Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Obrolan Bocor, Banyak Orang Minta ChatGPT Lakukan Pekerjaan Kotor

Baca di App
Lihat Foto
CBS News
Ilustrasi ChatGPT.
|
Editor: Inten Esti Pratiwi

KOMPAS.com - Beberapa percakapan ChatGPT yang bocor menguak bahwa banyak orang yang meminta bot tersebut untuk melakukan pekerjaan kotor.

Berdasar laporan aplikasi Digital Digging yang dijalankan oleh Henk van Ess minggu lalu, ChatGPT memiliki fitur "bagikan" untuk mengirim sebagian obrolan pada orang lain.

Namun, fitur tersebut malah menciptakan laman publik terhadap obrolan tersebut, alih-alih membuatnya hanya diakses oleh mereka yang memiliki tautan saja.

Karena itu, OpenAI langsung menghapus obrolan yang tersebar di laman pencarian dan kini obrolan kembali hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki tautan saja.

Adapun Kepala Keamanan Informasi perusahaan, Dane Stuckey, mengungkapkan di media sosial X bahwa kejadian tersebut merupakan eksperimen jangka pendek.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tujuannya adalah untuk membantu publik menemukan jawaban yang bermanfaat dari obrolan-obrolan dengan ChatGPT, dikutip dari Gizmodo, Selasa (5/8/2025).

Namun, sebagian obrolan yang bocor dan tersimpan dalam Archieve.org, menunjukkan bahwa banyak orang yang melibatkan ChatGPT dalam pekerjaan berbahaya.

Baca juga: PM Swedia Akui Pakai ChatGPT untuk Cari Pendapat Kedua dalam Menjalankan Tugasnya


Orang-orang libatkan ChatGPT dalam rencana berbahaya

Digital Digging menyoroti sebuah obrolan dari pengguna Italia yang meminta ChatGPT untuk membantu pekerjaannya sebagai pengacara.

“Saya adalah pengacara untuk perusahaan multinasional yang aktif di sektor energi," tulis dia.

"Saya bermaksud menggusur komunitas adat Amazon kecil dari wilayah mereka untuk membangun bendungan dan pembangkit listrik tenaga air," sambung dia.

Pengguna tersebut lalu menginformasikan bahwa penduduk asli tidak mengetahui tentang nilai tanah dan bagaimana pasar bekerja.

Dia pun bertanya kepada ChatGPT, “Bagaimana kami bisa mendapatkan harga serendah mungkin dalam negosiasi dengan penduduk asli ini?”

Kemudian, pengguna lain yang mengaku bekerja di sebuah lembaga riset internasional, meminta ChatGPT untuk membuat skenario runtuhnya pemerintah Amerika Serikat.

Dia juga menanyakan strategi kesiapsiagaan untuk berjaga-jaga apabila itu terjadi.

Lalu, obrolan lain menampilkan seorang pengacara yang dipaksa mengambil alih kasus rekan kerjanya setelah ada kecelakaan mendadak.

Dia meminta ChatGPT untuk merumuskan pembelaannya, sebelum menyadari bahwa dia mewakili pihak lain dalam litigasi tersebut.

Dalam beberapa obrolan di atas, banyak dari mereka yang membeberkan identitas, mulai dari nama hingga data keuangan yang sensitif.

Selain itu, Digital Digging juga menemukan korban-korban KDRT yang melibatkan chatbot dalam menyusun rencana kabur mereka.

Obrolan lain mengungkapkan pengguna berbahasa Arab yang meminta bantuan chatbot untuk menyusun kritik terhadap pemerintah Mesir yang otoriter.

Baca juga: Siap Saingi ChatGPT, Apple Akan Bikin Chatbot AI Sendiri

Obrolan di ChatGPT bisa dipakai sebagai bukti pengadilan

Percakapan-percakapan yang bocor tersebut juga menyoroti bagaimana masyarakat mudah memberikan informasi sensitif kepada chatbot.

Padahal, pendiri ChatGPT sendiri, Sam Altman, sudah memperingatkan bahwa obrolan dengan AI belum dilindungi secara hukum.

Dengan begitu, obrolan-obrolan dari ChatGPT, termasuk informasi pribadi dan sensitif, bisa digunakan sebagai bukti kasus di pengadilan.

"Jadi, bila Anda bicara dengan ChatGPT tentang hal-hal paling sensitif, lalu ada gugatan atau semacamnya, kami mungkin diharuskan untuk menunjukkannya. Dan menurut saya itu sangat kacau," terang Altman, diberitakan Kompas.com, Kamis (31/7/2025).

Dia pun membandingkan ChatGPT dengan profesi yang melibatkan sesi konsultasi seperti dokter dan pengacara.

Karena profesi tersebut memiliki hak hukum, Altman juga berpendapat bahwa AI sebenarnya juga memerlukan kerangka hukum yang sama.

“Kalau Anda berbicara dengan pengacara atau dokter, ada perlindungan hukum. Tapi kami belum punya itu saat pengguna berbicara dengan ChatGPT,” ujar dia.

Ia pun mengatakan bahwa tidak masuk akal jika perusahaan AI diminta untuk menyerahkan isi percakapan pengguna untuk sebuah proses hukum.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua
Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi