Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mohamed Bouazizi, Penjual Sayur yang Protes Ketidakadilan Negara, Menyulut Revolusi Arab Spring

Baca di App
Lihat Foto
AFP Photo/Fethi Belaid
Masyarakat Tunisia berkumpul di Lapangan Mohamed Bouazizi di kota Sidi Bouzid. Lapangan itu dinamakan dari pedagang buah yang melakukan aksi bakar diri dan memicu Arab Spring pada akhir Desember 2011.
|
Editor: Ahmad Naufal Dzulfaroh

KOMPAS.com - Sejarah mencatat, Musim Semi Arab (Arab Spring) menjadi salah satu revolusi paling besar abad ini.

Revolusi Arab Spring bertujuan untuk menggulingkan rezim-rezim di negara Timur Tengah yang otoriter dan berkuasa sejak puluhan tahun.

Seperti api, Revolusi Arab Spring merembet dengan cepat dari Tunisia ke negara-negara Arab lainnya, termasuk Mesir.

Sejumlah presiden otoriter yang telah berkuasa selama puluhan tahun pun berhasil digulingkan dalam revolusi ini.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gelombang revolusi bersejarah ini ternyata bermula dari aksi protes Mohamed Bouazizi, seorang penjual sayur di Tunisia yang mengkritik ketidakadilan di negaranya.

Baca juga: OKI dan Negara Arab Ramai-ramai Kutuk Menteri Israel yang Beribadah di Masjid Al Aqsa

Mohamed Bouazizi, "api" Revolusi Arab Spring

Dikutip dari Aljazeera (17/12/2020), Mohamed adalah seorang pemuda 26 tahun yang sehari-hari membawa gerobaknya ke pasar untuk berjualan sayur dan buah.

Ia memang menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya meninggal saat Mohamed berusia 3 tahun akibat gagal jantung.

"Setiap hari, ia membawa gerobaknya ke pasar grosir pada tengah malam untuk membeli buah dan sayur, yang akan ia jual kembali dari pagi hingga sore hari," kenang sepupunya, Ali Bouazizi.

Namun, pada 17 Desember 2010, polisi menyita timbangan Mohamed, karena tak memiliki izin sebagai pedagang kaki lima.

Baca juga: Pangeran Arab Saudi Al Waleed Bin Khaled, Meninggal Dunia Usai 20 Tahun Koma

Mohamed pun mengadu kepada gubernur di gedung pemerintahan provinsi di Sidi Bouzid, tetapi gubernur menolak untuk menemuinya. 

Sebagai bentuk keputusasaan dan protes, Mohamed membakar diri di jalan.

Seminggu sebelum kejadian itu, Ali sempat mendengar cerita bahwa polisi kerap melecehkannya.

"Karena ia bekerja secara ilegal, mereka meminta suap. Ia harus memberi mereka uang, menyerahkan semua hasil jerih payahnya hari itu, atau mereka akan menyita timbangan atau barang dagangannya—buah dan sayur yang ia jual," ujarnya.

Baca juga: Sejarah Patung Liberty, Ikon Kota New York yang Hampir Jadi Milik Mesir

Memicu penggulingan pemerintah

Mohamed mengalami koma dan dirawat di rumah sakit. Namun, ia tak menyadari bahwa tindakannya telah memberikan dampak besar.

Video yang merekam askinya menjadi viral dan memicu protes terhadap biaya hidup dan Presiden Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali.

Setelah video beredar luas, saluran-saluran berita mulai melaporkan kejadian itu malam harinya.

"Pemerintah panik ketika berita itu sampai ke media internasional," jelas Ali yang juga seorang anggota aktif partai oposisi, Partai Demokrat Progresif.

"Ben Ali mengendalikan semua media Tunisia dan takut akan kebebasan berekspresi dan kebebasan media," sambungnya.

Mohamed Bouazizi meninggal dunia pada tanggal 4 Januari 2011 akibat luka bakar di sekujur tubuhnya.

Sepuluh hari kemudian, rezim Presiden Ben Ali yang telah berkuasa selama 23 tahun akhirnya runtuh. Ia menjadi pemimpin negara Arab pertama yang disingkirkan oleh protes rakyat.

Namun, apa yang terjadi di Tunisia kemudian merembet ke negara-negara Arab lain.

Baca juga: Ramai soal Surat KPID Jakarta Imbau Media Tidak Siarkan Demo Provokatif, Ini Kata Pemprov

Gejolak revolusi di negara Arab

Pada 25 Januari 2011, ribuan warga Mesir berunjuk rasa di Kairo, Alexandria, dan kota-kota lain, menuntut pengunduran diri Presiden Hosni Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun.

Ketika lebih dari satu juta orang turun ke jalan pada 11 Februari, Mubarak mengundurkan diri dan menyerahkan kendali kepada militer.

Di Bahrain, para pengunjuk rasa mengambil alih bundaran Pearl Square di ibu kota yang mereka namai "Tahrir Square", dan menuntut monarki konstitusional di antara reformasi lainnya pada 15 Februari.

Namun kamp mereka diserbu oleh polisi anti huru hara tiga hari kemudian, menewaskan tiga orang dan melukai banyak orang.

Baca juga: Tempuh Perjalanan Sekitar 7,8 Km, Ratusan Ojol Temani Perjalanan Terakhir Affan Kurniawan

Pada hari yang sama ketika protes Bahrain dimulai, polisi Libya menggunakan kekerasan untuk membubarkan aksi duduk menentang pemerintah di kota kedua, Benghazi.

Aksi ini kemudian berubah menjadi perang saudara dengan intervansi Barat untuk menjatuhkan Presiden Muammar Gaddafi.

Pada 20 Oktober 2011, Gaddafi ditangkap dan dibunuh di daerah asalnya, Sirte.

Sementara itu, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh yang telah memerintah Yaman selama 33 tahun, menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya Abdrabuh Mansur Hadi, setelah setahun protes pada 27 Februari 2012.

Gelombang revolusi ini juga merembet ke Suriah, tetapi gagal menggulingkan Presiden Bashar Al Assad.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua
Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi