-gagasan yang mengalir dari dalamnya.

Buku Louis Coperus, Multatuli, Van Eeden, dan Augusta De Witt dilahapnya tanpa ampun. Bahkan, konon, Surat-Surat Cinta milik Multatuli dibacanya hingga berulang-ulang kali.

Baca juga: Mengenal Sepak Terjang Multatuli, Sosok yang Menginspirasi RA Kartini

Impian Kartini

Rosa Abendanon atau Rosa Manuela yang adalah istri dari Abendanon, pejabat Dinas Pendidikan Belanda, adalah salah seorang teman yang paling mendukung gagasan-gagasan Kartini.

Rosa-lah yang pertama kali tertarik dengan gagasan Kartini yang ingin mendirikan sekolah kejuruan untuk perempuan pribumi. 

Kartini yang sempat memiliki impian melanjutkan sekolah ke Belanda tetapi gagal ini, pada akhirnya tetap tinggal di Jepara.

Untunglah gayung bersambut, gagasannya untuk mendirikan sekolah dan menjadi guru direspons hangat oleh suaminya, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang menikahinya pada tahun 1903.

Kartini pun mendirikan sekolah wanita yang terletak di sebelah timur pintu gerbang kompeks kantor Kabupaten Rembang.

Profesi impiannya ini sayang tak bisa digelutinya lama. Setahun setelah menikah, Kartini melahirkan anak satu-satunya, Soesalit Djojoadhiningrat.

Empat hari setelahnya, Kartini wafat dalam usia 25 tahun dan dimakamkan di Desa Bulu, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Baca juga: 6 Hal tentang Habis Gelap Terbitlah Terang, Kumpulan Surat Kartini yang Dijadikan Buku

Penyesalan dan balas budi 

Kepergian Kartini menimbulkan banyak gejolak di hati Rosa dan teman-teman wanita Kartini yang lainnya.

Terutama Rosa, yang akhirnya menelan penyesalan lantaran pernah menghalang-halangi rencana Kartini menempuh pendidikan ke Belanda karena ia tak mau aroma Jawa yang ada pada diri Kartini luntur.

Untuk menebus penyesalan, Rosa mengumpulkan mimpi dan gagasan-gagasan Kartini yang tercetak dalam lembaran-lembaran surat menjadi sebuah buku berjudul Door Duisternist Tot Licht, buku yang akhirnya kita kenal dengan tajuk Habis Gelap Terbitlah Terang.

Tak disangka, buku ini memantik banyak gagasan di Negeri Kincir Angin. Hingga Ratu Belanda sendiri yang kemudian menunjuk Abendanon untuk membentuk pendidikan perempuan pribumi di Hindia Belanda.

Hal ini tertuang dalam makalah milik Retnaningtyas Dwi Hapsari yang berjudul Sekolah Kartini dan Van Deventer: Pelopor Sekolah Perempuan di Semarang Pada Masa Kolonial.

Baca juga: 6 Hal tentang Habis Gelap Terbitlah Terang, Kumpulan Surat Kartini yang Dijadikan Buku

Terwujudnya gagasan Kartini

Tepat pada tanggal 1 Februari 1912, terbentuklah Yayasan Kartini, yang akhirnya diresmikan pada 22 Februari di tahun yang sama.

Deventer, yang adalah pembaca setia buku kumpulan surat-surat Kartini, terpilih menjadi ketua yayasan.

Tak menunggu waktu lama, ia dan istrinya segera menepi ke Hindia Belanda dan mendirikan Sekolah Kartini yang pertama yaitu di Semarang, tepat pada tahun 1913.

Kemudian, disusul pendirian Sekolah Kartini di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, juga wilayah-wilayah lainnya.

Sekolah wanita yang berada di bawah payung Yayasan Kartini ini mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu.

Dari yang awalnya dibuka hanya untuk kalangan priyayi dengan guru-guru dari kalangan asing menjadi sekolah yang terbuka lebar untuk siapa saja, termasuk rakyat biasa.

Warisan Kartini ini masih ada hingga kini. Lestari, sama seperti ide dan gagasan-gagasannya. 

Agaknya, jika ingin berbicara soal gagasan dan impian wanita, Kartini sudah merumuskannya dalam satu kalimat sederhana, "Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi."  

Selamat Hari Kartini untuk semua wanita Nusantara....

Baca juga: Persahabatan RA Kartini dengan Perempuan Belanda Buka Pintu Ruang Emansipasi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi