Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Profil "Sir" Azyumardi Azra, Ketua Dewan Pers yang Dapat Gelar Kehormatan dari Ratu Elizabeth II

Baca di App
Lihat Foto
KOMPAS IMAGES / KRISTIANTO PURNOMO(KRISTIANTO PURNOMO)
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra memberikan siraman rohani pada perayaan syukuran dan peluncuran buku HUT Ke-50 Harian Kompas di Bentara Budaya Jakarta, Minggu (28/6/2015).
|
Editor: Rizal Setyo Nugroho

KOMPAS.com - Ketua Dewan Pers Azyumardi Azra meninggal dunia di Malaysia pada hari ini, Minggu (18/9/2022).

Informasi duka ini disampaikan oleh sejumlah alumnus UIN Jakarta.

"Innalillahi Wainnailaihi Rojiu, semoga Prof Azra husnul khotimah. Aamiin YRA. Confirm saya sudah kontak ibu Azra, benar," bunyi pesan tersebut.

Sebelumnya, Azyumardi Azra sempat mengalami serangan jantung di pesawat saat terbang dari Jakarta menuju Malaysia.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ia pun mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Serdang, Selangor, Malaysia.

Berikut profil dan rekam jejak Azyumardi Azra semasa hidupnya.

Baca juga: Azyumardi Azra Wafat di Malaysia, Berikut Ini Profilnya

Profil

Dilansir dari situs resmi UIN Banten, berikut profil singkat mengenai Azyumardi Azra.

Azyumardi adalah anak ketiga dari enam bersaudara. Ia sekaligus anak laki-laki pertama dari pasangan Azikar dan Ramlah.

Semasa kecil, Azyumardi dibesarkan oleh orangtua yang sadar pentingnya pendidikan.

Meski kondisi keluarganya sulit, ayahnya berkemuan keras agar anak-anaknya bisa mengenyam bangku sekolah.

Sang ayah bercita-cita kelak semua anaknya bisa sekolah, dengan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan.

Profesi yang dijalani ayahnya yakni sebagai tukang kayu, pedagang kopra, dan cengkeh. Dari gaji ibunya mengajar sebagai guru agama, Azyumardi mendapat kesempatan belajar.

Perkenalan Azyumardi dengan dunia pendidikan berawal dari kata-kata yang terpampang di badan bus dan di belakang truk, ia juga belajar membaca dari judul-judul berita pada robekan koran bekas dan majalah bungkusan.

Ayahnya pun setia menemani Azyumardi saat ia baru belajar mengeja kata di badan bus yang setiap hari melintas di depan rumahnya.

Baca juga: Azyumardi Azra dan Gelar Sir Pertama untuk Orang Indonesia dari Kerajaan Inggris

Riwayat pendidikan

Pada tahun 1963, Azyumardi mengenyam bangku Sekolah Dasar di SD Negeri 01 Lubuk Alung.

Ia berangkat sekolah dengan berjalanan kaki, karena jarak rumah ke sekolah hanya ditempuh selama 10 menit saja.

Karena sudah pandai membaca, Azyumardi mudah untuk mempelajari hal-hal baru di sekolah.

Ia pun keranjingan meminjam buku di perpustakaan sekolah dan membawanya pulang untuk dibaca di rumah.

Buku kesukaan Azyumardi adalah "Salah Asuhan" karya Abdoel Moeis, "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk" karya Hamka, dan "Sekali Tepuk Tujuh Nyawa" karya Taguan Marjo.

Meski sebenarnya buku-buku tersebut bukan ditujukan untuk dibaca anak seusianya, namun cerita di dalamnya membuat kesadaran sosial muncul di dalam diri Azyumardi.

Sekolah menengah pertama

Pada 1969, Azyumardi melanjutkan pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Padang.

Di jenjang pendidikan ini, Azyumardi cukup cekatan, terutama di pelarajan Matematika. Karena kemahirannya di bidang pelaharan itu, Azyumardi mendapat gelar "Pak Karmiyus".

Pak Karmiyus adalah guru Aljabar dan Ilmu Ukur (sekarang Matematika). Jika pak Karmiyus tidak hadir, maka teman-teman Azyumardi meminta bantuan kepada dirinya untuk menjelaskan mata pelajaran itu di depan kelas.

Pada 1975, Azyumardi mentas dari pendidikan sekolah menengahnya di PGAN. Ia pun melanjutkan pendidikannya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Hal ini didasarkaan pada pertimbangan, bahwa di kota metropolitan itu adalah tempat kosmopolit, dan kondusif untuk menghirup tradisi intelektual.

Kuliah

Semasa kuliah, Azyumardi pernah mengorganisasi kawan-kawan mahasiswa untuk melakukan demo terhadap pemerintahan Soeharto dalam sidang umum MPR tahun 1978.

Azyumardi menjadi Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Ciputat pada 1981-1982. Ia pun lulus kulih pada 1982.

Lancar dalam pendidikan, Azyumardi melanjutkan studi ke jenjang magister dengan meraih beasiswa S2 Fullbright di Universitas Colombia, New York, AS, dengan jurusan Sejarah.

Program magister itu ia rampungkan hanya dalam kurun waktu 2 tahun saja, dengan gelar MA, pada Departemen Bahasa-Bahasa dan Kebudayaan Timur Tengah (1988).

Pada 1989, Azyumardi mendapat gelar MA-nya yang kedua pada Universitas yang sama dalam bidang Sejarah melalui program Colombia University President Fellowship. Ditambah gelar M.phill (1999) dalam bidang Sejarah.

Akhirnya, dari jurusan Sejarah ini, Azyumardi memperoleh gelar Ph.D dan mengiikuti program post doctoral di Universitas Oxford selama satu tahun (1995-1996).

Rekam jejak karier

Ada sejumlah kiprah atau rekam jejak menarik yang dilakoni Azyumardi Azra semasa hidupnya.

Panji Masyarakat (1978-1986)

Awal mula Azyumardi bergabung dalam majalah Panji Masyarakat karena ajakan dari kawannya, Fachri Ali.

Di sini lah Azyumardi banyak membaca dan mengamati, guna mengembangkan kemampuan menulisnya.

Tak lama, Azyumardi pun menjadi wartawan Panji Masyarakat bersama Komaruddin Hidayat dan Iqbal Abdurauf Saimima.

Di Panji Masyarakat atau disingkat Panjimas, Azyumardi kebagian menyiapkan laporan terkait isu aktual, baik nasional maupun internasional.

Berkat Panjimas inilah ia dapat masuk ke lingkungan jurnalistik lebih luas, termasuk berhubungan dengan narasumber berita, dan terlatih melakukan wawancara.

LRKN LIPI (1982-1983)

Selanjutnya, Azyumardi menempuh karir di Lembaga Riset Kebudayaan Nasional (LRKN) di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 1982 sampai 1983.

Ia masuk ke LRKN LIPI ini juga karena ajakan dari kawannya, Herman Hidayat, yang bekerja di LRKN LIPI.

Di birokrasi LIPI pun tidak terlalu ketat, sehingga Azyumardi masih bisa bekerja sebagai wartawan di Panjimas.

Akan tetapi, karena ada kekurangsesuaian pandangan dengan direktur LRKN, Dr. Alfian, Azyumardi memutuskan untuk keluar dari LRKN LIPI pada tahun 1983.

Dosen Filsafat di IAIN Jakarta (1985-1986)

Pada 1985, Azyumardi ditarik menjadi tenaga pengajar di Fakultas Tarbiyah, IAIN Jakarta.

Ia diminta mengajar mata kuliah Filsafat Barat. Penugasan mengajar mata kuliah ini tidak lain karena ia dianggap membaca banyak buku dan pemikiran filsafat, sejak pemikiran filsafat klasik, filsafat modern, strukturalisme, esksistensialisme, sampai pragmatisme.

Pada 1986, Azyumardi terpilih sebagai dosen muda IAIN Jakarta untuk melanjutkan pendidikan Pascasarjana di AS.

Rektor IAIN/UIN Jakarta (1998-2006)

Pada tahun 1995, Azyumardi kembali ke Indonesia dan langsung aktif sebagai dosen IAIN Jakarta setelah selesai studi doctoral di Universitas Oxford. ia pindah dari Fakultas Tarbiyah untuk mengajar Sejarah ke Fakultas Adab sesuai bidang ilmunya.

Rektor IAIN kala itu, Quraish Shihab meminta Azyumardi mengisi jabatan struktural kampus, sebagai pembantu Rektor I yang bertanggung jawab dalam bidang akademik.

Pada Februari 1997, Azyumardi resmi diangkat menjadi Pembantu Rektor I.

Setahun kemudian, Azyumardi dilantik menjadi Rektor IAIN Jakarta. Sejak saat itu, ia membuka Pendidikan Matematika pada Fakultas Tarbiyah, Jurusan Ekonomi dan Perbankan Islam pada Fakultas Syariah, hingga diresmikannya Fakultas Psikologi dan Dirasat Islamiyah yang bekerja sama dengan Al- Azhar, Mesir, untuk memperkuat program agama.

Republika (2004-2005)

Pada 2004, Azyumardi aktif menulis artikel kolom setiap Kamis untuk pembaca harian umum Republika.

Dari awal 2004 sampai 2005, Azyumardi telah menulis sekitar 50 artikel kolom dan dimuat dalam rubrik "Resonansi". Tulisan-tulisan itulah yang kemudian dihimpun dan diterbitkan dengan judul Dari Harvard hingga Mekkah.

Direktur Pascasarjana UIN Jakarta (2007-2015)

Pada 2007, Azyumardi menjadi pimpinan Program Pascasarjana.

Ketua Dewan Pers

Dikutip dari Kompas.com, Minggu (18/5/2022), Azyumardi Azra menjabat sebagai Ketua Dewan Pers periode 2022-2025.

Azyumardi mengatakan, banyak karyawan pers yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan tidak mendapat perlindungan.

Selain itu, Azyumardi menyebut, banyak jurnalis yang kerap dipaksa pensiun dini tanpa mendapat jaminan kesejahteraan.

Sementara itu, Azyumardi menjelaskan pihaknya akan mengupayakan kenaikan upah bagi jurnalis. Dia ingin menyadarkan perusahaan media untuk membuat karyawan pers lebih sejahtera.

Prestasi 

Pada 28 September 2010, Azyumardi menerima penghargaan "the Commander of the British Empire (CBE Award)" yang diberikan oleh Ratu Elizabeth II.

Penghargaan ini diberikan karena Azyumardi dinilai berjasa dan memberikan kontribusi penting dalam membangun hubungan baik antar agama di tingkat internasional, khususnya antara Indonesia dengan Inggris.

Selain itu, Azyumardi mendapat penghargaan Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture (SML) dari LIPI pada 23 Agustus 2017.

Kemudian, penghargaan "The Order of the Rising Sun: Gold and Silver Star" dari pemerintah Jepang pada 7 November 2017, yang disematkan langsung oleh Kaisar Akihito di Istana Imperial Tokyo.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi