Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
News Director Aplikasi Caping
Bergabung sejak: 10 Agu 2022

Penulis alumni Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang. Sejak kuliah sudah jadi wartawan, mantan korlap Padang ekspres, mantan Pemred Padang TV, mantan redpel tabloid Nyata, mantan staf ahli sekjen DPD RI dan kini news director aplikasi Caping. Lahir di Jakarta dan sekarang berdomisili di kota yang sama.

Viral: Meranumkan Konstruksi Berpikir

Baca di App
Lihat Foto
PIXABAY/ NUGROHO DWI HARTAWAN
Ilustrasi.
Editor: Sandro Gatra

TIAP orang punya kepala dan tiapnya mengkonstruksi satu kasus dalam kepalanya itu. Dan ia mencocoklogikan peristiwa tersebut dengan kemerdekaannya dalam berpikir.

Contoh kasus adalah peristiwa polisi tembak polisi. Kemudian kisah Camat di Payakumbuh yang viral. Tanpa ingin menggali lebih jauh, seseorang asik dengan pikirannya sendiri dan celakanya, salah.

Banyak orang sudah out of the box dan berubah menjadi ahli. Anehnya ketika pikirannya tersingkir atau berbeda dari sesuatu yang viral, ia mengubah sikapnya dengan cepat. Mengikuti. Namanya follower, mengekor. Ia korban isi kepalanya sendiri. Ia kemudian hanyut.

Jadi, kemerdekaannya berpikir berubah sesuai arus utama, ia tidak kokoh dalam pendirian, karena dari awal sudah tergesa-gesa.

Persis postingan di medsos, apa isi komentar pertama, maka itu yang diikutinya. Ia kehilangan dirinya sendiri.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Misal yang terbaru ibu PC bermasker lebar, istri jenderal yang bermasalah, tampil di dekat gerbang Mako Brimob. Ibu itu dianggap bukan yang bersangkutan alias diperankan orang lain.

Ini karena wajahnya tidak sesuai dengan wajah di medsos, itu bukan dia. Padahal, kita tidak tahu, wajah yang sebenarnya. Inilah ikut-ikutan berikutnya.

Kasus lain, Bu Camat di Payakumbuh. Sama saja, kemerdekaan berpikir, simpang-siur. Sesekali memihak dia, ketika lain memihak MUI dan wali kota. Hanyut-hanyut tak menentu saja.

Konstruksi berpikir hanyut itu akan membesar dalam wadah. Wadah itu: medsos dan WAG. Di wadah itulah akhirnya masing-masing mencurahkan pendapatnya.

Banyak yang senang jika konstruksi pikirnya disukai dan sebaliknya. Tak suka dia lalu cabut dari grup. Atau sumringah jika banyak like.

Orang punya gaya dan minat sama kumpul di komunitas yang sama pula. Acap pula mereka terjebak dalam teori konspirasi yang dibuat sendiri.

Pokoknya ini terjadi karena naga sembilan, misalnya. Dia tak tahu pula apa itu naga sembilan.

Di sana akan ketahuan apakah konstruksi pikiran kita benar atau banyak salahnya. Jadi bisa dideteksi bagaimana selera orang dan selera sendiri dalam membaca hal-hal yang sedang dibicarakan.

Secara naluri, tiap kita ingin menjadi orang yang paling hebat. Tapi, jangan dipaksakan.

Jika dilihat kasus pembunuhan polisi oleh polisi, maka berbagai pendapat muncul, media arus utama telah tampil kembali mengambil kerjanya dengan nyata.

Kasus jagal di rumah jenderal ini mengajak kita agar membentuk konstruksi pikiran dengan benar, bukan tebak-tebakan. Jika tidak, maka akan membuka teori konspirasi yang masing-masing kita membangun sendiri, dan menghakimi pelaku yang entah siapa.

Kasus pembunuhan paling heboh di Indonesia, setelah kopi sianida ini, bisa dijadikan bahan untuk belajar mengkonstruksikan pikiran.

Karena ini bulan kemerdekaan, maka marilah kita dewasa berpikir dan mengkonstruksikan sebuah peristiwa dengan sikap merdeka, bukan bak mobil putus rem. Jangan cepat-cepat, tertegunlah sebentar.

Pikirlah dulu. Bukankah pikir itu pelita hati. Merdeka berpikir tak sama dengan berbuat serampangan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tag
Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi