Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kebocoran Gas Metana Tertangkap Satelit GHGSat, dari Mana Asalnya?

Baca di App
Lihat Foto
GHGSat dan ESA.
Pada tanggal 20 September 2022, satelit GHGSat mengamati area putusnya pipa Nordstream, dan melihat perkiraan tingkat emisi metana 79.000 kg per jam ? menjadikannya kebocoran metana terbesar yang pernah terdeteksi oleh GHGSat dari satu titik sumber.
|
Editor: Rizal Setyo Nugroho

KOMPAS.com- Kebocoran gas metana yang terjadi di atas Laut Baltik di lepas pantai Swedia tertangkap satelit luar angkasa GHGSat.

Gas metana atau CH4 adalah gas tanpa bau, tanpa warna, dan bersifat mudah terbakar. Ia terdiri dari satu atom karbon dan empat atom hidrogen.

"Apa yang diamati satelit kami adalah emisi signifikan yang berasal dari salah satu dari empat kebocoran," kata Stephane Germain, pendiri dan CEO GHGSat, dikutip dari Daily Mail Senin (10/10/2022). 

Gas metana itu tercatat telah bocor dengan kecepatan 174.000 pon (79.000 kg) per jam atau setara dengan lebih dari 2 juta pon (0,9 juta kg) batu bara yang dibakar dalam satu jam pada pekan lalu.

Kebocoran tunggal ini merupakan emisi terbesar dari satu sumber yang pernah terdeteksi oleh GHGSat.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lantas dari mana asalnya kebocoran gas metana tersebut?

Baca juga: Apa yang Terjadi jika Gas Air Mata Kedaluwarsa?

Diduga berasal dari sabotase Rusia

Otoritas Swedia dan Denmark kebocoran gas metana yang tertangkap satelit luar angkasa itu berasal dari pipa Nord Stream 2, salah satu dari dua pipa yang menghubungkan Rusia ke Jerman.

Mereka mengatakan ada empat kebocoran dari pipa Nord Stream itu.

Sebelumnya, ratusan ton metana keluar dari pipa Nord Stream 1 dan 2 yang rusak minggu lalu.

Kerusakan pipa itu diyakini diakibatkan oleh sabotase yang mungkin dilakukan oleh Rusia sebagai bagian dari balas dendam Vladimir Putin terhadap Barat atas sanksi yang dijatuhkan atas invasi Rusia ke Ukraina.

Dilansir dari Space.com, GHGSat mengatakan bahwa sebanyak 174.000 pon (79.000 kg) metana keluar setiap jam dari salah satu lubang di pipa Nord Stream 2 pada pekan lalu pada (30/9/2022).

Emisi itu setara dengan lebih dari 2 juta pon (0,9 juta kg) batu bara yang dibakar dalam satu jam.

 

Sementara itu, Satelit Sentinel-5P Eropa, bagian dari konstelasi Copernicus pemantau Bumi, juga mencoba mengamati ruang lingkup kebocoran tersebut.

Mereka mengatakan sekitar 300.000 ton metana diyakini telah terperangkap di jaringan pipa yang tidak aktif pada saat kebocoran.

Menurut Badan Energi Denmark, kebocoran sempat berhenti pada Minggu (2/10/2022) dan sudah diperbaiki.

Dilaporkan jaringan pipa tersebut tidak mengangkut gas alam. Namun, pipa itu masih memiliki cadangan metana yang mengalir.

Baca juga: Penjelasan Dokter soal Apakah Mata Merah Korban Kanjuruhan akibat Gas Air Mata Bisa Sembuh?

Pipa Nord Stream 1 dan 2

Nord Stream 1 dan Nord Stream 2 adalah dua jalur pipa yang menghubungkan Rusia dan Jerman. Pipa ini milik Rusia.

Pipa tersebut tidak mengangkut gas pada saat beberapa ledakan mulai terjadi. Hanya saja, pipa itu mengandung metana, komponen utama gas alam bertekanan yang dimuntahkan.

Kebocoran gas metana itu menghasilkan aliran gelembung yang luas di permukaan laut.

Awalnya gelembung itu menyembur ke permukaan air dan meningkatkan kekhawatiran di kalangan pecinta lingkungan tentang dampak berbahaya pada iklim.

Baca juga: Gas Air Mata di Stadion Kanjuruhan Kedaluwarsa, Apa Dampaknya?

Apa itu metana?

Menurut India Today, metana adalah komponen utama gas alam dan merupakan gas rumah kaca paling kuat kedua setelah karbon dioksida.

Gas metana merupakan penyumbang utama pemanasan planet ini. Gas ini bisa memperburuk pemanasan global dan efek perubahan iklim jika dilepaskan ke atmosfer.

Gas metana bersifat sangat mudah terbakar sehingga ketika kontak dengan udara dapat meningkatkan risiko ledakan. Hal ini juga secara langsung mengurangi kualitas udara.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Sumber: Daily Mail
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi