Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perseteruan Iran–Australia, Mulai dari Tuduhan Aksi Antisemitik hingga Pengusiran Dubes

Baca di App
Lihat Foto
AFP/HILARY WARDHAUGH
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese berbicara dalam konferensi pers di Canberra pada 11 Agustus 2025. Australia akan mengakui negara Palestina di Majelis Umum PBB pada bulan September.
|
Editor: Intan Maharani

KOMPAS.com - Perseteruan Iran–Australia memasuki babak baru setelah Canberra menuduh Garda Revolusi Iran (IRGC) mendalangi serangan antisemitik di Sydney dan Melbourne.

Pemerintah Australia langsung mengusir Duta Besar Iran Ahmad Sadeghi. Keputusan ini dinilai langkah paling keras dalam hubungan diplomasi kedua negara sejak Perang Dunia II.

Baca juga: Langka, Pejabat Iran Tuduh Rusia Bocorkan Lokasi Pertahanan Udara ke Israel

Tuduhan ini juga memperkuat laporan lama soal intimidasi terhadap diaspora Iran di Australia, yang sebelumnya diabaikan meski sudah ada ratusan aduan ke Senat pada 2023.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dan sejauh mana perkembangan hubungan Iran dengan Australia?

Australia usir dubes Iran usai dapat laporan badan intelijen

Badan intelijen ASIO menyebut memiliki bukti bahwa IRGC berada di balik pembakaran sinagoga Adass Israel di Melbourne dan restoran kosher Lewis Continental Kitchen di Sydney. 

Serangan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, tetapi disebut mengancam kohesi sosial di masyarakat.

"Ini adalah tindakan agresi berbahaya yang diatur negara asing di tanah Australia. Mereka berusaha merusak persatuan masyarakat," tegas PM Australia Anthony Albanese, dikutip dari Reuters, Selasa (26/08/2025).

Sebagai respons, Menlu Penny Wong memberi waktu tujuh hari kepada Dubes Ahmad Sadeghi dan tiga pejabat Iran untuk meninggalkan Canberra. 

Australia juga menutup sementara kedutaannya di Tehran dan memindahkan diplomat ke negara ketiga untuk alasan keamanan.

Baca juga: Ketegangan Iran-AS Meningkat, Perang Nuklir Bisa Picu Krisis Pangan

Intimidasi diaspora Iran yang diabaikan sejak 2023

Berdasarkan laporan lama dari The Guardian, Rabu (27/08/2025), mengungkap ratusan warga Iran-Australia sudah melapor sejak 2022 bahwa mereka diintimidasi, diikuti, hingga keluarga mereka di Iran diancam.

Akademisi Kylie Moore-Gilbert, yang pernah ditahan 804 hari oleh IRGC, mengungkap bagaimana kehidupan orang-orang Iran-Australia.

"Banyak orang Iran-Australia hidup dengan rasa takut karena diawasi dan diikuti," ujarnya. 

Setelah kematian Mahsa Amini pada 2022, pengawasan diaspora makin intens. 

Senat Australia menerima lebih dari 1.100 laporan, sebagian anonim karena takut balasan ke keluarga di Iran. Meski demikian, pemerintah tidak segera memasukkan IRGC ke daftar teroris, padahal rekomendasi sudah disampaikan.

Baca juga: Terbukti Tak Bersalah Setelah Dipenjara 20 Tahun, Ibu di Australia Tolak Kompensasi Rp 21 Miliar

Iran membantah, komunitas Yahudi dan oposisi bereaksi

Kementerian Luar Negeri Iran membantah tuduhan Australia bahwa mereka menyebarkan sikap antisemitik.

"Keputusan Canberra bermotif politik, antisemitisme tidak ada dalam budaya Iran,” kata juru bicara Iran.

Teheran juga mengancam akan mengambil langkah balasan atas pengusiran duta besarnya.

Komunitas Yahudi Australia merasa resah. Presiden ECAJ, Daniel Aghian bahkan mengatakan adanya kerugian jutaan dollar karena serangan itu.

"Serangan ini menghancurkan rumah ibadah, menimbulkan kerugian jutaan dollar, dan menakutkan komunitas kami,” ujar Daniel.

Oposisi turut menekan pemerintah. Pemimpin Partai Liberal Sussan Ley menuding Albanese lambat bertindak sejak 2023. 

Andrew Hastie, mantan ketua komite intelijen, mengaku sempat mendorong blacklist IRGC, tetapi tidak ada konsensus waktu itu.

Baca juga: Pengacara Australia Minta Maaf Setelah Serahkan Dokumen Palsu Hasil AI dalam Kasus Pembunuhan

Titik terendah hubungan diplomatik kedua negara

Kini, Australia sedang menyiapkan aturan baru untuk resmi menetapkan Garda Revolusi Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris, mengikuti langkah Amerika Serikat dan Kanada. 

Perubahan hukum diperlukan karena IRGC merupakan bagian dari negara Iran, sehingga tidak bisa langsung diproskripsi dengan undang-undang lama.

Direktur ASIO Mike Burgess juga mengingatkan bahwa IRGC menggunakan geng kriminal sebagai perantara serangan. Pola serupa, menurutnya, juga ditemukan oleh intelijen Inggris dan Swedia sejak 2022.

Pengusiran Dubes Ahmad Sadeghi dianggap sebagai titik terendah hubungan diplomatik Iran–Australia dalam puluhan tahun terakhir. 

Komunitas diaspora menyambut baik langkah itu, menyebutnya awal dari perlindungan yang lebih serius terhadap mereka.

Perseteruan Iran–Australia kini berada di titik paling panas. Dengan rencana Canberra memasukkan IRGC ke daftar teroris dan ancaman balasan dari Teheran, ketegangan diplomasi diperkirakan akan terus berlanjut.

Baca juga: Perang Hanya Jeda, Iran Peringatkan Serangan Israel Dapat Terjadi Kapan Pun

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag
Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua
Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi