Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banyak Turis Keracunan Metanol di Laos, 3 Orang Meninggal Dunia

Baca di App
Lihat Foto
Pexels/ Mahrael Boutrous
Ilustrasi minum alkohol. Turis di Laos mengalami keracunan metanol massal hingga meninggal dunia akibat minum alkohol yang tercemar metanol
|
Editor: Inten Esti Pratiwi

KOMPAS.com - Dua turis asal Australia diduga mengalami keracunan metanol setelah mengonsumsi minuman tercemar di Laos.

Diberitakan Independent, Selasa (19/11/2024), kedua gadis remaja itu sedang liburan di Laos saat mengonsumsi minuman alkohol yang diberi campuran metanol berbahaya.

Kejadian ini membuat keduanya mendapat perawatan di rumah sakit Thailand. Mereka harus menjalani operasi dan menggunakan alat life support agar tetap bertahan hidup.

Sementara itu, dikutip dari News.com.au, Kamis (21/11/2024), keracunan metanol massal di Laos telah menyebabkan dua turis Denmark dan seorang warga AS meninggal.

Baca juga: Kenapa Minum Alkohol Bisa Bikin Mabuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Keracunan metanol dari minuman

Dilansir dari SBS News, Rabu (20/11/2024), metanol adalah cairan tidak berwarna dan mudah terbakar yang sering digunakan untuk menghasilkan bahan bakar, insektisida, pengelupas cat, antibeku, plastik, bensin, dan pelarut.

Bahan kimia tersebut seharusnya tidak dikonsumsi dan beracun bagi manusia. Meminum hanya 25 hingga 90 ml metanol bisa berakibat fatal.

Namun, metanol kadang dipakai sebagai pengganti etanol dalam minuman beralkohol di bar-bar. Padahal, metanol bisa menyebabkan keracunan parah hingga kematian.

Hal ini dapat terjadi di negara-negara dengan pajak etanol yang dianggap terlalu tinggi untuk menjual alkohol dengan harga lebih murah, seperti di Asia Tenggara.

Keracunan metanol mungkin tidak menunjukkan gejala hingga 12 jam setelah konsumsi. Gejalanya dapat berupa nyeri perut, muntah, kejang, pusing, dan perubahan penglihatan.

Orang yang mengalami keracunan metanol harus segera mendapatkan penanganan medis. Jika terlambat, keracunan metanol dapat menyebabkan kebutaan, gagal ginjal dan organ, serta asidosis parah.

Pengobatannya dengan obat-obatan yang berfungsi memblokir alkohol dehidrogenase atau enzim yang bertanggung jawab memecah metanol.

Penderita keracunan metanol harus menjalani pengobatan untuk segera mengeluarkan zat tersebut dari tubuh sebelum terurai dan berakibat fatal.

Tanpa perawatan, penderita akan mengalami koma. Angka kematian akibat keracunan metanol berkisar 20-40 persen.

Baca juga: Dampak Negatif Mengkonsumsi Minuman Keras bagi Kesehatan

Melindungi diri dari keracunan metanol

Diberitakan ABC News, Selasa, kasus keracunan minuman bermetanol dilaporkan terjadi di Laos, Thailand, Kamboja, Indonesia, Kosta Rika, Turkiye, Yunani, Spanyol, dan Meksiko.

Minuman beralkohol yang asli (terbuat dari campuran etanol) dan yang tercemar metanol sangat sulit dibedakan. Kedua senyawa tersebut tidak berwarna dan memiliki bau yang mirip.

Tidak ada cara untuk membedakan metanol dari etanol tanpa peralatan khusus. Kadar metanol pada minuman juga sulit diketahui sehingga berisiko overdosis aman.

Minuman yang terkontaminasi metanol umumnya berupa alkohol buatan rumah, maupun minuman berbahan dasar alkohol seperti koktail.

Untuk menghindari keracunan metanol, para turis perlu mempertimbangkan risiko minum minuman keras dan minuman lain yang terbuat dari alkohol.

Para turis sebaiknya selalu membeli alkohol dalam botol yang diproduksi secara komersial dari tempat atau toko berlisensi dan punya reputasi baik.

Car terbaik untuk tetap aman adalah dengan menghindari koktail dan minuman campuran yang disiapkan oleh bartender saat bepergian.

Para turis juga diimbau untuk tidak tergoda dengan tawaran minuman keras murah buatan rumahan.

Tak hanya minuman alkohol, para turis pun perlu waspada terhadap setiap minuman yang bisa saja mengandung metanol.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua
Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi