KOMPAS.com - Jika kamu pernah bertanya-tanya, apa nama kota yang merupakan salah satu kota tertua di dunia dan pada tahun 2023 ditetapkan sebagai situs warisan dunia, maka jawabannya adalah Jericho.
Lebih dari sekadar kota bersejarah, Jericho adalah kota tertua di dunia yang telah dihuni manusia sejak sekitar 10.500 SM dan terus menyimpan bukti kehidupan dari masa ke masa.
Untuk lebih mengenal tentang kota tertua di dunia ini, mari kita simak penjelasan di bawah ini!
Baca juga: Kota Tertua di Australia, Begini Awal Mula Munculnya Sydney
Diperkirakan berdiri sejak 10.500 SM
Dilansir dari UNESCO World Heritage Convention, terletak di Lembah Yordan, Tepi Barat Palestina, Jericho dikenal melalui situs arkeologinya yang disebut Tell es-Sultan.
Situs ini adalah sebuah gundukan (tell) berbentuk oval yang menyimpan lebih dari 11.000 tahun lapisan sejarah.
Ditemukan bukti pemukiman permanen yang luar biasa tuanya, termasuk mata air alami bernama ‘Ain es-Sultan, yang telah menjadi sumber kehidupan penting bagi penduduk kota selama ribuan tahun.
Dilansir dari Encyclopedia Britannica, menurut penelitian arkeologis, pemukiman pertama di Jericho berasal dari zaman Mesolitikum sekitar tahun 9000 SM.
Penduduk awalnya adalah pemburu dan pengumpul yang perlahan-lahan membentuk komunitas menetap.
Sekitar 8000 SM, mereka telah mengorganisasi masyarakatnya cukup maju sehingga mampu membangun tembok batu besar dan sebuah menara setinggi 8,5 meter, yang menjadi salah satu konstruksi monumental paling awal di dunia.
Baca juga: Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan
Evolusi sosial dan awal peradaban manusia di Jericho
Tak hanya bangunan, Jericho adalah kota tertua di dunia yang juga mencerminkan transformasi besar dalam kehidupan manusia.
Kota ini menjadi saksi pergeseran masyarakat dari gaya hidup nomaden menjadi masyarakat agraris yang menetap.
Biji-bijian seperti gandum dan jelai yang dibudidayakan telah ditemukan di lokasi ini, menandakan bahwa pertanian sudah dimulai di sana.
Para peneliti juga menyimpulkan bahwa sistem irigasi awal kemungkinan telah diterapkan, karena penduduk membutuhkan lahan subur dalam jumlah besar untuk bercocok tanam.
Menariknya, penduduk Jericho pada masa Neolitikum awal mengalami pergantian.
Dilansir dari Encyclopedia Britannica, sekitar tahun 7000 SM, kelompok baru datang dari kawasan lain, kemungkinan dari Suriah Utara, membawa budaya baru namun masih dalam tahap Neolitikum dan belum mengenal tembikar.
Baca juga: Mengenal Masa Praaksara, Empat Zaman Sebelum Menusia Mengenal Tulisan
Penggalian arkeologi dan kontroversi tembok
Ketertarikan dunia pada Jericho tidak pernah surut.
Dilansir dari Ancient Origins, Charles Warren pertama kali menggali situs ini pada tahun 1868 sebagai bagian dari Palestine Exploration Fund, para arkeolog terus meneliti kota ini.
Warren percaya bahwa Tell es-Sultan adalah situs asli Jericho kuno karena keberadaan mata air 'Ain es-Sultan, yang juga dikenal dalam kisah Alkitab sebagai lokasi penyembuhan Nabi Elisa.
Di tahun 1950-an, arkeolog terkenal Kathleen Kenyon menggali dan menemukan sisa-sisa 17 lapisan tembok dari Zaman Perunggu, termasuk tembok-tembok besar yang sempat diduga sebagai bagian dari kisah runtuhnya Tembok Yerikho dalam kitab Yosua.
Namun, Kenyon menyimpulkan bahwa sebagian besar tembok tersebut berasal dari zaman yang jauh lebih awal dan tidak sesuai dengan narasi Alkitab, karena reruntuhan itu berasal dari Zaman Perunggu Awal, jauh sebelum kisah penyerbuan bangsa Israel.
Kenyon juga menemukan struktur batu berbentuk menara yang berasal dari sekitar 8000 SM. Struktur ini memperkuat status Jericho sebagai permukiman permanen paling awal dengan teknologi arsitektur monumental.
Baca juga: Zaman Logam: Pembagian Zaman, Teknik dan Peralatan yang Dihasilkan
Penetapan sebagai situs warisan dunia oleh unesco
Pada tahun 2023, UNESCO resmi mengakui pentingnya Jericho dengan menetapkannya sebagai Situs Warisan Dunia.
Jericho/Tell es-Sultan dianggap dapat memberikan kesaksian luar biasa terhadap proses Neolitisasi di Timur Dekat, termasuk perubahan dalam organisasi sosial, kehidupan komunal, serta praktik keagamaan dan ekonomi.
Kota ini juga menjadi contoh luar biasa dari transisi masyarakat pemburu-pengumpul menjadi masyarakat urban awal, dengan bukti arsitektur monumental dan struktur kota yang berkembang pada milenium ke-9 hingga ke-8 SM.
Stratigrafi yang mendalam di tell tersebut mencatat 29 fase pendudukan berbeda dan memperlihatkan bagaimana masyarakat Jericho hidup, berkembang, dan beradaptasi selama lebih dari 10 milenium.
Baca juga: Noken, Tas Tradisional khas Papua yang diakui UNESCO
Sehingga, jika ditanya apa nama kota yang merupakan salah satu kota tertua di dunia dan pada tahun 2023 ditetapkan sebagai situs warisan dunia? Jawabannya jelas: Jericho. Lebih dari sekadar tempat kuno, kota ini adalah monumen hidup dari kelahiran peradaban.
Dari masyarakat Neolitikum tanpa tembikar hingga negara-kota Kanaan dengan sistem pertahanan canggih, Jericho mencerminkan ketahanan dan kecerdasan umat manusia sejak awal sejarah.
Jericho adalah kota tertua di dunia, dan dengan statusnya sebagai warisan dunia, ia kini tidak hanya dimiliki oleh Palestina atau Timur Tengah, tapi oleh seluruh umat manusia yang ingin memahami dari mana kita berasal.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.