KOMPAS.com - Toco seorang pria asal Jepang rela menghabiskan uang sebesar 2 juta yen atau sekitar Rp 213 juta demi mengubah dirinya menjadi seekor anjing.
Diberitakan Kompas.com, Senin (31/7/2022), Toco memakai kostum anjing khusus jenis collie dan bertindak selayaknya anjing sungguhan.
Dengan kostum anjing berukuran besar, ia akan bermain di halaman, berguling-guling, bermain lempar tangkap bersama manusia, bahkan bermain bersama anjing asli.
"Apakah kamu ingat mimpimu sejak kecil? Kamu ingin menjadi pahlawan atau penyihir. Saya ingat menulis di buku kelulusan sekolah dasar bahwa saya ingin menjadi seekor anjing dan berjalan keluar," jelas dia.
Tindakan Toco yang memakai kostum anjing ini merupakan bagian dari fenomena furry. Orang melakukannya karena memiliki ketertarikan kepada hewan berbulu.
Baca juga: Apakah Seekor Anjing Bisa Menangis karena Emosi?
Lalu, apa itu fenomena furry?
Baca juga: Mengenal Apa Itu Fetish dan Bagaimana Bisa Muncul?
Fenomena furry
Dilansir dari WebMD, furry merupakan fenomena yang dilakukan orang dengan ketertarikan terhadap hewan antropomorfik atau hewan dengan kualitas seperti manusia.
Orang yang melakukan furry akan membuat karakter binatang mereka sebagai avatar atau representasi dalam komunitas. Karakter ini dikenal dengan sebutan furpersona.
Furpersona dapat diambil dari berbagai binatang. Contohnya, anjing, kucing, reptil, burung, binatang buas, atau bahkan makhluk mitos.
Para pelaku furry menunjukkan fursona mereka melalui seni, tulisan, identitas online, maupun pembuatan fursuit. Ini merupakan kostum rumit yang menggambarkan karakter hewan pilihan mereka.
Mereka akan memakai kostum fursuit lengkap, termasuk telinga, ekor, atau sarung tangan binatang.
Baca juga: Mengenal Toco, Pria Jepang yang Habiskan Rp 213 Juta demi Jadi Anjing
Dipengaruhi orientasi seksual
Dikutip dari situs Perpustakaan Obat Nasional AS (NLM), beberapa pelaku furry melakukan hobinya karena termotivasi secara seksual.
Mereka memiliki fantasi mengubah diri menjadi individu yang sama dengan karakter yang dianggap menarik secara seksual.
Orang tersebut akan mengalami ketertarikan dan gairah seksual saat berfantasi menjadi hewan. Karena itu, mereka jadi sering mengubah penampilan dan perilakunya menjadi lebih mirip hewan.
Baca juga: Beruang Madu di China Disebut Manusia yang Pakai Kostum, Ini Alasannya
Tidak selalu negatif
Meski terlihat aneh atau bahkan negatif, profesor studi pembangunan sosial di University of Waterloo Ontario, Kanada, Sharon Roberts memastikan furry sebagai komunitas yang aman, ramah, dan tidak menghakimi.
Roberts sendiri merupakan anggota pendiri Proyek Penelitian Antropomorfik Internasional (IARP) yang dibentuk untuk mempelajari fenomena ini.
Menurut dia, penelitian justru membuktikan orang-orang yang melakukan furry bisa menciptakan lingkungan positif yang bermanfaat.
"Fursona adalah representasi diri seperti avatar yang dibuat oleh furry. Mereka biasanya dijiwai dengan atribut positif dan sering kali merupakan versi diri yang diidealkan," jelas Sharon Roberts, dilansir dari ABC News.
Roberts juga mengungkapkan, identitas buatan dalam fenomena furry bermanfaat bagi pelakunya. Mereka menjadi lebih percaya diri.
Baca juga: Bolehkah Kucing Mengonsumsi Makanan Anjing? Simak Penjelasan Berikut
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.