Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Petralona, Tengkorak Berusia 286.000 Tahun yang Bukan Manusia seperti Kita

Baca di App
Lihat Foto
Wikimedia Commons
Arkeolog temukan tengkorak Petralona tertutup stalagmit (Gua Petralona Yunani).
|
Editor: Inten Esti Pratiwi

KOMPAS.com - Sebuah tengkorak berusia 286.000 tahun yang tidak dapat dikategorikan sebagai manusia modern maupun neanderthal atau manusia purba, kembali mengundang rasa penasaran dunia ilmiah.

Menurut laporan Live Science, Sabtu (23/8/2025), fosil yang dikenal sebagai tengkorak Petralona ini pertama kali ditemukan oleh arkeolog menempel di dinding Gua Petralona, Yunani Utara, pada tahun 1960.

Baca juga: Meneliti Stalagmit, Arkeolog Temukan Penyebab Runtuhnya Peradaban Maya 1.000 Tahun Lalu

Uniknya, bagian atas tengkorak itu dilapisi stalagmit kalsit yang tumbuh di atasnya, menandakan bahwa ia telah terkubur di dalam gua selama ratusan ribu tahun.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejak ditemukan, fosil ini memicu perdebatan panjang di kalangan arkeolog.

Para peneliti kesulitan menempatkannya dalam keluarga manusia, sekaligus kebingungan menentukan usia pastinya. Perkiraan sebelumnya berkisar sangat lebar, mulai dari 170.000 hingga 700.000 tahun.

Lalu, seperti apa tengkorak tersebut dan bagaimana para arkeolog menentukan usianya? 

Baca juga: Arkeolog Temukan La Fortuna, Kapal Spanyol yang Meledak di Pesisir Carolina Utara Tahun 1748

Usia fosil terungkap lewat penanggalan seri uranium

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan pada 14 Agustus 2025 di Journal of Human Evolution akhirnya memberi titik terang.

Para peneliti meneliti lapisan kalsit yang menonjol dari tengkorak, lalu menentukan usianya dengan metode ilmiah khusus.

Untuk memperkirakan usia kalsit yang menempel pada tengkorak, para peneliti menggunakan metode penanggalan seri uranium.

Teknik ini bekerja karena kalsit, mineral yang umum terbentuk di dalam gua, mengandung jejak unsur uranium.

Baca juga: Arkeolog Temukan Alat Batu Berusia 1,48 Juta Tahun di Sulawesi, Pertanda Apa?

Seiring waktu, uranium mengalami peluruhan radioaktif dan berubah menjadi torium dengan laju yang tetap.

Dengan menghitung rasio antara uranium dan torium di dalam lapisan kalsit, para ilmuwan dapat memperkirakan kapan mineral itu mulai terbentuk.

Hasil analisis menunjukkan kalsit di tengkorak Petralona berasal dari sekitar 286.000 tahun lalu, dengan keyakinan kuat bahwa usianya setidaknya mencapai 277.000 tahun.

Temuan ini menjadi bukti penting yang menegaskan tengkorak tersebut benar-benar berasal dari Era Pleistosen, sebuah periode kunci dalam evolusi manusia.

Baca juga: Arkeolog Temukan Makam Wanita Muda Kaya Raya yang Terkubur 3.000 Tahun di Iran

Bukan manusia, bukan juga neanderthal

Temuan ini memperkuat hipotesis bahwa pemilik tengkorak Petralona bukanlah manusia modern (Homo sapiens) ataupun neanderthal (Homo neanderthalensis), melainkan bagian dari kelompok berbeda yang dikenal sebagai Homo heidelbergensis.

Artinya, individu ini hidup di Era Pleistosen, berdampingan dengan populasi awal neanderthal di Eropa.

“Fosil Petralona berbeda dari H. sapiens dan neanderthal, dan perkiraan usia baru mendukung persistensi serta koeksistensi populasi ini di samping garis keturunan neanderthal,” kata Chris Stringer, paleoantropolog dari Natural History Museum London, dikutip dari Live Science.

Berdasarkan ukuran dan kekokohan tengkorak, peneliti meyakini fosil ini adalah milik seorang laki-laki dewasa muda.

Baca juga: Sejak Kapan Manusia Mulai Makan Telur? Arkeolog Ungkap Jejaknya

Gigi pada tengkorak menunjukkan tanda keausan sedang, mengindikasikan usia pemiliknya saat masih hidup.

Meski catatan penemuan tengkorak itu kurang lengkap, bukti mineral kalsit yang melapisinya semakin menguatkan keaslian proses alami yang mengawetkannya selama ratusan ribu tahun.

“Menentukan usia tengkorak Petralona sangatlah penting karena fosil ini memiliki posisi kunci dalam evolusi manusia Eropa,” tulis para peneliti, sebagaimana dikutip dari Ladbible, Jumat (22/8/2025).

Meski begitu, para ilmuwan menegaskan sulit mengaitkan tengkorak ini dengan satu nenek moyang spesifik manusia.

Namun, hasil penelitian terbaru tetap dianggap sebagai langkah penting untuk memahami jalur evolusi manusia, terutama di kawasan Eropa.

Dengan data yang lebih jelas, tengkorak misterius ini kini bukan sekadar anomali arkeologi, melainkan sebuah potongan penting dalam teka-teki panjang sejarah manusia.

Baca juga: Arkeolog Temukan Makam Penuh Harta Karun Milik Raja Pertama Kota Maya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua
Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi