Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Penyebab Hujan Lebat Belakangan? Ini Penjelasan BMKG

Baca di App
Lihat Foto
pixabay.com
Ilustrasi terjadinya banjir dikala hujan lebat
|
Editor: Sari Hardiyanto

KOMPAS.com - Sejumlah wilayah di Indonesia diguyur hujan lebat dalam sepekan terakhir. Akibatnya, banjir dan longsor dilaporkan di banyak daerah.

Di Jakarta Selatan, misalnya, hujan lebat mengakibatkan banjir di beberapa titik, termasuk di Pondok Labu, Cilandak.

Banjir yang melanda daerah tersebut bahkan membuat tembok Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 19 Jakarta roboh hingga menewaskan 3 siswa dan melukai 3 siswa lainnya.

Sementara di Jalan Raya TB Simatupang, banjir menyebabkan kemacetan lalu lintas.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Selain di Jakarta, banjir juga menggenangi sejumlah wilayah di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Kondisi ini berakibat pada arus lalu lintas di jalur nasional yang sempat macet selama kurang lebih dua jam.

Baca juga: Sederet Fakta Robohnya Tembok MTsN 19 Jakarta


Lantas, apa penyebab hujan lebat belakangan?

Penjelasan BMKG

Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Maming Saepudin mengatakan, hujan lebat belakangan disebabkan oleh peningkatan aktivitas atmosfir.

Di antaranya adalah low pressure yang berdampak pada terbentuknya pola pertemuan dan perlambatan angin, aktifitas gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO).

Selain itu, Kelvin Wave dan Rossby Wave juga secara umum dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan terutama di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.

"Kondisi tersebut yang saat ini menjadi pemicu meningkatnya potensi hujan dan cuaca ekstrem di beberapa wilayah Indonesia," kata Maming kepada Kompas.com, Sabtu (8/10/2022).

Baca juga: Banjir Jakarta, Sistem Drainase dan Pembagian Kewenangan...

Menurutnya, potensi hujan lebat ini perlu diwaspadai di sebagian besar wilayan Indonesia, terutama untuk wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Selain banjir, Maming juga mengingatkan adanya bencana hidrometeorologi lainnya, seperti banjir dan dan rob di wilayah pesisir.

Gelombang tinggi dengan kisaran lebih dari 2,5 meter juga perlu diwaspadai di wilayah perairan Utara Sabang, perairan Barat Sumatera, Samudera Hindia Barat Sumatera, serta Selat Sunda bagian barat dan selatan.

Kemudian perairan selatan Jawa hingga Bali, perairan selatan Lombok hingga Sumba, Samudera Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara, dan Laut Natuna.

Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap kondisi cuaca yang tidak menentu.

Baca juga: Melihat Cara Belanda Mengatasi Banjir...

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Cara Tangani Dokumen agar Tak Rusak Parah karena Banjir

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi