Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perbedaan Solo, Surakarta, Kartasura, dan Solo Baru, Ini Sejarahnya

Baca di App
Lihat Foto
KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA
Keraton Surakarta Hadiningrat yang ada di Kota Surakarta, Jawa Tengah
|
Editor: Rizal Setyo Nugroho

KOMPAS.com – Solo, Surakarta, Kartasura, dan Solo Baru apa bedanya? 

Pertanyaan ini mungkin terlintas saat Anda sedang berada di Kota Bengawan. Sebab Anda akan mendengar dan melihat tulisan nama wilayah tersebut. 

Hal itu seperti yang diunggah oleh akun TikTok @uinsolostory.

“Cah2 Solo Raya Tulung jelasno Bedone Solo ro Surakarta I opo? (Warga Solo raya tolong jelaskan apa bedanya Solo dan Surakarrta)” tulis akun tersebut.

“Kalau Solo Baru apa bedanya mas?” tanya salah satu akun.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hingga Senin (17/10/2022) unggahan tersebut telah dilihat lebih dari 429.000 kali, dan disukai lebih dari 18.000 pengguna.

Lantas, sebenarnya apa perbedaan Solo, Surakarta, Kartasura, dan Solo Baru serta sejarahnya?

Baca juga: Sejarah dan Isi Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755, Siasat Licik VOC Memecah Mataram

Perbedaan Solo, Surakarta, dan Kartasura

Kota Surakarta kerap disebut dengan nama Kota Solo oleh sebagian masyarakat.

Bahkan, ada sejumlah masyarakat yang mengira bahwa dua kota tersebut merupakan wilayah yang berbeda.

Dikutip dari laman Pemerintah Kota Surakarta, Solo merupakan penyebutan nama populer atau nama branding untuk Kota Surakarta.

Sedangkan Surakarta merupakan nama resmi administratif untuk Kota Solo. Dengan demikian Solo maupun Surakarta memiliki arti yang sama.

Meski demikian, masing-masing nama ini memiliki sejarahnya. Nama Solo berasal dari nama sebuah desa “Sala”.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Warto mengatakan, Sala dulunya merupakan desa perdikan yang dipimpin oleh seorang kiai bernama Ki Gede Sala atau disebut dengan Kiai Sala.

Saat zaman penjajahan, orang-orang Belanda kesulitan untuk melafalkan Sala dengan huruf “a” sehingga kemudian mengubahnya menjadi huruf “o” sehingga pelafalannya menjadi Solo dan bukan Sala.

“Dengan huruf ‘a’. Ingat huruf Jawa ‘o’ dan ‘a’ punya perbedaan yang sangat penting. Kalau Sala ditulis dengan huruf Jawa nglegena atau telanjang. Kalau di-taling-tarung jadi ‘o’ makanya So–lo gitu. Alasan Sala jadi Solo karena orang Belanda susah ngomong Sala,” kata Prof. Warto dilansir dari laman resmi UNS, pada Minggu (17/10/2021).

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Geger Pecinan 9 Oktober 1740, Pembunuhan Massal Etnis Tionghoa di Batavia oleh VOC, 10.000 Orang Tewas

 

Sejarah Desa Solo

Desa Solo awalnya merupakan desa perdikan dan kemudian berubah menjadi pusat kerajaan dengan berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat.

Pemilihan Desa Solo sebagai lokasi baru keraton didasarkan pada pertimbangan Tumenggung Hanggawangsa, Tumenggung Mangkuyudha, dan J.A.B. van Hohendorff usai Keraton Kartasura hancur akibat Geger Pecinan.

Dalam sejarahnya, Geger Pecinan terjadi akibat pemberontakan pada tahun 1740 yang berhasil menghancurkan Keraton Kartasura.

Walaupun Keraton Kartasura berhasil direbut kembali, namun Pakubuwana II yang kala itu masih berkuasa menganggap lokasi keraton sudah kehilangan 'kesuciannya' dan berinisiatif memindahkannya ke lokasi yang baru.

Pada akhirnya Pakubuwono II memerintahkan pemindahan keraton dari Kartasura ke Desa Sala.

Pertimbangannya, karena posisi Desa Sala dekat dengan Sungai Bengawan Solo. Akhirnya, terpilihlah Desa Solo sebagai lokasi baru Keraton Surakarta.

“Itu nama yang punya sejarah panjang. Jadi, Kota Solo yang sekarang kita kenal itu kan awalnya dari sebuah perpindahan kerajaan dari Kartosuro ke Surakarta tahun 1745,” katanya menjelaskan.

Baca juga: Perjanjian Jatisari 15 Februari 1755, Awal Mula Beda Budaya Surakarta dan Yogyakarta

Surakarta

Seiring perjalanan waktu, kemudian Surakarta yang merupakan nama dari sebuah keraton ditetapkan menjadi nama resmi kota administratif.

Sehingga untuk nama resmi, penulisan yang benar adalah Kota Surakarta. Sedangkan, nama Solo atau Sala adalah penyebutan populer atau yang umum di masyarakat.

“Perbedaan istilah nggak mengubah substansi, ya tetap sama,” jelas Prof. Warto.

Dikutip dari Kompas.com, 30 Mei 2019, nama Surakarta dipilih oleh pihak keraton, karena merupakan akar kata dari Kartasura.

Nama Kartasura sebelumnya merupakan harapan dari Raja Mataram terdahulu agar bisa beribukota di Karta yang berarti tenteram.

Sedangkan Surakarta Hadiningrat artinya harapan akan terciptanya negara yang tata tenteram karta raharja (teratur, tertib, aman, dan damai).

Serta diharapkan kerajaan ini memiliki tekad dan keberanian menghadapi segala rintangan yang menghadang untuk mewujudkan dunia yang indah (Hadiningrat).

Kata Karta dimunculkan kembali untuk wujud permohonan berkah para leluhur terdahulu yang mendirikan kerajaan Mataram.

Baca juga: Sejarah Perjanjian Salatiga 17 Maret 1757: Tanah Mataram Terbagi Jadi 3 Kekuasaan

 

Lalu, apa bedanya Solo dengan Solo Baru?

Jika Solo dan Surakarta merupakan satu wilayah yang sama, berbeda halnya dengan Solo Baru.

Solo Baru merupakan nama dari sebuah daerah yang terletak di Kabupaten Sukoharjo.

Menurut website Kota Surakarta, awalnya nama yang dipilih untuk wilayah tersebut bukanlah Solo Baru, tetapi Grogol Indah, Grogol Permai, Sukoharjo Indah dan Sukoharjo Permai.

Namun kemudian ketika diputuskan, dipilihlah nama Solo Baru untuk wilayah tersebut.

Solo Baru juga dikenal sebagai kawasan bisnis dan pemukiman modern Kabupaten Sukoharjo.

Hal itu karena di Solo Baru banyak terdapat ruko-ruko dan pusat perbelanjaan seperti mall dan tempat hiburan.

Solo Baru sendiri masuk di wilayah Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Tempat ini berbatasan langsung dengan Kota Solo.

Ditandai dengan adanya gapura perbatasan antara Kota Solo dengan Solo Baru yang terletak di dekat anak Sungai Bengawan Solo, yang juga menjadi batas alam antara Kota Surakarta dan Kabupaten Sukoharjo.

Selain itu juga terdapat patung Ir. Soekarno yang menjadi patokan perbatasan antara Kota Solo dan Solo Baru. Patung yang terletak di daerah Tanjung Anom itu sendiri sudah menjadi landmark perbatasan dari dua wilayah ini.

Nah, itu lah penjelasan perbedaan antara Solo, Surakarta, Kartasura, dan Solo Baru. Kapan berkunjung ke Solo atau Surakarta?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi