Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Doing Nothing" alias Tak Melakukan Apa-apa Tak Selalu Negatif, Ini Manfaatnya

Baca di App
Lihat Foto
Unsplash/Jeffery Erhunse
Tak melakukan apa-apa tak selalu negatif, justru ini adalah cara meditasi untuk melepas penat dan melahirkan ide-ide baru.
|
Editor: Inten Esti Pratiwi

KOMPAS.com - Doing nothing atau tak melakukan apa-apa karena mager atau faktor-faktor lain ternyata tak selalu negatif.

Kebanyakan orang menganggap orang lain yang hanya duduk atau bersantai tanpa melakukan apa-apa adalah tanda kemalasan yang sifatnya negatif.

Padahal menurut studi, tak melakukan apa-apa dan hanya duduk tenang bersantai adalah salah satu cara tubuh mengisi energi. Layaknya ponsel yang juga butuh diisi daya listrik, tubuh pun begitu. Hanya saja bentuk energinya yang berbeda.

Dilansir dari South China Morning Post, 1 Januari 2021, doing nothing alias bersantai tak melakukan apa-apa ini jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda disebut niksen.

Baca juga: Penyintas Covid-19 Rawan Terkena Gangguan Kesehatan Mental, Begini Pencegahannya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Salah satu cara meditasi paling mudah

Doing nothing atau niksen di sini adalah mengambil jeda di antara kesibukan dengan tak melakukan apapun juga.

Manfaat kesehatan dari doing nothing tertulis dalam buku Niksen: Embracing the Dutch Art of Doing Nothing yang ditulis oleh jurnalis Belanda, Olga Mecking.

Mecking sendiri mengakui ide menulis buku tersebut lahir selepas ia membaca artikel di majalah kesehatan Belanda, Gezond Nu, yang menyatakan bahwa niksen adalah cara baru meditasi.

"Akhirnya saya menemukan artikel yang menyatakan bahwa tak apa sekali-sekali tak melakukan apa-apa. Terutama di zaman yang serba memburu-buru kita, agar kita berbuat lebih dan lebih. Niksen terlihat seperti sebuah antidote, dan saya langsung ingin menulis itu semua dalam sebuah buku," ujar Mecking. 

Buku yang awalnya diterbitkan dalam Bahasa Inggris ini langsung populer. Dan langsung dicetak ulang dalam 10 versi bahasa termasuk Bahasa Belanda, Perancis, dan Rusia.

Simanthini Ghosh, asisten profesor psikologi di India's Ashoka University menyatakan bahwa di pandemi ketika banyak orang bekerja dari rumah, gangguan mental seperti anxiety, kesepian dan depresi mudah datang kapan saja.

Nah niksen atau doing nothing, adalah kegiatan yang bisa digunakan untuk mendetoks semua kelelahan psikologis yang diderita masing-masing orang.

"Semua orang butuh istirahat dari melakukan banyak hal. Dalam dunia psikologi ini disebut decision avoidance, atau memilih untuk tak memilih atau memutuskan sesuatu," ujar Ghosh.

Baca juga: 8 Rutinitas Pagi untuk Meningkatkan Kesehatan Mental

Melahirkan ide-ide baru

Tak semua pakar psikologi setuju dengan manfaat kesehatan dari niksen. Christoper Anderson dari Universitas Maryland pernah menulis artikel di tahun 2003, menyebutkan bahwa decision avoidance adalah status quo yang dipilih oleh seseorang. Dan pilihan ini termasuk ke dalam gangguan perilaku.

Artikel Anderson ini ditayangkan dalam American Psychological Association's Psychological Bulletin.

Namun Mecking menanggapi tulisan Anderson tersebut secara positif. Mecking mengatakan bahwa otak manusia selalu aktif.

Ketika otak seseorang yang tengah dalam fase niksen diperiksa dalam functional magnetic resonance imaging (fMRI), otak ini terlihat seaktif otak seseorang yang sengaja diberi tugas untuk diselesaikan.

Bedanya, otak mereka yang tengah bekerja aktif karena digunakan menyelesaikan pekerjaan, sedangkan otak mereka yang tengah doing nothing berloncatan kesana kemari memikirkan banyak hal.

"Dalam fase ini, niksen atau doing nothing terkadang bisa melahirkan ide-ide baru yang segar," ujar Mecking.

Namun doing nothing atau niksen yang positif di sini bukanlah duduk santai sambil berselancar di media sosial. Namun duduk santai, memperhatikan awan, dedaunan, atau orang yang berlalu lalang di sekitar kita.

Konsep niksen yang bisa mendatangkan manfaat positif bagi tubuh ini sebenarnya sudah dipercaya dari abad ke abad. Salah satunya oleh Parmanides, filsuf dari Mazhab Elea Yunani, juga pengikut kepercayan Taoisme yang percaya Wu Wei, yaitu konsep tidak melakukan apa-apa sama sekali.

Baca juga: Hanya 4 Persen Populasi Dunia yang Memiliki Kepribadian ISFP, Anda Termasuk?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua
Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi