KOMPAS.com - Seorang ibu sering dianggap lebih menyayangi anak laki-laki dibanding anak perempuannya.
Anggapan ini muncul karena ibu disebut lebih sering meminta bantuan kepada anak perempuannya.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di lingkungan tertentu saja, tetapi juga menjadi topik yang cukup sering diperbincangkan di berbagai budaya dan latar belakang sosial.
Sebaliknya, seorang ayah justru dikenal bersikap lebih keras kepada anak laki-laki, sedangkan anak perempuan cenderung mendapat perlakuan lembut dan protektif.
Lalu, seorang ibu sering dianggap lebih menyayangi anak laki-lakinya?
Baca juga: Mengapa Lebih Mudah Marah ke Keluarga Dibanding ke Teman? Ternyata Ini Penyebabnya
Alasan ibu lebih sayang ke anak laki-laki
Dosen Psikologi Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Ratna Yunita Setiani Subardjo mengatakan, ada beberapa faktor di balik ibu yang diklaim lebih sayang kepada anak laki-laki dibandingkan perempuan.
Menurutnya, banyak budaya yang membuat laki-laki dianggap sebagai penerus keluarga dan berperan penting dalam masyarakat.
"Karena itu, ibu mungkin lebih menyayangi anak laki-laki karena merasa anak laki-laki akan menjadi penerus keluarga dan memiliki masa depan yang lebih cerah," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (15/4/2025).
Ratna menilai, seorang ibu juga bisa merasa lebih dekat dengan anak laki-laki karena memiliki pengalaman dan kepentingan yang sama.
Dia mencontohkan, ibu mungkin lebih suka bermain sepak bola, memakai celana dan kaos casual, atau melakukan aktivitas lain yang disukai anak laki-laki.
Baca juga: Dari Kasus Gugatan Siswi di Sidoarjo, Apa Hukuman Ayah yang Tak Menafkahi Anak?
Umumnya, seorang ibu juga memiliki sifat ingin melindungi anak-anaknya, terutama saat membela anak laki-laki dari perilaku keras sang ayah.
Ratna menyebutkan, ibu mungkin tampak bersikap keras terhadap anak perempuan karena memiliki harapan yang lebih tinggi.
"Sehingga, mereka (ibu) lebih sering menyuruh atau meminta anak perempuan melakukan sesuatu. Sementara, anak laki-laki mungkin diberi lebih banyak kebebasan dan tidak diharapkan melakukan hal yang sama," imbuhnya.
Meski begitu, Ratna menekankan, setiap keluarga memiliki dinamika hubungan ibu dan anak yang unik, serta tidak memiliki pola yang sama.
"Oleh karena itu, penting untuk memahami konteks dan kebutuhan setiap anak dalam keluarga," tegas dia.
Baca juga: Benarkah No Screen Time Bikin Anak Tidak Mudah Tantrum? Ini Kata Ahli
Ayah lebih keras ke anak laki-laki
Dia menduga, tindakan keras ayah muncul karena pengaruh budaya yang mengharapkan seorang laki-laki bersikap kuat, tangguh, dan mandiri.
"Karena itu, ayah mungkin lebih keras ke anak laki-laki untuk membantu mereka menjadi lebih kuat dan mandiri," jelas dia.
Di sisi lain, Ratna menilai, seorang ayah mungkin bersikap keras untuk mengajarkan anak laki-lakinya dalam menghadapi tantangan hidup.
Baca juga: Anak Berprestasi Cenderung Mudah Burnout, Bagaimana Orangtua Harus Mengatasinya?
Sebaliknya, seorang ayah mungkin bersikap lebih lembut dan protektif terhadap anak perempuan yang dirasa lebih rentan dan perlu perlindungan.
"Karena itu, mereka (ayah) lebih berhati-hati dalam menghadapi anak perempuan dan tidak ingin mereka terluka," kata Ratna.
Meski ada anak perempuan yang merasa sang ibu lebih menyayangi anak laki-lakinya, Ratna mengatakan, anak sebenarnya memiliki proses identifikasi dengan orangtua sesuai jenis kelaminnya.
Proses identifikasi itu membuat anak laki-laki mungkin lebih dekat dengan ayah, sedangkan anak perempuan lebih dekat dengan ibu. Anak-anak juga belajar dari perilaku orangtua dan lingkungan sekitar.
"Karena itu, anak laki-laki mungkin belajar menjadi lebih kuat dan tangguh dari ayah, sementara anak perempuan belajar menjadi lebih lembut dan protektif dari ibu," tandasnya.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.