Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wacana Duet Puan-Anies di Pilpres 2024, Mustahil

Baca di App
Lihat Foto
Faisol Riza
|
Editor: Fitri Rachmawati

KOMPAS.com-Kendati Pilpres 2024 masih harus menunggu 3 tahun lagi, tetapi nama-nama politisi beken mulai bermunculan diwacanakan menjadi calon presiden atau wakil presiden.

Nama-nama politisi dan tokoh publik yang dianggap punya elektabilitas tinggi mulai dipasangkan, diwacanakan untuk duet bersama maju di Pilres 2024.

Salah satunya, muncul wacana duet Puan Maharani dan Anies Baswedan sebagai calon presiden dan wakil presiden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 yang digagas Politisi asal PDI-P Effendi Simbolon belum lama ini.

Wacana duet Puan-Anies di Pilpres 2024 ini direspon oleh Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Faisol Riza.

Menurut Faisol Riza, wacana pasangan Puan Maharani dan Anies Baswedan sebagai calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2024 tidak akan pernah terjadi alias mustahil bakal terjadi.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lantaran, kedua tokoh tersebut memiliki DNA politik yang berbeda satu sama lain.

“Tak akan terjadi, tidak akan kejadian, beda DNA,” tutur dia kepada Kompas.com, Selasa (1/6/2021).

Faisol Riza justru menilai Puan Maharani cocok jika dipasangkan dengan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar yang dinilainya lebih mumpuni dibandingkan dengan Anies Baswedan.

“Puan dan Muhaimin memiliki kesamaan pandangan dalam kebangsaan, “ kata dia.

Apalagi lanjut dia mengatakan, PDI-P sebagai partai pemenang pemilihan umum (Pemilu) 2019 dinilai bisa membuat koalisi pemerintahan yang kuat dan efektif . Jika PKB dan PDI-P berkoalisi, memasangkan Puan Maharani dengan Muhaimin Iskandar.

“Dan terbukti kerja sama koalisi selama dua masa pemerintahan ini berhasil,” kata dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani menilai munculnya sejumlah nama-nama tokoh yang dipasangkan sebagai calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2024 hanya untuk mengetahui reaksi publik atau sebagai bentuk test the water.

Seperti wacana Puan Maharani dan Anies Baswedan sebagai calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2024 yang sebelumnya diusulkan Effendi Simbolon, politisi asal PDI-P.

“Munculnya nama-nama tokoh yang digadang-gadang untuk Pilpres 2024 sebagai sebuah kewajaran dalam demokrasi,” kata dia.

PPP melihat pasangan Puan dan Anies tersebut, sebagai formula nasionalis dan agamis ataupun sebaliknya, agamis dan nasionalis.

Meskipun demikian, terlepas dari siapa pun sosok bakal calon presiden dan wakil presidennya nanti. PPP menilai yang penting formula yang diusung sebagai ikhtiar dalam menjaga kerekatan kebangsaan.

“Terutama di tengah meningkatnya politik identitas yang dikembangkan baik berbasis ideologi sekuler maupun keagamaan,” tegas dia.

Bahkan, saat ini partai-partai Islam atau berbasis Islam masih meyakini terhadap formula pasangan agamis dan nasionalis atau nasionalis dan agamis untuk Pilpres 2024 nanti.

Terlepas dari siapapun pasangan yang akan maju di Pilpres 2024, termasuk formulasi basis tokoh yang diusung nanti. PPP saat ini lebih menitikberatkan pada pelaksanaan Pemilu dan Pilpres 2024 supaya bisa berjalan lebih baik.

“Sebab, pengalaman Pemilu 2014 dan 2019 dinilai sangat mengurangi nilai dan makna demokrasi,” keluh Arsul Sani.

Bahkan, menurut Arsul Sani Pemilu 2014 dan 2019 berdampak pada terkikisnya nilai-nilai pancasila yang seharusnya tetap ditegakkan.

Pada berita sebelumnya, politisi PDI-P Effendi Simbolon mengusulkan wacana pasangan Ketua DPP PDI-P Puan Maharani dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk maju di Pilpres 2024.

Pasangan tersebut dinilai Effendi sangat cocok, Puan sebagai calon presiden dan Anies sebagai wakil presiden di Pilpres 2024 nanti.

“Saya punya usul, saya bilang, Mbak Puan itu dipasangkannya harus sama Anies. Jangan lagi Prabowo. Jadi, Puan capres, Anies cawapres,” kata Effendi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag
Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi