Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Beredar Pesan Jangan ke RS kalau Batuk karena Bisa "Di-Covid-kan", Ini Tanggapan Perhimpunan RS Seluruh Indonesia

Baca di App
Lihat Foto
FACEBOOK
Tangkapan layar unggahan yang menyebutkan jika masyarakat mengalami batuk, pilek, hingga meriang, tak perlu terburu-buru ke rumah sakit karena nanti akan di-Covid-kan.
|
Editor: Inggried Dwi Wedhaswary

KOMPAS.com - Di media sosial beredar pesan yang menyebutkan agar tak usah terburu-buru ke rumah sakit jika batuk, pilek, atau meriang.

Alasannya, jika ke rumah sakit, akan divonis positif Covid-19. 

Narasi itu dibagikan sebuah akun di grup Facebook Info Wonogiri, Kamis (1/7/2021).

Berikut isi pesan tersebut:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Monggo bisa disebarluaskan kepada keluarga, sedulur, konco dan siapa saja..berhubung sekarang masuk panca roba (mongso sepuluh), ketika ada gejala pada tubuh seperti batuk, pilek, meriang, panas, hilangnya indera penciuman dan perasa dll..jangan terburu-buru kerumah sakit..Karena ketika diperiksa pasti akan divonis reaktif bahkan positif covid..Sehingga saat divonis pasti kondisi mental jadi down, sehingga kondisi imun tambah melemah.. Yang seharusnya bukan covid karena ter sugesti dan takut jadinya di bilang covid. Hati2...," demikian narasi yang dibagikan akun itu.

Baca juga: Ramai soal Harga Tes Antigen dan PCR Murah, Ini yang Perlu Diwaspadai

Bagaimana tanggapan dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi)?

Ada kriterianya, tidak asal Covid...

Kepala Humas Persi, Anjari Umarjianto, membantah tudingan yang menyebutkan bahwa rumah sakit seenaknya menentukan pasien positif Covid-19.

Ia menegaskan, dalam menentukan apakah pasien terkonfirmasi Covid-19 atau tidak, ada sejumlah kriteria yang harus terpenuhi.

"Kan ada pemeriksaan lab-nya, ada pemeriksaan klinisnya, baru kemudian seseorang itu bisa ditentukan bahwa dia terinfeksi Covid-19 atau tidak, jadi tidak asal begitu saja. Semua dengan standar kriteria," kata Anjari kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Jumat (2/7/2021).

Anjari tak habis pikir mengapa masih ada segelintir orang yang berpikir demikian.

"Rumah sakit dituduh meng-Covid-kan, ayolah ini sudah 1,5 tahun kita mengalami pandemi Covid-19, kok ya masih ada yang berpikiran begitu," kata dia.

Baca juga: Ramai Isu WHO Tetapkan Indonesia Negara High Risk Covid-19, Ini Kata Kemenkes

Laporkan ke polisi

Anjari mengatakan, jika pasien ataupun keluarganya memiliki bukti kuat "di-Covid-kan" oleh oknum rumah sakit, sebaiknya melaporkan hal itu kepada pihak yang berwajib.

Dengan demikian, permasalahan tersebut dapat segera ditangani.

"Kalau memang dia punya bukti, punya pengalaman di-Covid-kan, laporkan saja ke polisi, kan jelas itu pidana kalau memang ada yang seperti itu," papar dia.

Daripada berpolemik mengenai hal itu, Anjari berpesan, akan lebih baik jika semua elemen bersama-sama berjuang melawan Covid-19.

"Dibandingkan mengurusi kayak gitu, ayo sama-sama berjuang, sama-sama menguatkan, sama melawan Covid-19 ini. Masyarakat melakukan prokes, jaga kesehatan, jaga imun, kami tenaga kesehatan jika ada yang memerlukan perawatan, akan kami tolong semampu kami," kata Anjari.

Baca juga: Ramai soal Minum Minyak Kayu Putih Atasi Gejala Covid-19, Ini Kata Dokter

Lakukan isolasi mandiri

Mengenai narasi agar tidak perlu terburu-buru ke rumah sakit jika mengalami keluhan seperti batuk, pilek, panas, atau meriang, Anjari menyepakati hal itu.

Alasannya, bed occupancy rate (BOR) atau angka yang menunjukkan persentase penggunaan tempat tidur di rumah sakit sudah sangat padat.

Jika kondisi tak serius, lebih baik melakukan isolasi mandiri di rumah dengan tetap menjalankan protokol kesehatan (prokes) secara ketat.

"Dalam situasi dan kondisi darurat Covid-19 seperti saat ini, ditambah kondisi rumah sakit yang BOR-nya sudah sangat padat, kami setuju untuk masyarakat kalau bisa isolasi mandiri, kan memang disarankan begitu," ujar dia.

"Misalnya keluhannya batuk, pilek, ya memang tidak perlu buru-buru ke rumah sakit. Sebaiknya yang sifatnya tidak bergejala maupun bergejala ringan, lakukan isolasi mandiri dengan prokes," ujar Anjari.

Baca juga: Ramai Isu Konsumsi Vitamin C 1.000 Mg Tiap 3 Jam Cegah Covid-19, Ini Kata Dokter

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi