Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ramai soal Ikan Transparan Disuntik Zat Pewarna, Pakar: Bisa Picu Kematian

Baca di App
Lihat Foto
X
Tangkapan layar video menunjukkan ikan disuntik pewarna.
|
Editor: Inten Esti Pratiwi

KOMPAS.com - Sebuah video yang menunjukkan ikan disuntik zat pewarna, viral di media sosial.

Video tersebut diunggah oleh akun X (sebelumnya Twitter) @alch**** pada Jumat (29/11/2024).

Dalam video tampak puluhan ikan kecil berwarna merah muda transparan disuntik zat pewarna oleh seseorang agar tampak lebih menarik berwarna-warni.

Ikan yang belum disuntik, ditempatkan di jaring ikan. Setelah itu, ikan satu persatu disuntik pewarna.

Setelah disuntik, ikan tersebut akan diletakkan di tempat berbeda dan warnanya terlihat lebih cerah.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

“Njir, selama ini gw kira warna-warni ikannya alami, ternyata hasil suntik,” bunyi keterangan dalam unggahan.

Hingga Sabtu (30/11/2024), unggahan video tersebut sudah dilihat lebih dari 2,4 juta kali.

Baca juga: Hidup di Air, Apakah Ikan Juga Merasakan Haus dan Minum?

Bahaya ikan disuntik zat pewarna

Peneliti ikan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Haryono mengatakan, terdapat beragam bahaya yang mengancam ikan jika disuntik zat pewarna.

“Salah satunya bisa menyebabkan stres pada ikan,” ucap Haryono kepada Kompas.com, Sabtu.

Efek dari stres ini membuat nafsu makan ikan terganggu yang berakibat sakit, pertumbuhan terhambat, bahkan berujung kematian.

Terganggunya nafsu makan pada ikan bakal memengaruhi proses metabolisme di tubuh ikan, sehingga tidak berjalan dengan baik.

Selain itu, jika kebutuhan asupan makanan berkurang akibat ikan stres, maka akan mengakibatkan ikan lebih rentan terjangkit penyakit.

“Bila penyuntikan tidak higienis, dapat menyebabkan infeksi yang berujung pada kematian,” kata Haryono.

Baca juga: Ramai soal Ikan Lele yang Memiliki Mulut Sumbing, Apa Penyebabnya?

Di satu sisi, penyuntikan seperti itu hanya akan memengaruhi area kecil saja. Sehingga, terkadang perlu beberapa kali penyuntikan yang akhirnya menyebabkan munculnya luka pada ikan.

Terpisah, peneliti ikan di BRIN, Fahmi mengatakan bahwa penyuntikan warna pada ikan tidak bisa dilakukan sembarangan.

Di dunia riset, pewarnaan pada ikan sebenarnya dilakukan sebagai bentuk penandaan dalam tujuan penelitian, sehingga perlu perhitungan matang.

Bahan kimia di pewarna yang disuntikkan sembarangan juga bisa mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan pada ikan.

Selain itu, suntikan yang terlalu dalam, berpotensi terkena organ-orang penting di dalam ikan. Pada gilirannya, organ ini tidak akan berfungsi dengan baik.

“Apalagi untuk ikan yang berukuran kecil seperti di video itu,” ujar Fahmi kepada Kompas.com, Sabtu.

Baca juga: Video Viral Ikan Lele Berbadan Tipis, Ini Penjelasan Peneliti BRIN

Hanya bertahan sebentar

Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) Slamet Raharjo mengungkapkan bahwa zat warna yang disuntikkan ke ikan hanya akan bertahan sebentar saja.

“Zat pewarna yang digunakan secara alami akan dimetabolisme oleh tubuh (ikan), dan dalam beberapa bulan warna akan memudar dan akhirnya kembali ke warna semula yang transparan,” tutur Slamet kepada Kompas.com, Sabtu.

Sementara, ikan yang ada di dalam video tersebut adalah salah satu jenis glassfish. Menurutnya, pewarnaan ikan seperti itu semakin marak dalam beberapa tahun terakhir ini.

Glassfish memiliki tubuh yang transparan. Sehingga untuk membuat ikan ini lebih menarik, kemudian dilakukan pewarnaan dengan cara penyuntikan.

“Berbagai warna (yang digunakan) merah, kuning, hijau, biru, dan lain-lain, bahkan warna fluorescens yang berpendar dalam gelap,” kata Slamet.

Ia menambahkan, tujuan pewarnaan tersebut untuk mendapatkan variasi warna yang beragam. Sehingga ikan akan lebih laku sebagai ikan hias.

Baca juga: Ramai soal Ikan yang Disebut Bisa Menjelajahi Padang Pasir, Apa Itu?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua
Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi