Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Isolasi Mandiri di Rumah, Waspadai Tanda-Tanda Kucing Ikut Stres

Baca di App
Lihat Foto
SHUTTERSTOCK/SOLOVEVA KSENIIA
Ilustrasi kucing menggigit tangan.
|
Editor: Artika Rachmi Farmita

KOMPAS.com - Stres akibat pandemi Covid-19 yang tak kunjung mereda tak hanya dialami oleh manusia, namun juga hewan peliharaan seperti kucing. Jika selama isolasi mandiri Anda sering berinteraksi lebih intens dengan kucing kesayangan, ada baiknya memperhatikan perilakunya.

Stres yang dialami kucing dapat mengganggu kesehatan fisiknya. Kucing yang stres juga bisa mengalami gangguan dalam perilaku, hingga depresi.

Ketika kucing menunjukkan gangguan dalam perilaku, maka Anda sebaiknya mulai dapat melihat tanda-tanda gangguan kesehatannya. Misalnya gangguan saluran kencing yang membuat kucing buang air kecil sembarangan, hingga tanda-tanda lainnya.

Baca juga: 9 Perubahan Perilaku Kucing yang Perlu Diwaspadai

Dilansir dari The Spruce Pets, ada beberapa penyebab kucing mengalami stres. Perubahan rutinitas seringkali menandai stres pada kucing:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

1. Suara berisik

Jika Anda mengadakan pesta atau pertemuan di rumah yang menyebabkan suara berisik, ini akan membuat kucing stres. Apalagi jika selama isolasi mandiri atau PPKM Darurat belakangan, membuat kita beraktivitas lebih lama di rumah.

Tidak hanya itu, suara musik, pembicaraan, dan suara tertawa yang kencang pun bisa mengganggu kucing.

2. Kedatangan anggota keluarga baru

Kucing dapat mengeluarkan berbagai reaksi ketika ada anggota keluarga baru, baik manusia atau hewan. Ketika sudah merencanakan kehadiran anggota baru dalam keluarga, Anda sebaiknya paham bahwa kucing bisa mengalami.

Untuk itu, pastikan juga anggota keluarga baru tersebut memahami kondisi yang akan dialami kucing peliharaan. Sang anggota baru ini juga harus memahami kucing akan berjalan berkeliaran di sekelilingnya dan jangan memaksakan hubungan dengan kucing harus secepatnya terbangun.

Baca juga: Waspadai Penyebab Penurunan Berat Badan pada Kucing, Stres hingga Kanker

3. Jadwal pergi ke dokter hewan

Banyak kucing merasa takut dan stres saat dibawa ke dokter hewan. Oleh sebab itu, gunakan kandang atau keranjang saat membawa kucing ke dokter hewan. Lapisi permukaan kandang atau keranjang dengan selimut tipis.

4. Pindah rumah

Ketika memutuskan untuk pindah tempat tinggal atau pindah rumah, Anda harus cermat karena kucing bisa stres. Selama proses membereskan barang untuk pindahan, ada baiknya kucing Anda tetap tertutup di ruangan terpisah dengan mainan favorit, kotak pasir kotoran, makanan, dan tempat tidur, sementara bagian rumah lainnya dipindahkan.

Bawalah kucing dan semua miliknya ke rumah atau apartemen baru, di mana Anda akan meletakkannya di "ruang aman" sementara Anda membongkar dan mengatur ulang sisa rumah tangga. Memiliki barangnya sendiri di sekitar akan membantu kucing Anda memahami bahwa ini adalah rumah.

5. Rasa takut

Kebakaran, hujan deras, gempa bumi, dan badai adalah beberapa contoh peristiwa yang bisa membuat kucing stres.

Agar kucing tidak mengalami ketakutan yang berakhir pada stres, maka tempatkan kucing di dalam ruangan, dengan pencahayaan yang tidak terang, dan alunan musik dengan suara pelan. Tidak lupa, tempatkan pula kotak pasir untuk kucing buang air.

Baca juga: Ketahui, Ini Suara dan Aroma yang Membuat Kucing Stres

Mengeong lebih sering termasuk tanda stres?

Tidak semua kucing sering mengeluarkan suara. Namun jika pada dasarnya kucing Anda bukanlah tipe kucing yang suka mengeong lalu tiba-tiba menjadi lebih sering mengeong, ini bisa terjadi karena beberapa hal.

Kucing sering mengeong biasa disebut sebagai vokalisasi berlebihan. Definisi berlebihan di sini tampaknya bervariasi dari satu kucing ke kucing lainnya.

Saat kucing mengeong karena meminta makan dan perhatian dan ini adalah hal yang normal. Akan tetapi jika kucing mengeong lebih sering dari biasanya, kemungkinan besar si manis sedang mengalami sesuatu.

Baca juga: Isolasi Mandiri di Rumah, Bagaimana Agar Kucing Tak Tertular Covid-19?

Menurut Science Norway, kucing rumahan mungkin secara genetik lebih cenderung mengeong daripada kucing liar karena ingin berkomunikasi dengan kita. Anak kucing banyak mengeong saat mereka membutuhkan makanan atau perhatian dari induknya dan kebiasaan ini terbawa hingga kucing dewasa.

Saat kucing terasa mengeong berlebihan, ada kemungkinan ini terkait dengan kondisi khusus, entah itu masalah medis atau perilaku.

Dalam artikel yang ditulis oleh dokter hewan Karen Sueda, dia menuliskan, kucing mengeong saat kesakitan, sebagai cara untuk mencari kenyamanan.

Selain karena kesakitan, kucing juga bisa mengalami masalah neurologis atau sensorik seperti kehilangan pendengaran atau penglihatan.

Jika mengeong disertai dengan kecemasan, frustrasi, agresi, atau perilaku aneh lainnya, mungkin inilah saatnya Anda membawanya ke dokter hewan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Sumber: Kompas.com
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi