Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konflik Petugas dan Masyarakat dalam Penegakan PPKM Darurat, Apa yang Seharusnya Dilakukan?

Baca di App
Lihat Foto
KOMPAS.COM/ABDUL HAQ YAHYA MAULANA T.
Oknum Satpol PP menganiaya pasangan suami isteri pemilik warung kopi saat menggelar razia PPKM di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Rabu, (14/7/2021).
|
Editor: Inggried Dwi Wedhaswary

KOMPAS.com - Di media sosial dan pemberitaan media, ramai soal sejumlah kasus gesekan antara warga dengan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang melakukan penertiban saat penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Di satu sisi, petugas yang menegakkan aturan adalah bentuk tanggungg jawabnya terhadap pekerjaan. Sementara, masyarakat yang tetap beraktivitas juga tengah mencari penghasilan saat perekonomian sulit seperti saat ini.

Baca juga: Adu Mulut dan Saling Bentak dengan Polisi, Pemilik Angkringan: Bapak Masih Gajian, Saya Cari Makan!

Apa yang harus diperbaiki agar aturan PPKM Darurat bisa ditegakkan, dengan upaya persuasi yang lebih humanis dan bisa diterima tanpa berkonflik?

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Guru Besar Sosiologi dari Universitas Gadjah Mada, Sunyoto Usman mengatakan, tidak adanya jalan keluar menjadi penyebab masyarakat masih nekat melanggar aturan PPKM Darurat.

"Idealnya PPKM disertai dengan bantuan sosial yang memadai untuk memberi santunan kelompok miskin," kata Usman ketika dihubungi Kompas.com, Minggu (17/7/2021).

Ia menyarankan, jika negara mengalami keterbatasan anggaran untuk hal ini, maka pemerintah bisa memberikan bantuan kepada masyarakat yang ada di wilayah paling terdampak.

"Karena keterbatasan anggaran, dana bantuan bisa diprioritaskan (untuk masyarakat di) daerah-daerah tertentu yang terpapar sangat signifikan," kata dia.

Jika diperlukan, menurut Usman, perlu menggerakkan dana filantropis yang berasal dari organisasi-organisasi keagamaan, kalangan profesional, pengusaha besar, lembaga adat, dan sebagainya.

Ia juga berpendapat, perlunya pengembangan lapangan kerja yang tidak membutuhkan keterampilan khusus sehingga akan lebih banyak tenaga kerja yang terserap dan memiliki sumber penghasilan.

"Juga perlu pengembangan lapangan kerja non-skill labor seperti pemeliharaan gedung kantor-kantor pemerintah, sekolah, rumah ibadah," ujar Usman.

Usman menyadari, konflik semacam ini memang banyak terjadi pada masyarakat urban terutama yang bekerja di sektor informal.

Baca juga: Cerita Razia PPKM Berakhir Ricuh, Oknum Satpol PP Aniaya Ibu Hamil, hingga Polisi Diusir Warga

Hal yang sama diungkapkan dosen sosiologi dari Universitas Brawijaya, Bagong Suyanto.

Ia mengatakan, permasalahan antara aparat dan masyarakat yang semacam ini tidak akan pernah berakhir jika tidak ada solusi konkret yang diberikan.

"Resistensi akan muncul kalau masyarakat tidak memperoleh subtitusi sumber penghasilan. Beda dengan tahun lalu di mana masyarakat masih punya tabungan, sekarang tabungannya sudah habis," kata Bagong saat dihubungi terpisah, Minggu (17/7/2021).

Adapun terkait dengan pendekatan represif yang banyak digunakan oleh aparat dan petugas dalam menertibkan masyarakat, Bagong menilai ada pendekatan lain yang lebih patut untuk diterapkan.

Pendekatan yang harus dilakukan berbasis gaya hidup dan pendekatan berbasis insentif.

Berbasis insentif berkaitan dukungan finansial dan sosial terkait hal-hal yang dibutuhkan masyarakat untuk bertahan hidup.

Sementara, pendekatan berbasis gaya hidup dinilainya penting karena masyarakat yang memiliki karakteristik berbeda-beda.

"Variasi pendekatan perlu dikembangkan, karena masing-masing masyatakat karakterisktik sosio-budayanya berbeda-beda," ujar Bagong.

"Misal untuk anak muda mengandalkan vlog. Untuk ibu-ibu sosialita lebih mengandalkan (aspek) konsumsi: masker bordir dan lain-lain," kata dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi