Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penjelasan KNKT soal Rem Tangan Bus di Guci Aktif, tapi Bus Bisa Jalan

Baca di App
Lihat Foto
Kompas.com/ Tresno Setiadi
Tim KNKT melakukan pengecekaan sistem pengereman bus yang kecelakaan di Guci, Tegal, saat diparkir di area Terminal Dukuhsalam, Tegal, Selasa (9/5/2023).
|
Editor: Rizal Setyo Nugroho

KOMPAS.com - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memeriksa bus yang kecelakaan di Objek Wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada Minggu (7/5/2023).

Dari hasil pemeriksaan KNKT, diketahui bahwa rem tangan atau rem parkir bus dalam kondisi aktif dan mengunci. Hal ini dikuatkan dengan ban bagian belakang yang mengunci saat bangkai bus dievakuasi.

Akan tetapi, dalam video detik-detik kecelakaan yang beredar, tampak bus masih bergerak sebelum akhirnya jatuh ke sungai.

Lantas, mengapa roda bus masih bisa berjalan meski rem parkir aktif?

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Baca juga: Hasil Investigasi KNKT Soal Kecelakaan Bus di Guci, Rem Parkir Dinyatakan Aktif

Penjelasan KNKT

Senior Investigator KNKT Ahmad Wildan mengatakan, kemampuan pengereman rem parkir memiliki keterbatasan.

Sebab mekanisme rem tangan menggunakan spring yang memiliki ambang batas maksimal di jalan dengan grade maksimal 18 persen dan muatan sesuai daya angkutnya.

Ambang batas tersebut sesuai dengan aturan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

"Jika hal itu terlampaui, maka berisiko rem tangan tidak mampu menahan tromol untuk berputar," kata Wildan kepada Kompas.com, Kamis (11/5/2023).

Meski demikian, rem tangan masih tetapi bekerja ketika tromol mulai berputar. Namun, fungsinya adalah melambatkan roda, sama seperti fungsi retarder atau engine brake.

Dengan kondisi itu, maka ia menyebut roda bus di Guci masih berjalan dengan kecepatan rendah, seperti yang ada dalam video.

Baca juga: Rem Bus yang Masuk Sungai di Guci Tegal dalam Kondisi Baik, Ini Status Sopirnya

Kondisi ban masih terkunci

Menurut Wildan, kondisi ban yang masih terkunci ketika bus dievakuasi disebabkan tidak adanya dorongan energi.

Kemampuan rem tangan maksimal karena tidak ada gaya yang memutar roda. Tenaga manusia tidak akan mampu memutarnya. 

"Saat penarikan kendaraan juga petugas derek menyatakan tidak bisa menarik karena roda terkunci, dan harus melepas hand brake," kata dia. 

 

Rem tangan mudah dilepas, asal...

Pihak kepolisian sebelumnya telah membantah bahwa penyebab kecelakaan tersebut karena rem tangan yang dimainkan anak kecil.

Namun, Wildan menyebut rem tangan bus memang mudah dilepas asal mengetahui caranya.

"Asal dia tahu caranya. Tenaga untuk menarik juga tidak begitu besar. Jika tidak paham, akan terasa susah dan keras," jelas dia.

Bagi para sopir yang ingin memarkirkan bus, Wildan menyarankan agar mencari tempat parkir yang datar.

Apabila tidak ada jalan datar, maka hendaknya mengaktifkan hand brake, mengganjal roda, dan mematikan mesin.

"Lebih aman, gigi dimasukkan agar ada penahan dari transmisi sebagai jaga-jaga," saran dia. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua

Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi