Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Opsen 2025, Harga Motor Baru Berpotensi Naik hingga Rp 2 Juta

Baca di App
Lihat Foto
canva.com
ilustrasi sepeda motor.
|
Editor: Retia Kartika Dewi

KOMPAS.com - Pemerintah resmi memberlakukan pungutan pajak tambahan atau opsen atas Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) yang besarnya mencapai 66 persen pada Januari 2025.

Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI), Sigit Kumala mengatakan, hal itu berpotensi menimbulkan kenaikan harga sepeda motor baru sebesar Rp 800.000 hingga Rp 2 juta, tergantung jenis sepeda motor barunya.

Kenaikan ini setara dengan kenaikan harga on the road sepeda motor baru sebesar 5-7 persen, atau dua hingga tiga kali lebih besar dari inflasi.

Adapun angka tersebut diperoleh dari perhitungan asosiasi.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Baca juga: Apa Itu Opsen Pajak Kendaraan Bermotor? Ini Ketentuan dan Cara Hitungnya

Menurut Sigit, kenaikan ini tentu akan semakin membebankan konsumen.

“Konsumen sepeda motor sangat sensitif terhadap kenaikan harga. Opsen pajak bisa menaikkan harga motor di segmen entry level lebih dari Rp 800.000. Segmen midhigh bisa naik hingga Rp 2 juta," ujar Sigit dalam situs resmi AISI pada Jumat (13/12/2024).

"Inilah yang akan menekan permintaan padahal sepeda motor ini alat transportasi produktif yang paling dibutuhkan masyarakat di tengah daya beli yang sedang melemah,” lanjut dia.

Berkurangnya pembeli

Tak hanya itu, diberlakukannya opsen pada 2025, juga berdampak pada berkurangnya pembeli kendaraan bermotor sebanyak 20 persen.

Sebab, harga motor baru diprediksi bakal naik pada Januari 2025.

Hal itu berdasarkan simulasi dan kalkulasi dari pelaku industri motor.

Baca juga: Penjelasan Bapenda Jateng soal Penambahan Opsen Pajak Kendaraan, Adakah Kenaikan Tarif?

Seperti diketahui, kendaraan roda dua sebagai sarana transportasi yang cukup banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2022, kepemilikan sepeda motor mencapai 125 juta unit dari 148 juta unit kendaraan yang ada di Indonesia.

Faktanya, AISI juga mencatat pada periode Januari hingga November tahun ini, pasar sepeda motor domestik membukukan angka penjualan sebesar 5,9 juta unit.

Ini artinya, pembelian motor tumbuh tipis 2,06 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

“Namun karena faktor opsen pajak ini, kami khawatir pasar justru akan tertekan hingga 20 persen tahun depan,” kata Sigit.

Menurut Sigit, penurunan  permintaan dari pasar akan memaksa produsen sepeda motor memangkas produksinya sehingga ini akan berdampak pada permintaan mereka ke industri suku cadang yang berada di rantai bisnisnya. 

Jika dampaknya sangat besar, tidak menutup kemungkinan akan timbul PHK di industri.

Dampak bergulir ini juga sangat potensial terjadi di rantai bisnis industri yang ada di sisi hilir, seperti di sisi penjualan maupun layanan purna jual serta juga industri pembiayaan dan asuransi.

“Jika ini semua diberlakukan dan dipertahankan dalam jangka panjang, kami khawatir daya saing industri kita melemah. Ini kurang positif untuk iklim investasi,” tegasnya.

Baca juga: Alasan Pemerintah Terapkan Opsen Pajak Kendaraan Bermotor Mulai 5 Januari 2025

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua
Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi