Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Austria Berencana Lockdown Orang-orang yang Belum Divaksin Covid-19

Baca di App
Lihat Foto
NZ HERALD/MICHAEL CRAIG via AP
Warga Selandia Baru menyeberangi jalan yang kosong di distrik pusat bisnis Auckland, Jumat (27/8/2021). Selandia Baru lockdown akibat terjadi penyebaran Covid-19 lagi setelah 6 bulan bebas penularan lokal.
|
Editor: Rendika Ferri Kurniawan

KOMPAS.com - Pemerintah Austria berencana memberlakukan penguncian atau lockdown pada orang-orang yang belum divaksinasi Covid-19 di tengah rekor lonjakan kasus harian.

Kanselir Austria Alexander Schallenberg mengatakan, rencana ini kemungkinan akan diputuskan pada Minggu (14/11/2021).

Schallenberg tidak mengatakan kapan penguncian akan berlaku.

Namun, dua provinsi yang paling terpukul oleh gelombang infeksi kali ini, Upper Austria dan Salzburg, akan memberlakukan lockdown itu sendiri mulai Senin (15/11/2021).

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (12/11/2021), sekitar 65 persen populasi Austria telah menerima vaksin Covid-19 dosis penuh, tapi masih menjadi salah satu tingkat terendah di Eropa barat.

Baca juga: Pandemi Belum Usai, Epidemiolog: China Lockdown, Belum Lagi Eropa...

Skeptis tentang vaksin

Banyak orang Austria yang dianggap masih skeptis tentang vaksin, pandangan yang didorong oleh pengaruh Partai Kebebasan sayap kanan, terbesar ketiga di parlemen.

"Tujuannya sangat jelas bahwa kami memberikan lampu hijau pada Minggu ini untuk lockdown bagi mereka yang tidak divaksinasi," kata Schallenberg, seraya menambahkan bahwa unit perawatan intensif semakin mencekam.

"Perkembangannya sedemikian rupa sehingga saya pikir tidak masuk akal untuk menunggu. Kami akan mengambil langkah ini sekarang dan keinginan saya adalah bahwa kami mengambil langkah ini pada hari Minggu dan secara nasional untuk kesembilan provinsi," imbuh Schallenberg.

Sebelumnya, dia mengatakan bahwa mereka yang tidak sepenuhnya divaksinasi harus mengikuti aturan pembatasan yang sama pada mobilitas harian mereka.

Hal tersebut seperti yang dialami seluruh negara dalam lockdown tahun lalu.

Baca juga: Viral, Video Polisi di Medan Diamuk Warga Usai Diduga Meminta Uang Rp 200 Ribu ke Pengendara Motor

Sangat mengkhawatirkan

Di samping itu, Schallenberg ingin menghindari menempatkan pembatasan lebih lanjut pada mereka yang divaksinasi untuk mendorong ketidaksepakatan untuk mendapatkan vaksin.

"Penguncian untuk yang tidak divaksinasi berarti seseorang tidak dapat meninggalkan rumah kecuali seseorang akan bekerja, berbelanja (untuk kebutuhan pokok), tepatnya apa yang harus kita semua alami pada 2020," kata Schallenberg.

Pemerintah Uni Eropa pada Jumat (12/11/2021) menghadapi lonjakan Covid-19 yang sangat mengkhawatirkan, dan Belanda menjadi negara Eropa Barat pertama yang memberlakukan lockdown.

Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengumumkan pada Kamis (11/11/2021), setidaknya selama 3 pekan memberlakukan lockdown yang menargetkan restoran, toko, dan acara olahraga untuk mengekang rekor lonjakan infeksi Covid-19.

Baca juga: Singapura Tidak Menanggung Biaya Perawatan Pasien Covid-19 yang Menolak Divaksin

Belanda lockdown

Pemberlakuan lockdown lagi oleh Pemerintah Belanda terjadi saat badan penyakit Uni Eropa mengatakan 10 negara di blok 27 anggota menghadapi situasi lonjakan Covid-19 dengan status "sangat mengkhawatirkan".

Lalu, memperingatkan potensi pandemi Covid-19 yang memburuk di seluruh Benua Eropa, sebagaimana diberitakan Kompas.com, Sabtu (13/11/2021).

Dalam penilaian risiko Covid-19 mingguan, Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Eropa mencatat ada Belgia, Bulgaria, Kroasia, Republik Ceko, Estonia, Yunani, Hongaria, Belanda, Polandia, dan Slovenia, dalam kategori sangat mengkhawatirkan.

Sejak muncul di China pada Desember 2019, Covid-19 telah menewaskan lebih dari 5 juta orang dan menyebabkan kehancuran ekonomi di seluruh dunia.

Baca juga: Cara Download Sertifikat Vaksin Covid-19 Melalui Chatbot WhatsApp PeduliLindungi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi