Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tinggi Gunung Batu Naik Perlahan akibat Aktivitas Sesar Lembang, Ini Penjelasan BRIN

Baca di App
Lihat Foto
KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA
Ilustrasi Gunung. Gunung Batu di Lembang naik perlahan-lahan akibat Sesar Lembang.
|
Editor: Inten Esti Pratiwi

KOMPAS.com - Beredar narasi di Instagram bahwa Gunung Batu di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, mengalami peningkatan ketinggian.

"Tinggi gunung batu Lembang tiba-tiba naik ratusan meter, ahli peringatkan ancaman gempa besar di Bandung," tulis akun @i*****g*********hi pada Rabu (27/8/2025).

Dalam keterangan unggahan, diungkapkan bahwa peningkatan tinggi gunung batu antara 120 hingga 450 meter itu disebabkan oleh aktivitas Sesar Lembang.

Diketahui, Gunung Batu berada tepat di jalur Sesar Lembang, yaitu sebuah patahan aktif yang membentang sepanjang 29 kilometer dari Padalarang hingga Jatinangor.

Adapun, peringatan gempa bumi memicu kekhawatiran lantaran jarak gunung ke pusat Kota Bandung sekitar 15 -20 kilometer.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lantas, benarkah informasi tersebut?

Baca juga: Pulih dari Gagal Jantung, Kokichi Akuzawa Jadi Pendaki Tertua yang Sentuh Puncak Gunung Fuji


Penjelasan BRIN

Peneliti Gempa Bumi dari Badan Riset Inovasi Nasional atau BRIN, Mudrik Rahmawan Daryono meluruskan bahwa peningkatan ketinggian Gunung Batu terjadi secara perlahan, bukan tiba-tiba.

Mudrik menjelaskan bahwa gempa merupakan gerakan dari patahan atau sesar aktif.

Dalam satu peristiwa gempa, Gunung Batu yang berada di situ bergeser antara 40 cm hingga 2 meter.

Sementara itu, gempa bumi memiliki interval atau "periode ulang tahun" setiap ratusan tahun sekali.

"Interval di sini sekitar 670 tahun misalnya, setiap (terjadi gempa) itu dia (gunung) bergerak 40 cm vertikal, lalu periode selanjutnya juga. Jadi total dari keseluruhannya itu sekitar 90 meter vertikal," papar Mudrik saat dihubungi Kompas.com, Kamis (28/8/2025).

Dengan begitu, peningkatan ketinggian gunung tersebut memakan waktu sekitar 205 ribu tahun dan tidak secara tiba-tiba.

Ia lalu melanjutkan, bahwa bukti kenaikan 40 cm sisi selatan terhadap sisi utara ini didapat melalui hasil uji paritan paleoseismologi.

Selain bergeser secara vertikal, Mudrik mengatakan bahwa gunung juga bergeser ke kiri sekitar 120 sampai 460 meter, yang terlihat dari morfologi.

"Yang paling jelas itu yang 120 meter. Jadi yang 120 meter kita menemukan buktinya di lembah sungai Cimeta," tambah dia.

"Jadi, 120 meter itu bukan karena satu event gempa tetapi berkali-kali gempa yang sedikit demi sedikit menggeser keseluruhan sampai 120 meter," tegas dia.

Baca juga: Mengungkap Sejarah Terbentuknya Sesar Lembang

Apa dampak pergeseran gunung?

Mudrik lalu menyampaikan dampak lanjutan dari pergeseran gunung ini, yaitu terjadinya gempa dengan karakter sama dengan Sesar Lembang.

Dengan begitu, gempa yang berpotensi terjadi sebesar magnitudo 6,6 hingga 7 dalam siklus 170 sampai 670 tahun.

"Kita sudah masuk dalam range ulang tahun, yaitu antara 170-670 tahun, kita sudah terakhir event gempa bumi abad ke 15," ujar Mudrik.

"Abad 15 sampai sekarang itu sudah 560 tahun. Dalam artian, kita sudah masuk fase pelepasan energi, (gempa) bisa terjadi besok atau 100 tahun yang akan datang," pungkas dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman
Tag

Artikel Terkait

Artikel berhasil disimpan
Lihat
Artikel berhasil dihapus dari list yang disimpan
Oke
Artikel tersimpan di list yang disukai
Lihat
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Artikel dihapus dari list yang disukai
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Play

Lihat Semua
Terpopuler
Komentar
Tulis komentar Anda...
Terkini
Lihat Semua
Jelajahi